Perubahan Iklim

Menurut 15 Ribu Ilmuwan Asal 184 Negara, Masa Depan Umat Manusia Surem Banget

Perilaku manusia pada lingkungan hidup membahayakan masa depan Planet Bumi, mempercepat perubahan iklim. Kesimpulan mereka tertuang dalam makalah yang diteken bersama.
14.11.17
Foto ilustrasi ribuan penonton konser di Paris. Foto: James Cridland/Flickr

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Lebih dari 15.000 ilmuwan, dari 184 negara, membuat pernyataan bersama. Mereka ingin publik paham bahwa perubahan iklim, serta pemanasan global, betul-betul terjadi. Buktinya terang benderang: kesehatan manusia di masa depan menghadapi risiko serius akibat perubahan iklim. Belum lagi penggundulan hutan, hilangnya akses jutaan orang pada air bersih, kepunahan spesies, dan pertumbuhan populasi manusia tak terkendali, yang memaksa migrasi dalam jumlah fantastis ke kota-kota besar. Ilmuwan terkemuka, termasuk Jane Goodall, E.O. Wilson, dan James Hansen, merilis peringatan tersebut awal pekan ini di jurnal BioScience. Artikel tersebut, berjudul “World Scientists' Warning to Humanity: A Second Notice,” ditandatangani bersama 15.372 ilmuwan, dari beragam disiplin ilmu. Surat bersama ini merupakan sikap formal terbesar pernah dilakukan ilmuwan seluruh dunia untuk sebuah makalah akademik. Artikel “Second Notice” ini memperbarui dokumen awal berujul “World Scientists' Warning to Humanity” yang dirilis 1992, alias tepat 25 tahun lalu. Dulu dokumen awal yang ditandatangani 1700 ilmuwan, termasuk peraih piala Nobel dalam bidang sains. Isinya tak jauh berbeda, memperingatkan publik bahwa dampak tindakan manusia terhadap lingkungan hidup beberapa dekade terakhir telah “membahayakan masa depan masyarakat”. Koalisi ilmuwan ini juga merinci sejumlah tren yang mengkhawatirkan mengancam peradaban kita.


Jangan dikira pemanasan global itu isu yang jauh dari kita-kita. Nih, petani Malaysia (termasuk Indonesia) sudah kena dampaknya. Baca liputan VICE berikut:

“Kami melakukan pembaruan data dari surat tersebut karena kami ingin memberi tahu masyarakat tentang keadaan termutakhir,” ujar William Ripple, ekolog di Oregon State University, yang menjadi salah satu penulis artikel “Second Notice.” Tren-tren yang diamati ilmuwan semakin parah selama 25 tahun belakangan.

“Sejak 1992, emisi CO2 [karbon dioksida] melonjak 62 persen, sementara suhu global meningkat 29 persen. Di sisi lain populasi hewan vertebrata liar merosot 29 persen,” kata Ripple saat dihubungi Motherboard. Data dihimpun para peneliti mengungkapkan selama 25 tahun belakangan, terhadapat beberapa temuan yang bikin pesimis:

Iklan

  • Terjadi penurunan 26 persen air bersih yang tersedia per kapita
  • Peningkatan 75 persen zona laut mati
  • Menghilangnya lebih dari 300 juta hektar tanah/hutan

“Itu semua tren yang mengkhawatirkan. Kita harus menjaganya. Kita perlu fasilitas pemberian alam untuk kelangsungan hidup spesies manusia di masa mendatang,” ujarnya. Tumbuhan, hewan, serangga, ikan, dan spesies lainnya menjalankan beragam peran dan fungsi di planet ini. Mulai dari memproduksi oksigen, membersihkan air, serta memfasilitas penyerbukan. Segala produk dan layanan yang disediakan alam diprediksikan mencapai harga $125-145 triliun per tahun. Dengan tambahan dua miliar populasi manusia sejak 1992—peningkatan populasi global 35 persen—layanan vital di alam bebas menurun drastis, menurut artikel tersebut. Satu tren positif adalah lapisan ozon, yang melindungi seluruh makhluk hidup dari radiasi ultraviolet yang berbahaya. Pada 1987, negara-negara bergabung dalam UN’s Montreal Protocol untuk melarang zat kimiawi yang merusak ozon. Meningkatnya penggunaan energi yang dapat diperbarui adalah tren positif lainnya, ujar Ripple. Dokumen awal hanya sedikit membahas perubahan iklim. Meski demikian, dokumen tersebut mengimbau agar manusia menjauhi penggunaan bahan bakar fosil. Pada konferensi iklim PBB di Bonn, Jerman, pada hari Senin, sekelompok ilmuwan lainnya mengingatkan bahwa emisi CO2 kemungkinan akan meningkat setelah berhasil stabil pada tiga tahun belakangan. “Perubahan iklim nyata dan sangat berbahaya. Dan keadaan akan menjadi jauh lebih parah,” ujar Johan Rockström, direktur eksekutif Stockholm Resilience Centre, pusat internasional untuk ilmuwan yang mempelajari konservasi keberlanjutan.

Emisi CO2 di Amerika Serikat diprediksi meningkat 2.2 persen pada 2018 karena dampak cuaca musim dingin. Jumlah polusi dari RRC dan India juga terus meningkat, meski dalam kecepatan lebih rendah dibanding beberapa tahun lalu.

Foto planet bumi dari NASA/Wikimedia Commons

“Berita angka emisi meningkat setelah mati suri selama tiga tahun merupakan kemunduran bagi umat manusia,” ujar Amy Luers, direktur eksekutif Future Earth, organisasi peneliti internasional untuk sains keberlanjutan. “Emisi perlu ditekan sampai nol pada 2050,” ujar Luers pada sebuah pernyataan.
Ripple sepakat bahwa mengurangi emisi CO2 adalah target penting, dan menyampaikan bahwa makalah “Second Notice” mereka merinci sejumlah cara untuk mengatasi tren lingkungan hidup yang meresahkan, termasuk dengan membangun labih banyak taman dan cagar alam, membatasi perdagangan satwa liar, beralih pada pola makan berbasis tumbuhan, mensosialisasikan keluarga berencana dan program pendidikan bagi perempuan, dan secara masif mengadopsi energi yang dapat diperbarui dan teknologi “hijau” lainnya. Makalah tersebut, di luar semua peringatannya, ternyata memiliki kesimpulan yang cukup optimis: “Dengan bekerja sama… kita bisa membuat progres besar untuk kebaikan umat manusia dan planet tempat kita hidup.” “Kami berharap bahwa makalah kita dapat memantik perdebatan publik di mana-mana soal lingkungan hidup dan iklim global,” ujar Ripple.

Dengan pesan sekuat ini saja, media massa ternyata sempat mengabaikan dokumen awal Scientists’ Warning to Humanity yang dikirimkan ke berbagai redaksi pada 1992. Surat kabar prestisius seperti The New York Times dan Washington Post dulu menganggap isu perubahan iklim tidak layak diberitakan. Jangan sampai sekarang kita mengulangi kesalahan serupa.