Anak Muda Masa Kini Lebih Terobsesi Status Sosial dan Kekayaan Dibanding Generasi Sebelumnya
Photography: Lauren Greenfield
Budaya

Anak Muda Masa Kini Lebih Terobsesi Status Sosial dan Kekayaan Dibanding Generasi Sebelumnya

Dalam film dokumenter 'Generation Wealth', sutradara Lauren Greenfield menunjukkan alasan 25 tahun terakhir banyak orang dari kelas sosial manapun kecanduan memiliki lebih, lebih, dan lebih.
26.5.18

Artikel ini pertama kali tayang di i-D

Apakah kesamaan antara seorang bintang porno, manager hedge fund, dan fotografer dokumenter? Dalam film dokumenter baru Lauren Greenfield, Generation Wealth, mereka semua terhubung oleh kekuatan kapitalisme. Konstruksi ekonomi dan pengaruh kapitalisme pada masyarakat, dengan kecenderungan gaya hidup berlebih-lebihan, adalah fokus Greenfield—fotografer dan sutradara film dokumentr pemenang Emmy—selama 25 tahun terakhir.

Generation Wealth adalah puncak dari upaya ambisius untuk menggali budaya populer memakai sekop pendekatan antropologi. Film dokumenter Greenfield menampilkan kepribadian yang sangat ekstravagan. Antara lain, Florian, manajer hedge fund yang kemudian hidup dalam pengasingan dan menjadi salah satu orang paling dicari di Amerika; bintang porno dan pelacur Kacey Jordan, yang dikenal karena tidur bersama Charlie Sheen pada masa-masa pesta obat biusnya yang terkenal; dan Cathy Grant, seorang ibu tunggal yang menjalani operasi plastik dalam jumlah besar dan akhirnya membayar harga tertinggi ketika putrinya yang remaja melakukan bunuh diri; itu gelap, menantang, dan benar-benar mengasyikkan.

Generation Wealth

Akhir dekade 90an, Lauren menerbitkan sebuah buku berisi gambar dan wawancara berjudul Fast Forward: Growing Up in the Shadow of Hollywood. Itu adalah awal dari pemeriksaannya soal obsesi pada uang, ketenaran, dan akumulasi harta, yang berfokus pada anak-anak LA. Sejak saat itu, dia menyaksikan obsesi ini dengan kekayaan dan statusnya tumbuh ke tingkat yang mengerikan, dipamerkan di sebuah buku yang diterbitkan tahun lalu dengan nama yang sama— Generation Wealth—dan juga film, di mana ia melangkah lebih dalam.

“Kapitalisme telah dipercepat oleh sifat media yang ada di mana-mana dalam hidup kita dan juga oleh globalisme,” kata Lauren. “Ini menciptakan budaya aspirasi, yang saya coba tunjukkan bukan hanya tentang uang, tapi tentang kecantikan dan kemudaan dan ketenaran.”

Untuk memahami bagaimana kami sampai di tempat kami berada, dia kembali ke subjek remaja dari buku pertamanya, untuk mewawancarai mereka lagi—untuk mengungkap jalan yang telah kita ambil sekaligus untuk memahami keinginannya sendiri untuk mendokumentasikannya.

Generation Wealth

Meski tokoh-tokoh dalam film dokumenter Lauren amat mengejutkan, dia tidak menyorot mereka sekadar agar penonton bisa menggelengkan kepala saja, lalu puas dengan pengetahuan tentang keteguhan moral superior kita yang sadar kelas. “Saya ingin motivasi film ini tersampaikan gamblang. Saya benar-benar berusaha untuk tidak memberi penilaian apapun karena saya berpikir bahwa ini adalah pilihan rasional yang Cathy dan Kacey Jordan buat dalam konteks nilai-nilai budaya kita,” katanya.

Karya Lauren menyorot efek puncak kekayaan dan status sosial bagi manusia normal, tetapi tidak memandang hal-hal burjuis itu sebagai sesuatu yang luar biasa. Malah, dengan menarik perhatian penonton dalam keterkejutan saat menonton gaya hidup mewah yang sedemikian berlebihan, sang sutradara ingin kita bercermin di dalamnya. Dengan melihat pada ekstrem, ia memberikan wawasan tentang budaya mainstream. “Wacana yang diangkat film ini bersembunyi di depan mata, intinya kita dipengaruhi oleh budaya populer dan oleh pesan media dan oleh nilai-nilai kapitalisme perusahaan setiap hari,” kata Greenfield. “Sulit untuk melihatnya ketika kamu berada di dalam matriks.”

Karya Lauren sebelumnya termasuk buku Girl Culture (2002) yang menelanjangi pola pikir dan ritual gadis remaja Amerika. Di dalamnya, Shena yang berusia 15 tahun meremas buah dadanya dan berkata: “Saya ingin menjadi seorang penari topless atau gadis panggung … jika saya bisa mencapai itu, maka saya bisa mencapai apa pun.” Ketika kita menjadi semakin terobsesi dengan status sosial, secara bersamaan kita telah mengalami pornificaiton semuanya. Itu bukan kebetulan. “Saya akhirnya menyadari bahwa komodifikasi manusia dan tubuh adalah tragedi utama kapitalisme, ekspresi puncaknya tetapi juga kerusakan akhir, dan bahwa perempuan dan tubuh perempuan merupakan studi kasus luar biasa untuk bagaimana itu terjadi,” ujar sang sutradara.

“Saya mencoba untuk menunjukkan sebuah kontinum antara cara gadis kecil belajar sejak usia dini bahwa nilai mereka berasal dari tubuh mereka, dan kemudian bagaimana itu berkembang saat mereka menjadi remaja. Dan dalam budaya populer, dengan orang-orang seperti Kim Kardashian menjadi kaya, menjadi bintang arus utama karena rekaman seks, dan bahwa tidak memiliki stigma tetapi benar-benar menjadi lencana kehormatan dan cara yang sah untuk mencapai tujuan tersebut—[Saya melihat ] kemana itu membawa kita.”

Generation Wealth

Adegan pembuka film ini adalah Lauren yang sedang mengajukan pertanyaan, “Apa tujuanmu, apa yang kamu inginkan saat mengikuti kontes ini?”

Dia meminta Eden Wood, kemudian seorang berusia 4 tahun dengan bouffant pirang besar, kostum panggung merah muda, dan apa yang tampak seperti semua Sephora di wajahnya. “Uang! Uang, uang uang!” kata si balita peserta kontes ratu kecantikan. “Apa artinya bagi wanita saat mereka menua” kata Lauren, “adalah bagian lain untuk saya. Jika keremajaan, tubuh, dan seksualitas adalah apa yang memberi kamu nilai, maka ada semacam upaya putus asa untuk mempertahankan hal-hal itu seiring bertambahnya usia kamu.”

Iklan

Generation Wealth menggarisbawahi cara masyarakat fokus kembali pada gagasan berpura-pura makmur—pertunjukkan nilai melalui status sosial, kepemilikan, akumulasi barang. Memproyeksikan citra kesuksesan telah menjadi hal yang penting. Terutama di era media sosial. “Latar belakang yang menyedihkan ini bergeser ini selama 25 tahun terakhir, khususnya di AS, adalah mobilitas sosial terkecil yang kami miliki. Pada tahun 70an kami memiliki mobilitas sosial yang jauh lebih nyata. Sekarang kita memiliki lebih sedikit dan kita memiliki lebih banyak konsentrasi kekayaan di tangan segelintir orang, dan karena mobilitas sosial yang nyata menjadi semakin jauh dari jangkauan, mobilitas sosial yang faktual lah yang menjadi satu-satunya jenis gerakan ke atas yang banyak orang merasa bisa dicapai.”

Jadi, kita mau kemana? Lauren menghubungkan situasi yang mengerikan ini dengan apa yang telah kita lakukan terhadap bumi dengan perubahan iklim. Seperti yang dikatakan wartawan dan penulis Chris Hedges dalam film, “Ini seperti akhir dari Roma. Piramida dibangun pada saat penurunan Mesir terjal. Dan itulah yang selalu terjadi, masyarakat memperoleh kekayaan terbesar pada saat mereka menghadapi kematian.” Bedanya, kali ini kita juga merugikan planet ini.

Dokumenter ini terasa seperti ramalan suram, tetapi Lauren melihat masih ada beberapa alasan untuk optimis. Beberapa dari subjeknya akhirnya memiliki kesadaran bahwa usaha yang terus-menerus untuk lebih dan lebih baik, karena ingin menjadi orang lain dan tidak pernah merasa puas tidak bisa memberi mereka kebahagiaan. “Di satu sisi, ketika saya menulis buku [ Generation Wealth], itu memiliki akhir yang sangat gelap. Film ini memberi harapan pada akhirnya, dan bagi saya, harapan benar-benar datang dari kemungkinan ini, yang entah bagaimana dalam mendekonstruksi jenis matriks yang kita tinggali dan melihat hal-hal lebih jelas, bahwa ada kemungkinan untuk bangun dan naik.”

Pada dasarnya, dengan Trump dan sejenisnya, kita menuju titik-bawah budaya—dan untuk mematahkan kecanduan kita terhadap kekayaan dan status, seperti dengan semua kecanduan, kita harus mencapai titik terendah sebelum kita dapat berubah. Sebagai bankir hedge fund, Florian mengatakan dalam film, kita perlu untuk melepaskan diri dari roda hamster berlapis emas ini. Jadi, ketika kita menuju titik terendah kultural dan politik, selanjutnya kita tinggal naik.