Etika Sains

Mahluk Campuran Manusia-Monyet Pertama Diciptakan di Tiongkok

Diketuai tim peneliti asal Spanyol dan Amerika Serikat, proyek chimera ini bertujuan menyediakan alternatif donor organ untuk manusia.
JP
Diterjemahkan oleh Jade Poa
07 Agustus 2019, 5:07am
Mahluk Campuran Manusia-Monyet Pertama Diciptakan di Tiongkok
Foto ilustrasi via Flickr

Chimera adalah sebutan untuk makhluk mengandung sel dari dua atau lebih spesies berbeda. Dua spesies—dari dua jenis DNA dari dua organisme berbeda—dipadukan menjadi satu. Kata chimera berasal dari kata Yunani kuno yang mengacu pada makhluk gabungan naga-kambing-singa.

Sejak dekade 80-an, para ilmuwan sudah berupaya menciptakan chimera. Sekarang, jenis baru chimera akhirnya berhasil diciptakan di Tiongkok, wujudnya embrio monyet yang mengandung sel-sel manusia. Namun terobosan tersebut meresahkan komunitas ilmiah karena ada potensi pelanggaran etika.

Diketuai Profesor Juan Carlos Izpisúa Belmonte, tim ini terdiri dari ilmuwan Salk Institute di AS dan Murcia Catholic University (UCAM) asal Spanyol. Dalam proses penciptaan chimera, genetika sel-sel embrio seekor monyet diubah sehingga organnya berhenti berkembang. Lalu, sel punca manusia dimasukkan ke embrio monyet.

Alejandro De Los Angeles selaku peneliti di Fakultas Psikiatri di Yale University mengatakan chimera ini kemungkinan besar akan digunakan untuk memahami proporsi terbaik sel-sel manusia dan hewan. Para peneliti dapat memanfaatkan informasi ini untuk "menciptakan organ buatan untuk ditransplantasi," kata Alejandro.

Sebelumnya, Profesor Belmonte pernah melakukan hal yang sama dengan embrio babi dan domba, tetapi tidak sesukses pengujian memakai monyet. Embrio babi hanya menghasilkan satu sel manusia untuk setiap 100.000 sel babi.

Sejumlah ilmuwan, seperti Profesor Robin Lovell-Badge dari Francis Crick Institute di London, menilai proyek ini membawa persoalan etis.

"Bagaimana cara mereka membatasi kontribusi sel manusia pada organ yang ingin diciptakan?" tanyanya. "Jika Anda membiarkan hewan-hewan ini membesar sehingga lahir, jika sistem saraf pusat didominasi sel-sel manusia, jelas itu menjadi keprihatinan etis."

Alejandro menyebut chimera manusia-monyet hanya dibiarkan berkembang selama beberapa minggu sebelum organ sempat terkembang sepenuhnya. Jika organnya dibiarkan berkembang sepenuhnya, jelas akan terjadi kontroversi.

Tim peneliti asal Spanyol dan AS memilih Tiongkok karena mereka dapat menghindari isu-isu legal di Spanyol. Di Spanyol, penciptaan chimera hanya diperbolehkan dalam penelitian penyakit-penyakit mematikan.

"Tujuan akhirnya adalah menciptakan organ manusia yang dapat ditransplantasi, tetapi prosesnya lebih menarik bagi para ilmuwan," ujar Estrella Núñez selaku Wakil Kanselir Penelitian di UCAM. "Kami ingin terus melakukan penelitian ini demi membantu penderita penyakit yang butuh donor organ."

Follow Meera di Twitter dan Instagram .

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.