Panduan Menikmati Hidup versi Mendiang Anthony Bourdain
Photo by Mike Pont/WireImage via Getty Images.
in memoriam: anthony bourdain

Panduan Menikmati Hidup versi Mendiang Anthony Bourdain

Koki seleb yang dihormati berbagai kalangan ini selama hidupnya rajin memberi berbagai nasehat tentang tips makan enak, cara bertualang, bagaimana agar kita selalu merasa muda, dan tahu kapan waktu yang tepat tak jadi manusia brengsek.
10.6.18

Redaksi MUNCHIES, situs kuliner di bawah naungan VICE, sangat terpukul dengan kabar wafatnya Anthony Bourdain. Chef sekaligus pembawa acara dan penulis kuliner terpandang itu adalah sahabat yang beberapa kali bekerja sama dengan MUNCHIES. Sepanjang karirnya lebih dari 30 tahun bergelut di industri kuliner, Bourdain sudah mengajarkan banyak hal kepada kawan maupun koleganya. Terutama, ajakannya agar kita selalu berpikiran terbuka, berani bepergian ke luar zona nyaman, dan menjajal makanan dari manapun sebagai cakrawala untuk membuka hati dan pikiran. Berbagai media sudah menuliskan obituari yang menyentuh untuk mengenang Bourdain. Kami ingin berbagi pemikirannya, yang diucapkan atau dituliskannya sendiri, untuk direnungi brsama. Berikut adalah sepilihan kutipan ataupun tulisan Bourdain yang menurut kami sangat pantas dibagikan untuk para pecinta kuliner sedunia, yang terserak dari acara televisi, buku, maupun wawancaranya bersama media massa selama bertahun-tahun. Selamat jalan bung, semoga kamu senantiasa makan enak di sana. —Tertanda, tim redaksi MUNCHIES

Iklan

“Pada akhirnya, kita semua adalah warga dunia—dunia yang dipenuhi berbagai jenis bakteri. Sebagian bakteri itu tak berbahaya, lainnya membahayakan. Namun, apakah karena kondisi dunia seperti itu kalian akan memilih naik mobil lapis baja saat menyambangi negara-negara lain, kemudian hanya mau makan di Hard Rock Cafe atau McDonalds? Kenapa kita tidak sekalian saja mengambil risiko, mencoba tanpa ragu rebusan daging ala warga setempat, menikmati olahan daging yang asing, atau dengan gembira menerima tawaran menjajal gulai kepala ikan yang belum pernah sekalipun mampir ke lidah? Aku sendiri tahu apa yang kuinginkan. Aku ingin mencoba semua masakan di dunia ini. Aku ingin menjajal semuanya satu per satu." (dikutip dari Buku Kitchen Confidential)

“Guru BP di sekolah sudah pusing menyaksikan perilaku bengal saya. Mereka beberapa kali bilang ke orang tua saya, kalau "Si Anthony ini butuh lingkungan yang disiplin." Ternyata betul. Saya butuh dapur. Karena di dapur rasanya seperti medan perang, yang dibutuhkan adalah hierarki dan kedisiplinan. Anak bengal macam saya sangat cocok berada di dalamnya. Saya harus patuh pada semua perintah.

Cuma ada dua pilihan: kamu mengacau, atau bekerja dengan benar. Berkat pengalaman di dapur, saya pun akhirnya memiliki tujuan hidup. Yakni terus berlatih menghadapi rasa takut. Tapi pengalaman dapur juga ada efek sampingnya. Di dapur, saya seperti prajurit yang sudah biasa bertempur di garis depan. Namun, begitu saya ke dunia nyata jadi warga biasa, artinya konsumen biasa yang mendatangi restoran lain, saya berubah jadi pengecut. Saya bisa saja mengejek masakan koki lain habis-habisan, tapi selesai makan, saya tidak akan berani mengungkapkannya dan bahkan memberi tips untuk pelayan di sana." (Dikutip dari wawancara bersama The Guardian, 2001)

Iklan

Foto Bourdain oleh James Keivom/NY Daily News Archive via Getty Images

“Aku sejak lama mendambakan petualangan. Aku ingin merasakan sensasi menyusuri Sungai Nung di pedalaman Kamboja. Aku ingin menunggang unta melintasi lautan padang pasir. Aku ingin makan domba bakar yang lemaknya lumer ke seluruh tanganku. Aku ingin mencicipi minuman di klub malam milik Mafia Rusia. Aku ingin menjajal senapan mesin di Phnom Penh. Aku ingin mengenang masa lalu di pesisir Prancis sambil menikmati kerang mentah, aku ingin mendatangi wilayah berbahaya, zona perang, hanya berbekal sebungkus rokok Marlboro, menghadapi rasa takut dan gairah sekaligus. Aku ingin selalu mendapat pasokan adrenalin. Aku ingin mengalami sendiri petualangan seperti yang kubaca semasa kecil dulu dari tiap lembar komik Tintin. Aku ingin melihat dunia, dunia yang membuatku takjub seperti ketika aku menyaksikan film-film." (Dicuplik dari buku A Cook’s Tour: Global Adventures in Extreme Cuisines)

“Pernahkah kalian mencoba memikirkan beberapa hal ini sejenak, mereka yang memasakkan makanan enak untukmu, membersihkan mejamu, yang membukakan pintu hotel buatmu, dan yang menyopirimu ke mana-mana—pernahkah kalian penasaran ke mana mereka nongkrong setelah jam kerjanya usai? Apa masakah favorit mereka?” (Dicuplik dari salah satu episode No Reservations, New York)

(Photo by Craig Barritt/Getty Images for The New Yorker)

“Berani bepergian ke tempat baru akan mengubahmu. Ketika kamu berani mengaruhi hidup ini, melihat dunia, maka akan ada perubahan perlahan yang kau alami. Kamu selalu meninggalkan jejak, sekecil apapun. Sebaliknya, setiap perjalan dan peristiwa dalam hidup turut membekas dalam dirimu. Jejak-jejak itu, dalam tubuh maupun jiwamu, adalah keindahan tak terperi, walau kadang memang ada kepahitan dan rasa sakit di sana. Namun dengan begitulah kau akan berubah dan berkembang sebagai manusia. (Diculik dari The Nasty Bits: Collected Varietal Cuts, Usable Trim, Scraps, and Bones)

Iklan

”Ada satu aturan yang kuterapkan selama bekerja di dapur. Aturan ini kuterapkan secara tangan besi. Ketika aku mengapalai dapur, semua koki, asistennya, dan pelayan tidak boleh memutar musik atau menyukai musik Billy Joel dan Grateful Dead. Jika kamu ketahuan mendengarkan musik dari dua artis tadi, saat maupun di luar jam kerja, maka bereskan lokermu. Kamu dipecat.” (The Nasty Bits: Collected Varietal Cuts, Usable Trim, Scraps, and Bones)

Photo by Fairfax Media via Getty Images

“Jika usiamu masih 20-an, tubuhmu sehat, dan kamu masih punya semangat untuk mempelajari hal baru, maka tak ada alasan bagimu menunda travelling ke tempat baru, makin jauh makin baik. Kalau perlu, tidurlah di lantai dalam perjalanan itu. Apalagi jika kau bercita-cita bekerja di dapur, menjadi seorang koki. Bepergian adalah cara terbaik menuntut ilmu bagi seorang koki. Belajar dari siapapun yang bisa membantu memasak lebih baik lagi, warung, restoran, tenda kaki lima. Carilah kesempatan magang atau belajar langsung pada para ahli yang tersebar di seluruh dunia itu, mereka yang berada di dapur-dapur terbaik planet ini. Uang yang kamu habiskan untuk bepergian dan nyantri di restoran terbaik berbagai negara bakal memberimu pengalaman dan ilmu yang selalu jauh lebih baik dari kuliah kuliner di kampus-kampus ternama. (Medium Raw: A Bloody Valentine to the World of Food and the People Who Cook)

“Aku sering menyinggung aturan 'rumah nenek' ketika ngobrol bareng para pelancong ataupun traveller. Kamu mungkin tidak suka masakan nenek—simbol buat tempat makan asing yang kamu datangi. Menurutmu, daging kalkun panggangnya kematangan, alot, rasanya hambar, atau sayurnya keras. Kamu bahkan mungkin sebetulnya dari dulu tidak suka daging kalkun. Tapi ini rumahnya, dapurnya. Kamu sedang dilayani olehnya. Jadi, enggak usah banyak bacot, makan saja. Setelahnya, jangan ragu bilang ke nenek, 'terima kasih nek atas jamuannya, oh iya, saya enggak keberatan nambah.'" (Medium Raw: A Bloody Valentine to the World of Food and the People Who Cook)

Iklan

“Menurutku tiap orang, lelaki ataupun perempuan, harus menguasai keterampilan dasar memasak telur dadar. Masak telur adalah skill masak paling dasar yang harus dikuasai siapapun. Sebab, jika bisa masak telur, maka kamu bisa minimal menyiapkan sarapanmu sendiri—sarapan kita ingat, adalah asupan makanan terpenting dalam sehari hidup manusia. Dengan belajar masak telur dadar, aku juga percaya orang akan belajar soal teknik membangun kepribadian. Jika kamu kencan dan tidur sama orang yang baru kau kenal, sudah sepantasnya di pagi hari setelah malamnya kalian bercinta, kau bisa memasakkan minimal telur dadar untuk sarapan. Itu perilaku yang baik. Barangkali memang, sebelum kamu belajar nyepik dan mengajak orang tidur bareng, pelajari dulu cara bikin telur dadar yang enak. (Medium Raw: A Bloody Valentine to the World of Food and the People Who Cook)


Tonton dokumenter MUNCHIES nongkrong sepanjang malam menikmati masakan dan minuman enak, sekaligus membahas makna hidup bareng Anthony Bourdain:


“Apa sih makna kemerdekaan? Aku sendiri tidak tahu pasti. Namun, aku percaya, minimal kemerdekaan adalah kau bisa bersantai di suatu siang, tanpa ada tekanan, bebas brcanda, tertawa, dan bersikap ugal-ugalan di tempat yang dulunya tidak memungkinkannya. (Dicuplik dari salah satu episode Parts Unknown, ketika Bourdain mengunjungi Libya)

“Di manakah letak rumah sejati? Sebagian dari kita sudah punya jawaban—tapi jangan lupakan manusia lain yang masih terus mencari "rumah" sepanjang sisa usianya.” (Parts Unknown, Ethiopia)

"Aku dari dulu orang yang sinis. Aku menghabiskan lebih dari 30 tahun bergelut di industri kuliner yang mengajarkanku untuk sinis memandang dunia. Aku kemudian beralih karir menjadi pemandu acara televisi, yang awalnya kupikir akan membuat pola pikirku jadi lebih lunak, tapi ternyata tidak. Aku tetap percaya sinisme adalah jalan terbaik. Sebab, ketikau engkau sinis, kau tak akan cepat membebek orang. Kau tidak gampang terperdaya. Dan ketika kau sinis, kau justru akan bisa melihat mana tindakan yang tulus, tindakan yang pantas kau dukung sepenuh hati. Dunia ini tidak sepenuhnya indah memang. Tapi ketulusan dan rasa cinta itu sungguh ada di luar sana. Cinta memang tidak bisa menyelesaikan semua persoalan, tapi aku masih percaya cinta bisa mengubah keadaan. (diucapkan saat Bourdain diwawancarai MUNCHIES, September 2016)


Jika kalian mengenal seseorang yang sedang tertarik atau memiliki gagasan bunuh diri, luangkan waktu sejenak membantu mereka. Arahkan kawan atau saudara kalian itu kepada beberapa aktivis yang bisa menolong untuk curhat dan konsultasi lebih lanjut.

Salah satunya adalah komunitas Into the Light, yang dapat dikontak melalui saluran ini. Kementerian Kesehatan juga memiliki saluran telepon untuk konseling masalah kejiwaan selama 24 jam, sila kontak di nomor 021-500-454