Cinta dan petualangan

Cerita Dua Sejoli yang Bersepeda Dari Belanda Hingga Jakarta

Perjalanan sejauh 15.000 km itu ditempuh guna merekat hubungan keduanya yang sempat renggang.
Alice .
oleh Alice .
24.9.18
Semua foto oleh Marlies Fennema and Diego Yanuar

Marlies Fennema dan Diego Yanuar bukan pasangan yang sekadar memimpikan bersepeda melintasi sejumlah negara untuk sekedar berkhayal tentang petualangan sejati yang mereka dambakan. Mereka benar-benar melakukannya. Kedua sejoli tersebut, Marlies dari Belanda dan Diego dari Indonesia, nekat memutuskan untuk mengendarai sepeda, melintasi jarak sepanjang 15.000 km dari Belanda menuju Indonesia—sebuah perjalanan panjang epik yang telah mereka jalani selama delapan bulan, itu pun baru setengah perjalanan.

Iklan

Keseluruhan perjalanan ini, menurut perkiraan Marlies dan Diego, bakal beres mereka jalani sekira satu tahun dari sekarang.

“Atau mungkin lebih dari setahun sih, kalau memang perlu,” ujar Diego lewat sebuah voice note. Dua sejoli ini lebih nyaman berkomunikasi dengan aplikasi pengirim pesan selama dalam petualangannya.

“Satu-satunya yang konstan dari perjalanan kami adalah rencana kami yang terus-terusan berubah,” jelas Marlies. “Aku sampai takut membuka lembar Excel berisi rencana yang kami buat sebelum berangkat karena rencana kami sudah jauh berubah. Ya miriplah seperti hidup, kita enggak punya kontrol atas apa yang akan kami terjadi di jalan, dan solusinya kami harus fleksibel dengan itu.”

Kelak, jika Marlies dan Diego berhasil menyudahi perjalanan panjangnya ini, keduanya akan mencatatkan rekor luar biasa: bersepeda dari Nijmegen, di kawasan timur Belanda sampai Jakarta melintasi Eropa Barat, Eropa Timur dan Asia Tengah—titik di mana keduanya mulai dibayangi sejumlah tantangan berat.

Sejak meninggalkan perbatasan Tajikistan menuju Kyrgystan, Marlies dan Diego harus bersepeda sejauh 20 km tanpa menemui sesosok manusiapun. Selama tiga hari, dua sejoli ini harus menembus salju yang turun tanpa henti. Marlies dan Diego mengenang tiga hari itu sebagai hari-hari berat. Untunglah, mereka berjumpa seorang perempuan anak seorang petani. Dia menawari pasangan itu tempat hangat untuk berteduh dari dinginnya salju.

Iklan

Baik Marlies atau Diego tersentuh akan kebaikan keluarga petani ini. “[Kebaikan] mereka membuka mata kami,” kenang Diego. “Orang seperti mereka enggak bakal ada di kota mana pun.”

“Mereka malah memberi kami sedikit makanan untuk bekal kami melewati badai,” kata Marlies. “Padahal, mereka banting tulang setiap hari dan cadangan makanan mereka juga tak banyak-banyak amat, apalagi kalau dibandingkan dengan keluarga saya di Belanda misalnya. Kondisi yang enggak adil lah pokoknya.”

“Daerah pegunungan tempat mereka tinggal kurang bersahabat sebenarnya, tapi mungkin memang lebih enak tinggal di sana. Keluarga petani itu selalu bersyukur, puas dengan hidupnya dan sangat penyayang. Si Ibu keluarga itu selalu bekerja. Uang dia dapat enggak banyak tapi enggak pernah berhenti tersenyum.”

Badai salju hanya satu dari sekian aral yang merintangi Marlies dan Diego sejak mereka mulai bersepeda dari Nijmegen bulan Februari lalu. Mereka pernah ditipu biro tukar uang gadungan, digeledah di perbatasan negara gara-gara diduga menyelundupkan obat-obatan terlarang, terhambat amukan badai hingga harus rehat karena keracunan makanan.

Sebaliknya, selalu ada saja momen-momen yang bikin keduanya menyunggingkan senyum atau terpana, seperti kala mendapati pemandangan alam yang kelewat menawan.

“Ada masanya ketika saya merasa enggak sanggup lagi, misalnya kalau saya sakit. Tapi ada juga saatnya saya merasa kembali bersemangat, biasanya begitu saya melihat pemandangan alam yang indah dan agung,” kata Marlies.

Iklan

Namun, segalanya semestinya sudah diperhitungkan oleh Marlies dan Diego. Pasalnya, perjalanan panjang ini ditempuh oleh pasangan ini untuk memaksa mereka keluar dari zona nyaman mereka. Marlies dan Diego pertama kali bertemu di sebuah klub lari di Jakarta saat Marlies bekerja sebagai seorang relawan. Keduanya cepat akrab karena sama-sama menyukai petualangan, aktivitas di luar ruangan dan olahraga. Tak butuh waktu lama, keakraban di antaranya keduanya berubah jadi cinta.

Selama sekian tahun, keduanya menjalani hubungan cinta jarak jauh. Seringkali mereka terbang ke satu kota untuk saling bertemu sampai akhirnya Diego memutuskan pindah ke Belanda agar lebih dekat dengan pujaan hatinya. Di Negeri Kincir Angin, Diego bekerja sebagai karyawan perusahaan furnitur. Adapun, Marlies menjalani dua profesi: copywriter dan guru bagi para pengungsi.

Malang, perbedaan budaya di Belanda mulai menyulitkan Diego. Tekanan yang dia hadapi berubah jadi keributan-keributan antara dua sejoli itu, hingga akhirnya mereka mencapai satu kesepakatan: Jika kehidupan keras di Belanda merenggangkan hubungan keduanya, barangkali onak dan duri di jalanan akan mendekatkan mereka kembali.

“Kami sebenarnya bahagia selama di Belanda,” aku Marlies. “Tapi, agak berat bagi Diego untuk tinggal di Belanda. Sebaliknya, aku enggak mau tinggal di Jakarta karena bakal berat buatku…cuma selama dalam perjalanan ini, kami menghadapi kondisi yang asing, jadi kami harus bekerja sama menghadapi tantangan itu.”

Iklan

Diego lekas menambahkan, “Kami harus bisa saling mengandalkan dan menemukan cara agar bisa bekerja sebagai satu pasangan. Jadi, bisa dibilang, perjalanan panjang ini sudah benar-benar meneguhkan hubungan kami.”

Pada prakteknya, mereka masih sering ribut kok—entah itu gara-gara potongan rambut Diego, siapa yang harusnya membuka pintu atau siapa yang mestinya memesan pizza untuk makan malam. Belum lagi, perjalanan panjang mereka ternyata lebih melelahkan dari yang sebelumnya mereka bayangkan. Namun, lambat laun, dari kilometer yang satu ke kilometer berikutnya, mereka membangun sesuatu yang lebih kokoh, terlepas dari apapun bentuknya nanti—rasa sayang lebih mendalam, hubungan cinta yang lebih kokoh atau perkawinan sekalipun.

Yang jelas, Marlies dan Diego begitu menghayati pesan seorang petani yang mereka temui di Iran: “Apapun yang kalian putuskan nanti, menikah atau tidak, tinggal bersama atau berpisah, yang paling harus kalian ingat adalah kalian harus bersyukur masih memiliki satu sama lain.”

Kalian bisa mengikuti petualangan Marlies and Diego di blog

Everything in Between

, atau akun Instagram mereka

@everythinginbetween.journal

. Kalian juga bisa

menyumbangkan sejumlah uang

yang kelak akan

disumbangkan ke tiga lembaga amal di Indonesia

setelah Marlies dan Diego sampai di jakarta. Keduanya berharap bisa mengumpulkan 15.000 Euro, atau satu Euro per setiap kilometer yang mereka jalani.