Petualangan Afrikan Boy di Tanah Kelahiran Indomie

Artis yang sedang naik daun di kancah UK grime ngobrol bareng VICE membahas Indomie, Senyawa, dan kolaborasinya bersama pegiat hip hop Indonesia.
31.10.17
All images courtesy the British Council

Afrikan Boy masih ingat betul momen pertama mengenal Bahasa Indonesia. Musisi grime yang sedang menanjak karirnya di Inggris ini, bernama asli Olushola Ajose, sangat menggemari indomie. Sama saja seperti orang kelahiran Nigeria lain, indomie adalah produk yang sangat populer baginya. Indomie adalah julukan orang Nigeria buat mi instan. Baru setelah pindah ke Inggris, Ajose terkejut karena indomie ternyata produk Indonesia.

"Aku selalu mengira Indomie itu asli buatan Nigeria," kata Ajose saat ditemui VICE. "Jadi ketika kemarin dapat undangan tampil ke Indonesia, aku baru nyadar gitu kalau 'Indomie itu Indone…wah, Indo-nesia', makanya aku senang banget bisa ke sini, main ke tanah kelahiran Indomie bung!"

Tentu saja, dia menyukai Indonesia bukan hanya karena mi instan yang mendunia itu. Ajose diundang tampil di Archipelago Festival lalu beberapa hari kemudian, ikut meramaikan British Council's UK/ID festival yang turut digelar oleh VICE Indonesia.

Pada malam dia tampil untuk acara UK/ID di The Establishment, Jakarta Selatan, kami menemui Ajose dan tiga kawannya yang bersiap di sebelah panggung. Kami membicarakan macam-macam hal, mulai dari perasaannya datang pertama kali ke Asia Tenggara, musisi Indonesia yang menginspirasinya, serta alasan Jakarta menurut Ajose sangat mirip kota kelahirannya: Lagos.

VICE: Gimana perasaanmu setelah diundang British Council ke Indonesia?
Afrikan Boy: Wah, rasanya benar-benar membuka mata bung. Jujur saja, beberapa bulan lalu, kalau ada orang bilang Indonesia aku tidak tahu apa-apa. Aku enggak tahu di mana letaknya, orangnya kayak gimana. Setibanya di sini, gila bung, ternyata negaranya besar banget, orangnya beragam, pulaunya banyak banget, beda-beda budayanya, serta masyarakatnya menyerap berbagai kebudayaan dunia. Benar-benar menarik lah.

Katanya kamu bisa langsung dapat teman rapper Indonesia ya?
Yup, aku beruntung bisa langsung kenal dan kolaborasi bareng rapper kayak Laze (Havie Parkasya dari grup Onar) serta Fadhil a.k.a Matter Moss. Dari panitia memang meminta aku berkolaborasi sama musisi lokal. Tapi gayaku memang kayak gini kalau tampil di luar negeri. Aku selalu mencari musisi lokal baik itu di Aljazair, Sudan, atau di negara-negara lainnya. Selama di Jakarta, aku langsung nongkrong bareng anak-anak UBC (Underground Business Club), Onar, dan shout out to Ramengvrl—our first lady—mereka semua keren banget. Selama kami kerja bareng di studio, aku masak terus nasi jollof buat anak-anak tadi tiap malam. Kami cepet banget akrab. Makanya, pengalaman datang ke Jakarta ini rasanya berkesan banget. Aku yakin ketika nanti ke sini lagi sudah ada teman-teman yang bisa aku hubungi.

Di studio kalian enggak cuma makan nasi jollof kan? Dengar-dengar kalian bikin remix hits single-mu 'One Day I went to Lidl' tapi liriknya diganti Indomaret dan Alfamart?
Hahahaha, bener banget! Ini bisa dibilang official Indomie remix. Lagu 'Lidl' memang yang bikin aku terkenal di kancah Grime UK. Laguku yang paling terkenal. Lagu itu sudah 10 tahunan sekarang, tapi terus menarik buat dikulik ataupun di-remix.

Kenapa terus diganti Indomaret sama Alfamart?
Masalahnya gini, lagu itu cerita soal orang ngutil di supermarket. Enggak banyak orang tahu soal jaringan supermarket Lidl di luar UK. Makanya, kalau tampil di luar negeri, aku pasti tanya sama kru di lapangan apa nama jaringan supermarket paling gede di negaranya. Pas tanya gitu ke Matter Mos, dia bilang, "Indomaret!", anak-anak di studio langsung ketawa. Wah cocok nih. Pas dibawain ke panggung pasti penonton langsung paham.

Tapi kamu beneran ngutil di Indomaret?
Wah, hell no man! Aku masih mau balik ke UK. Ogah kalau sampai kena masalah di Indonesia.

Sempat mendengarkan musik Indonesia ga?
Gara-gara Matter Mos, aku ndengerin musik dari Brava Radio. Tapi kalau band lokal yang bikin aku kagum banget ya Senyawa. Aku nonton mereka pertama kali di Archipelago Festival, persis habis jatahku tampil. So sick. Mereka tuh bisa memanfaatkan instrumen musik tradisional, tapi dikulik sehingga terdengar sangat asing dan modern. Musik Senyawa tuh unik banget, ultra kreatif, dan enggak ada batasan. Salut lah buat anak-anak Senyawa.

Terus, apalagi ya? Oh aku sempat main ke Taman Mini Indonesia Indah. Biasa lah, pengen jadi turis asing gitu. Nah, pas di sana aku nonton tari-tarian tuh, mereka duduk terus gerakannya bisa sinkron, tepuk-tepuk pundak… apa ya namanya…

Oh maksudmu tari saman?
Saman, nah itu. That was sick man. Aku pengen banget bikin sample buat beat pakai irama saman. Laze tuh yang ngasih lihat video tari saman ke aku sebelum kami ke TMII. Sayang kemarin belum sempat diseriusin nyari sample saman. Tapi aku pasti cari terus deh.

Gimana rasa masakan Indonesia? Kamu kepedesan ga?
Itu salah satu yang langsung aku pelajari dari Indonesia bung. Sambalnya pedes. Tapi aku emang suka pedes sih, pernah bikin lagu juga, yang intinya 'kalo elo suka pedes, berarti elo bakal suka musik gue'.

Surga banget di sini bung. Main ke McDonald Indonesia aja ada sambelnya. Gila, kalau di London kita harus bawa sambel sendiri lho. Ada temen rapper yang neneknya mbikinin sambel khas gitu. Wah, aku bawa balik ke London tuh, enak banget.

Menurutmu apa kesamaan Jakarta dan Lagos?
Cuacanya sama persis. Terus, kita sama-sama parah macetnya, hahahahaha. Tapi, di luar kesamaan fisik kayak gitu, kita sama-sama manusia bung. Kebetulan aja nenek moyang kita jalannya beda dan berdiam di tempat berbeda. Tapi prinsipnya kita akhirnya tinggal, membaur dengan berbagai kebudayaan lain, walaupun kita menyukai hal-hal yang sebetulnya sama saja. Di zaman sekarang tuh, dunia itu ibaratnya kota besar banget. Aku menyebutnya 'world town'. Soalnya karakter manusia di mana-mana sama dan kita makin mudah saling mengenal. Semua orang pengin hidup bahagia dan suka bekerja keras.

Kalau musik antara Indonesia dan Nigeria beda banget ga?
Secara umum enggak jauh beda kok. Musik mainstream yang lagi ramai di Indonesia, ramai juga di Nigeria. Berapa malam lalu aku ngelihat Onar bikin sample track grime keren dari musisi muda UK gitu. Lihat, inilah bukti 'world town' tadi. Musisi Jakarta bisa ngerespon lagu orang dari Inggris hanya dalam hitungan hari. Aku sih berharap musik Indonesia bisa makin dikenal, makin besar pasarnya hingga mancanegara, karena musik kalian beneran keren bro. Harus makin banyak orang yang mendengar soal Indonesia. Aku yakin itu bisa terwujud. Sekarang eranya World Town man. The new world order is coming!

Wawancara ini telah disunting agar lebih ringkas dan enak dibaca.