Artikel ini pertama kali tayang di VICE Austria.
Pada 12 Mei tahun ini, lebih dari 10 ribu warga kulit putih dari berbagai negara Eropa, berkumpul di kawasan ladang Loibacher, di luar Kota Bleiburg, selatan Austria yang berbatasan dengan Slovenia. Mayoritas peserta datang dari Kroasia. Rata-rata adalah simpatisan kelompok ideologi neo-nazi. Mereka berkumpul di tanah lapang tersebut memperingati kekalahan Pasukan Ustaše pada Mei 1945 oleh sekutu saat Perang Dunia II. Bisa dibilang, kegiatan ini adalah pawai pendukung fasis terbesar di Eropa.
Ustaše, yang diratapi kekalahannya oleh ribuan orang tersebut, adalah kelompok paramiliter yang sangat gigih mendukung ideologi fasis. Ustaše bertanggung jawab atas pembantaian ratusan ribu orang di Austria, termasuk etnis Yahudi, gipsi, Serbia, dan minoritas muslim selama Perang Dunia II. Lebih buruknya lagi, Ustaše mendirikan kamp konsentrasi Jasenovac di Kroasia dulu tanpa adanya campur tangan rezim Nazi Jerman.
Lebih dari tujuh dekade kemudian, Ustaše ternyata masih dikenang sebagian pihak sebagai kelompok yang "teraniaya". Ribuan anggota Ustaše tewas dalam pertempuran melawan tentara gabungan Inggris, Prancis, Soviet, dan Amerika Serikat. Kebanyakan tewas di ladang yang jadi lokasi pawai kaum neo-nazi masa kini. Pihak Gereja Katolik Kroasia turut mendukung digelarnya pawai tersebut, dengan alasan motif mereka bukan politik, melainkan hanya misa luar ruangan untuk "mengenang rakyat Kroasia yang tewas dalam peperangan."
"Kami hanya ingin mengenang pahlawan yang tewas akibat perang", kata dua orang yang saya temui ini.
Klaim gereja itu ditolak oleh Yayasan Documentation Centre of Austrian Resistance. Sebab, jika ditelisik secara obyektif, pawai ini jelas acara berkumpulnya kaum Neo-Nazi. Ratusan orang Austria dan Kroasia saja menolak diselenggarakannya pawai tersebut. Walau banyak protes, pemerintah Austria bergeming dan membiarkan pendukung supremasi kulit putih berkumpul.
Dari catatan saya selaku fotografer VICE yang hadir di acara tersebut, klaim petinggi gereja Kroasia segera terpatahkan. Pawai tersebut dipenuhi jargon-jargon politik. Memang sih, tidak ada orang mengenakan simbol Nazi atau atribut spesifik yang mengarah pada ideologi fasis. Namun, banyak sekali pengunjung yang melakukan hormat ala Nazi, termasuk di hadapan polisi Austria yang mengamankan acara. Hukum Austria sebenarnya menganggap hormat Nazi atau atribut partai fasis Jerman itu sebagai pelanggaran pidana.
Tomo Bilogrivić, ketua ormas Gerakan Kroasia Bersatu (United Croatian Right movement), juga beberapa kali melontarkan pidato membela fasisme. Beberapa bendera khas gerakan fasis turut dikibarkan. Hanya ada dua orang yang ditolak masuk ke kawasan pawai karena memakai T-Shirt yang punya sablonan slogan Ustaše, yakni Za Dom Spremni (Untuk Tanah Air). Selebihnya, puluhan orang lain, termasuk anak-anak, bebas melenggang memakai kaos serupa.
Jadi, silakan anda nilai sendiri foto-foto beberapa bulan lalu ini apakah hanya pawai mengenang korban perang atau memang acara kelompok fasis yang perlahan kembali menguat di Eropa.
Simak foto-foto lainnya yang saya ambil dari pawai tersebut:
Kelompok yang menolak pawai membuat graffiti 'matilah fasisme' di aspal
Banyak pengunjung pawai membawa serta anak-anak
Bendera Kroasia mudah kita temui dalam pawai tersebut
Peserta pawai berdoa sebelum menggelar misa
Wajah lelaki ini di-blur karena hormat nazi terlarang di Austria.
Tampak beberapa biarawati, mengingat acara ini didukung Gereja Katolik Kroasia
Ada pula kegiatan pembagian komuni di tengah pawai
Sebagian peserta pawai membawa karangan bunga demi mengenang tewasnya prajurit Ustaše.
Ini foto-foto karangan bunga lainnya demi mengenang sepak terjang Ustaše
Lebih dari 10 ribu orang berkumpul di Lapangan Loibacher.
Sebuah kapel didirikan di tengah lapangan