Seorang samurai perempuan Jepang bernama Nakano Takeko.
Nakano Takeko, foto diambil pada 1847. Photo via Wikimedia Commons. 
Sejarah

Kiprah Samurai Perempuan Onna-Bugeisha Era Feodal Jepang 'Dihapus' Dari Sejarah

Kita mengenal perempuan Jepang modern tunduk pada patriarki. Padahal, di masa lalu, samurai perempuan dianggap sama kuatnya seperti lelaki. Kenapa kiprah samurai perempuan kini tak banyak dibahas?
19.10.18

Saat itu musim gugur 1868. Bagi samurai Klan Aizu, waktu pertempuran sudah dekat. Sejak awal tahun itu, samurai Klan Satsuma melaksanakan kudeta. Mereka menjatuhkan pemerintahan Shogun dan memberi kekuasaan pada pemimpin baru, Mutsuhito yang umurnya baru 15 tahun. Dia segera mengganti sistem feodalisme ala Tokugawa, menggantinya dengan pondasi bangsa yang modern. Selama musim panas, pasukan loyalis kaisar baru menyerang mereka yang menolak tunduk. Peperangan sengit berlangsung selama musim panas tahun itu.

Iklan

Tentara kaisar baru pelan-pelan unggul. Mereka mencapai istana Wakamatsu, markas klan yang tak mau mengakui pemerintahan baru, pada awal Oktober membawa kekuatan 30.000 tentara. Di balik tembok istana, 3.000 tentara, termasuk Klan Aizu, menyiapkan diri untuk pertempuran hidup mati.

Klan Aizu bertempur gagah berani di parit, sementara perempuan-perempuan yang tertinggal garis belakang memasak, merawat yang terluka, atau memadamkan api yang menjalar akibat tembakan meriam. Tugas serupa tak dilakukan Nanako Takeko. Sebab kendati dia perempuan, tapi statusnya adalah prajurit onna-bugeisha. Tempatnya ada di medan pertempuran. Menghadapi kekuatan pistol tentara loyalis kaisar, Takeko memimpin pasukan 20-30 perempuan lain melawan terjangan lawan. Takeko setidaknya berhasil membantai lima lawan dengan pedang naginata-nya sebelum dia ditembak dengan peluru. Sebelum gugur, Takeko masih sempat meminta sang adik untuk memenggal kepalanya agar jasadnya tidak dibawa musuh sebagai rampasan. Dia dikubur di bawah pohon di Kuil Aizu Bangmachi. Di lokasi tersebut kelak berdiri sebuah monumen yang memperingati sifat gagah berani Takeko dan bisa kita saksikan sampai sekarang.

1537815255920-Onna_bugeisha_-_ritratto_seduto

Foto seorang onna-bugeisha dari Abad ke-19. Arsip Wikimedia Commons.

Sepanjang sejarah, di Jepang perempuan ditekan oleh patriarki ekstrem. Perempuan diharapkan patuh pada ekspektasi sosial agar mereka fokus pada pernikahan, mengurus rumah tangga, dan punya sifat keibuan. Padahal, sebetulnya, ada sosok prajurit perempuan seperti Takeko yang dianggap setara dan seberani prajurit laki-laki. Samurai perempuan ini biasanya berasal dari kelas sosial bushi, ini termasuk kelas mulia prajurit Jepang era feodal.

Tugas samurai adalah menetapkan lahan milik daimyo, melindungi wilayah pemilik tanah, sekaligus mempunyai hak legal untuk mengawasi tanah sebagai jito (pelayan). Seperti samurai lelaki, prajurit perempuan sangat berbakat dalam pertempuran jarak dekat. Mereka sudah pasti mahir menggunakan pedang Kaiken, naginata, dan tantōjutsu. Sebelum abad ke-12, perempuan di Jepang bahkan biasa ikut bertempur demi melindungi desa, keluarga, dan kehormatan pribadinya.

Setelah periode Restorasi Meiji pada 1868—zaman baru kekaisaran yang berusaha memulai modernisasi, industrialisasi, dan pembaratan budaya—kelas Samurai yang dulunya melindungi tuan tanah kehilangan kekuasaan. Warisan sejarah dari kiprah para samurai perempuan atau onna-bugeisha pun ikut terhapus. Di saat bersamaan, pendatang dari bangsa barat mulai datang ke Jepang era itu. Mereka menulis ulang sejarah peperangan Jepang.

Narasi baru pendatang Barat ini mengabaikan heroiknya para onna-bugeisha dan melebih-lebihkan representasi samurai laki-laki. Sementara perempuan-perempuan Jepang digambarkan selalu patuh dan memakai kimono dengan obi yang ketat. Sejarawan Stephen Turnbull menyatakan imbas dari catatan sejarah yang bias lelaki itu, "amal bakti samurai perempuan sebagai kisah hebat dari Jepang masa lalu tidak pernah diceritakan saat kita membahas budaya samurai."

1537814709644-EmpressJinguInKorea

Ini lukisan dari 1880 karya Tsukioka Yoshitoshi menggambarkan Permaisuri Jingu menyerang Korea. Via Wikimedia Commons.

Jejak sejarah onna-bugeisha, secara harfiah berarti 'prajurit perempuan', dapat ditelusuri hingga tahun 200 Masehi. Ketika itu muncul legenda Permaisuri Jingū mengambil alih posisi mendiang suaminya yang baru saja meninggal. Jingū tanpa ragu memimpin invasi dataran Silla (di Korea Selatan). Meskipun kebenaran Jingū sebagai tokoh sejarah masih diperdebatkan, legendanya sangat mengesankan. Dia adalah samurai menakutkan yang menentang norma sosial zamannya. Jingū diduga hamil saat memakai baju zirah dan hadir di medan pertempuran. Ekspedisi yang dia pimpin sukses. Saat dia kembali dari pertempuran menaklukkan Korea, legenda menyatakan Jingū langsung menundukkan pemberontakan dan memimpin Jepang sampai umur 100.

Pada abad kelima dan keenam—yang kadang dijuluki “Zaman para ratu”— Jepang sering dipimpin oleh permaisuri-permaisuri yang amat berkuasa. Pada Abad ke-12, Turnbull menyatakan, muncul kelas samurai dengan kesetiaannya pada tuan tanah, semangat bertempur luar biasa, dan baktinya kepada kematian yang terhormat. Para samurai itu "dimanfaatkan menjadi penjaga dan tentara pribadi oleh kekaiasaran." Sepanjang kurun 1180-1185, konflik antara dinasti klan samurai Minamoto dan Taira yang berlawanan ideologi melahirkan sosok prajurit perempuan paling terkenal di sejarah Jepang: Tomoe Gozen. Heike Monogatari, kronik sejarah mengenai Perang Genpei dari abad pertengahan, menggambarkan Gozen secara mendetail.

Iklan

"Tomoe memiliki rambut hitam yang panjang dan kulit putih, dan wajahnya sangat indah," seperti dikutip dari kronik tua tersebut. "Tomoe adalah penunggang kuda yang tak kenal takut, yang tak dapat diguncang kuda bengis sekalipun. Dia menguasai pedang dan busur dengan tangkas hingga mampu mengalahkan seribu prajurit."

1537814822651-Kokon_hime_kagami_Tomoe_onna_by_Tsukioka_Yoshitoshi

Tomoe Gozen karya Tsukioka Yoshitoshi dibuat pada 1875. Via Wikimedia Commons.

Ada hal paling menarik tentang Gozen. Dia adalah salah satu dari sejumlah kecil perempuan yang memimpin pasukan penyerangan elit yang kini dikenang sebagai onna-musha. Tugas Gozen bukan mempertahankan benteng, melainkan menyerbu garis depan. Pada 1184, Gozen memimpin 300 samurai dalam pertempuran melawan 2.000 prajurit Klan Tiara. Pada pertempuran Awazu pada tahun yang sama, Gozen membunuh ratusan musuh sebelum memenggal kepala pemimpin klan Musashi dan mempersembahkannya kepada sang majikan, Jendral Kiso Yoshinaka. Saking moncernya reputasi Gozen, Yoshinaka mengakui Gozen sebagai jendral perang sejati pertama sepanjang sejarah Jepang.

Meskipun catatan sejarah yang mendukung kisah heroik Gozen amat sedikit, bukti arkeologis menegaskan sosok Gozen betul-betul ada. Penggalian belulang telah membuktikan keterlibatan perempuan dalam pertempuran. Bukti ini menegaskan samurai perempuan tidak seharusnya dilupakan dari buku sejarah modern.

Uji DNA pada 105 kerangka dari pertempuran Senbon Matsubaru antara pasukan pimpinan Takeda Katsuyori dan Hojo Ujinao pada 1580 menunjukkan 35 jasad di garis depan adalah perempuan. Dari hasil kajian Turnbull, detail-detail penggalian tersebut mengkonfirmasi hadirnya perempuan secara aktif di medan pertempuran.

1537815065491-Onna_bugeisha_Ishi-jo_wife_of_Oboshi_Yoshio

Seorang onna-bugeisha dilukis oleh Utagawa Kuniyoshi. Lukisan ini dibuat pada 1848. Via Wikimedia Commons.

Setelah periode Edo pada awal Abad ke-17, muncul perubahan yang signifikan bagi status perempuan di masyarakat Jepang. Di masa ini, filsafat neo-Konghucu yang dominan serta norma-norma pernikahan menyebabkan perubahan radikal bagi onna-bugeisha, yang statusnya sebagai prajurit-prajurit menakutkan sangat bertentangan dari rezim baru kekaisaran. Kekiasaran di Edo kala itu menginginkan kedamaian, stabilitas politik, serta pranata sosial yang kuat.

Budaya prajurit yang sebelumnya menjadi kode etik hidup yang dikenal sebagai bushido, yang artinya 'jalan sang prajurit' turut dikebiri. Bahkan samurai laki-laki yang dulunya sibuk dengan konflik dipaksa menanggalkan pedangnya, diminta menjadi birokrat bagi kekaisaran. Begitu pula perempuan, terutama putri-putri para jendral dan bangsawan. Mereka tak lagi dibolehkan berperang. Perempuan diharapkan menjalani kehidupan yang pasif dan taat sebagai ibu dan anak yang patuh. Perempuan dilarang melakukan perjalanan atau ikut serta dalam pertempuran. Di masa inilah, para onna-bugeisha mulai terkikis dari budaya Jepang.

Iklan

Sejarahwan Ellis Amdur menyatakan ketika seorang perempuan prajurit menikah, sesuai tradisi dia akan membawa nagitana-nya ke rumah suami dan hanya menggunakannya untuk latihan moral. Itulah "tugas baru seorang samurai perempuan bagi masyarakat." Perubayan budaya ini menanamkan "sifat-sifat baik ideal yang dibutuhkan untuk menjadi istri samurai." Perempuan dianggap kuat jika memiliki kepatuhan dan kesabaran menghadapi lelaki. Dengan adanya perubahan budaya tersebut, para onna-bugeisha akhirnya memilih mengikuti arus zaman.


Tonton dokumenter VICE mengenai sisi gelap nasib atlet sumo setelah pensiun yang menyedihkan:


"Mereka kemudian hanya memakai nagitana saat latihan di rumah," kata Amdur. "Ini dianggap semangat pengorbanan diri, yang berhubungan dengan ideal-ideal suci kelas prajurit." Berlatih bela diri, tanpa ikut bertempur, dianggap sebagai cara untuk melatih kepatuhan terhadap laki-laki di rumah dan mengolah kehidupan domestik yang teratur dan bebas dari energi perang. Mereka masih berlatih pedang, tapi maknanya sudah sepenuhnya berubah.

Pertengahan Abad ke-17 sempat membawa kebangkitan baru bagi budaya onna-bugeisha. Pemerintahan Klan Tokugawa membawa fokus yang baru pada pelatihan pertempuran Samurai perempuan. Sekolah-sekolah pedang dibuka di sekitar benteng kaisar, mengajarkan seni naginata sebagai metode latihan moral untuk perempuan.

Pada zaman ini, perempuan turut dilatih melindungi perdesaan mereka dengan kemandirian yang baru seperti yang dilakukan perempuan beberapa abad lalu. Setelah pertempuran-pertempuran terakhir antara klan Tokugawa dan pasukan pro kaisar baru, korps prajurit perempuan yang diberi nama Jōshitai didirikan. Pasukan elit ini dipimpin oleh onna-bugeisha Nakano Takeko. Setelah pertempuran ini, mereka bersama pasukan Aizu melawan pasukan loyalis kaisar baru sampai titik penghabisan demi melindungi Istana Wakamatsu.

Pertempuran Aizu dianggap sebagai pertempuran terakhir sosok onna-bugeisha, tetapi warisan mereka terus bertahan dalam sejarah walau tak banyak dituliskan. Setiap tahun, pada Festival Musim Gugur Aizu yang digelar setiap tahun, perempuan-perempuan Jepang ikut serta dalam sebuah prosesi yang mengingati keberanian Nakano Takeko dan tentara perempuan yang ia pimpin.

Heroisme Permaisuri Jingū, perempuan pertama yang muncul di mata uang Jepang (pada 1881), sampai kini masih bertahan sebagai sumber kebanggaan nasional untuk bangsa Jepang. Penghormatan tertinggi bagi kekuatan dan keberanian para onna-bugeisha datang dari kronik Heike Monogatari, yang menggambarkan Tomoe Gozen secara luar biasa.

"Gozen adalah prajurit yang kekuatannya setara seribu orang. Dia tak ragu melawan setan atau dewa sekalipun."

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly