Selamat Jalan Bill Gold, Sosok Jenius yang Mendesain Poster-Poster Film Favorit Kita
foto milik billgold.net
Film

Selamat Jalan Bill Gold, Sosok Jenius yang Mendesain Poster-Poster Film Favorit Kita

Seniman ikonik ini tutup usia pada umur 97 tahun.
28.5.18

Poster film pada dasarnya adalah sebuah surat undangan. Poster film yang bagus adalah tiket menembus pintu bioskop masuk ke dalam dunia film yang magis. Mencintai sebuah film sama takarannya dengan keinginan kita untuk mengajak sebanyak mungkin orang untuk menonton sebuah film, dan tak ada yang lebih fasih menyampaikan rasa cinta tadi selain poster film dengan cita rasa seni tinggi. Jika film adalah medium abad 20, maka poster film adalah makelarnya: sebuah portal yang membawa kita masuk melewati pintu bioskop yang magis.

Iklan

Bill Gold, pencipta poster film Casablanca, Dial M for Murder, A Clockwork Orange, Alien, dan ratusan film lainnya, tutup usia minggu ini pada umur 97 tahun. Karya-karyanya dinamis dan selalu bisa menangkap drama, misteri hingga intensitas sebuah film dalam satu adegan saja.

Poster-poster buatannya pernah menghiasi paviliun bioskop dari 1942 hingga 2011. Tak ayal, selama tujuh dekade lamanya, karya Gold benar-benar terpatri dalam beberapa generasi penonton film.

Saat ini, kita hidup di masa di mana studio-studio film besar sepakat menggunakan satu strategi pemasaran saja: poster film besar yang menggunakan template Photoshop yang itu-itu saja, penuh dengan karakter yang ditemploki berbagai waralaba dan barisan mainan. Di zaman rebrand dan reboot ini, poster film hanya bisa jadi kanal yang menyampaikan satu pesan saja: “Oh film ini kelihatan familiar dan selama menontonnya, kamu sejenak akan melupakan dunia di luar bioskop.”

Namun, poster bikinan Gold berbeda. Poster film Gold tak kalah dengan subyeknya. Gold banyak bekerja untuk Warner Brothers dan Malpaso Productions, perusahaan film yang didirikan Clint Eastwood di paruh akhir karinya. Tugas kedua yang dia terima sebagai pembuat poster film Warner Brothers adalah menggarap poster untuk film garapan Michael Curtiz, Cassablanca (1942). Poster yang dihasilkan Gold mengatakan banyak hal tentang film itu tanpa harus membocorkan banyak plot di dalamnya. Gambar tokoh yang diperankan Humprey Bogart diwarnai sementara tokoh-tokoh pendukung lainnya cuma diwarna satu warna aja: merah darah yang agak redup. Namun, dengan poster sesederhana ini ajaibnya Gold berhasil mencuatkan apa yang menjadikan Cassablanca film yang unik: sebuah film noir eksistensial dengan cakupan dan keseruan ala film perang atau petualangan. Senjata yang dipegang Bogart hampir bisa digolongkan sebagai spoiler kalau saja Gold tak menekankan rasa putus asa di matanya Bogart serta di mata karakter Ingrid Bergman.

Bill Gold

Sekembali dari Perang Dunia II, Gold bekerja sebagai art director di departemen periklanan Warner Bros di New York. Poster-posternya dari periode ini menangkap esensi dari ketakutan dan keputusasaan yang mendefinisikan kancah sinema Amerika Serikat pasca Perang Dunia II, yang berkembang bersama realitas kehidupan yang kian sinis dan ancaman kemusnahan oleh bom nuklir yang bisa terjadi kapan saja. Bahasa visual film, dan pada akhirnya poster film, diwarna oleh imajinasi baru pasca PD II yang kentara dengan trauma dan rasa putus asa.

Poster-poster Gold di masa ini membuat kita merinding karena dengan baik merekam mood ini. Semasa perang, Gold memproduksi film pelatihan dan karya-karya seninya pada dekade ‘50an nyaris sinikal karena mengangkat ide-ide dari poster propaganda. Contohnya, posternya untuk film Hitchcock Dial M for Murder sedikit banyak mengingatkan penggemar film pada poster anti komunis “Reds Under the Bed” yang marak ditempel di dinding kota di Amerika Serikat. Keduanya memperingatkan kita akan malapetaka yang dengan rapih bersembunyi di tempat yang sangat kita akrabi.

Iklan

Gold mendirikan Bill Gold Advertising di awal tahun 60an. Dalam kurun waktu yang sama, bersama ilustrator Bill Peak, menciptakan poster bagi beberapa film ikonik dari tahun ‘60an. Poster-posternya bak dicomot langsung dari mimpi-mimpi yang warna-warni. Sapuan kuas awalnya kental dengan gaya fauvisme yang kini diganti dengan liukan Paisley dan warna-warna yang lebih ngepop. Poster Gold untuk My Fair Lady (1964) dan The Music Man (1962) berkilau dengan energi yang muda dan ringkih dari awal dekade ‘60an.

Namun, barulah saat gelombang baru perfilman pada akhir dekade ‘60an dan awal ‘70an—saat studio besar membuka tangannya lebar-lebar menyambut sensibilitas kancah film independen Amerika—karya Gold mampu meleburkan mood serta momen-momen penting pada masanya dan filmnya sendiri. Poster gubahan untuk film Bullitt (1968) menampakkan Steve McQueen bersandar pada garis vertikal super keren yang mewakili modernitas dan keburukan yang mengikutinya.

Gold berhasil menangkap keputusasaan yang muncul dengan cepat pada akhir dekade ‘60an dalam poster Cool Hand Luke (1965) dan film ternama Bonnie and Clyde. Lewat-lewat poster-poster ini, karya-karya semakin kaya dengan semiotik budaya anak muda dan ramalan bagaimana budaya anak muda dipasarkan di masa depan.

Poster-poster buatan Gold pada dekade ‘70an kembali menjadi kelihatan sederhana. Intinya, ngepunk dan efisien. Misalnya, posternya untuk film Stanley Kubrick A Clockwork Orange (1971) menggunakan segitiga bergerigi guna menunjukkan bahwa filmnya penuh kekerasaan, kesangean, atau lebih tepatnya, sange akan kekerasan.

Bagi saya, karyanya yang paling mencengangkan adalah saat Gold diminta menggambarkan teror yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hal ini tergambar jelas dalam poster The Exorcist (1973). Dalam poster film horor legendaris itu, seorang pria berdiri di depan sebuah rumah, di bawah lampu jalan. Penggunaan warna hitam putih dalam poster ini begitu tegas. Yang jelas, dalam bayangan sang tokoh, dalam ketidaktahuan hendak kemana orang ini beranjak (atau bahkan kemana wajahnya memandang) tersimpan horor yang terkatakan yang menjadi nyawa film ini.

Hal yang sama bisa kita temukan di poster Deliverance (1972), yang dibuat dengan cara yang sangat berbeda. Burt Reynold mengayuh kano keluar dari bola mata yang digambar kelewat detail—bola mata yang menjadi stalker sekaligus saksi. Sementara dalam poster Alien (1979), kita cuma disodor judul film tersebut empat kali dalam poster dan siluet manusia berwarna merah—sangat sederhana. Namun, di saat yang sama, poster tersebut berhasil memancarkan ketakutan yang menjadikan Alien sebuah karya yang luar biasa.

Katalog Gold merentang selama tujuh dekade, mulai dari era emas perfilman dunia, kemundurannya, kebangkitannya hingga ke masa saat film mengepung manusia. Kini, kita jarang menemukan studio besar yang mau mempekerjakan seniman pembuat poster dengan visi seperti Gold. Warner Brothers pun sepertinya hanya mau menggarap film yang tinggal mereka angkat dari karya lain seperti novel atau komik. Pada kondisi seperti ini, bagian pemasaran Warner Brothers akan melahirkan film itu sebagai produk semata dan poster film hanyalah bagian dari mimpi buruk pemasaran film yang mereka bikin sendiri.

Gold datang dari masa yang berbeda. Cara kita mengonsumsi media saat ini tak cuma dikaburkan oleh proses pembuatan konten tapi juga oleh bentangan kontennya. Ini tak terjadi di masa Gold. tak ayal, dia bisa menegaskan memori-momori dalam sebuah film. Saya masih ingat dulu waktu saya pertama kali melihat sampul Dirty Harry (1971) di sebuah salah satu cabang Jumbo Video, waralaba penjualan video di Kanada. Saya saat itu cuma berpikir “siapa sih ini yang mukanya dihiasi dengan sapuan warna pink? Terus, saya kok kayak bisa mendengar suara pistol meletus cuma karena liat posternya?”

Keajaiban-keajaiban inilah yang menjadikan karya Bill Gold begitu magis.