Kuliner Ekstrem

Wali Kota Seoul Larang Konsumsi Daging Anjing, Usai Nonton Film Mengharukan Soal Anjing

Konsumsi daging anjing di Korsel amat tinggi. Park Won-soon terilhami melawan bisnis penjagalan daging anjing, setelah nonton film animasi berjudul ‘Underdog’.
Gavin Butler
Melbourne, AU
Wali Kota Seoul hendak melarang penjualan daging anjing
Kolase foto via Wikimedia user Jhe213, CC licence 2.0 (kiri); YouTube/EonTalk (kanan) 

Wali Kota Seoul mengumumkan kebijakan menutup semua toko yang menjual daging anjing dan penjagalan anjing di seluruh wilayah ibukota Korea Selatan. Pengumuman ini dia umumkan di bioskop, setelah menonton pemutaran film Underdog: sebuah animasi tentang sekelompok anjing jalanan yang tertinggal di zona demiliterisasi lalu memutuskan "bertualang mencari kebebasan," seperti dilaporkan The Korea Times.

"Setelah nanti semua bisnis daging anjing berhasil ditutup, saya akan menggelar jumpa pers lagi," ujar Park kepada bioskop penuh sesama pecinta film. "Di masa lalu, kita gampang menemukan toko daging anjing di [daerah] Cheongnyangni, tapi semuanya sudah saya tutup dengan berbagai tindakan. Kini, masih tersisa beberapa toko daging anjing. Saya tidak bisa memaksa mereka tutup, jadi saya akan menekan mereka pindah ke kota lain."

Iklan

Sejak dulu, Seoul memiliki sejumlah peternakan anjing dan toko daging anjing di seluruh kota. Padahal ada tekanan dari kelompok aktivis pembela hak hewan lokal untuk membasmi industri yang dianggap kejam itu. Pada 2017, ada lima perusahaan daging anjing terdaftar di Pasar Gyeongdong, menurut The Korea Herald. Dua di antaranya masih menjagal anjing, dan tiga darinya hanya menjual dagingnya. Park kini berjanji “menekan” toko-toko ini dan mengusir mereka dari Seoul.

"Menurut saya penting menciptakan dunia yang damai, aman, dan ramah bagi anjing," ujar walikota sekaligus mantan pengacara HAM ini, "karena manusialah yang menjadi musuh utama dan penyebab kematian [anjing seperti di film]."

Omong-omong, sehebat apa sih film animasi yang bikin walikota Seoul ini segera bertindak melindungi anjing?

Para penonton memuji Underdog karena ceritanya yang menyentuh. Seorang kritikus film menganggap film ini lebih mempesona ketimbang Zootopia "dan mengharukan seperti Inside Out.” Ada pula yang mengulas film tersebut sebagai “film yang membawa kebahagiaan mengharukan pada semua orang.” P

ark mengklaim dia menonton film tersebut demi mencari cara untuk menaikkan tingkat adopsi bagi anjing jalanan” dan mempromosikan kampanye agar warga tidak mengabaikan peliharaan mereka.

"Setiap tahun, 8.500 anjing terdampar di Seoul, dan seperempatnya terpaksa dibunuh karena tidak ada yang mengadopsi mereka. Saya percaya kami harus membangun dunia yang aman bagi hewan,” ujarnya. "Saya pernah dengar ada banyak anjing liar hidup menyedihkan di daerah Gunung Bukhan, pinggiran Seoul. Saya merasa bertanggung jawab jika ingat mereka, dan kesadaran tersebut membebani saya selama menonton film ini."

Iklan

Tonton dokumenter VICE menyorot festival kuliner daging anjing di Kota Yulin yang mengundang kemarahan global:


Daging anjing dikonsumsi di Korea Selatan selama ribuan tahun, biasanya karena dianggap berkhasiat untuk meningkatkan “daya tahan” dan kejantanan laki-laki. Anjing sering dimakan orang Korsel terutama selama boknal, tiga hari terpanas pada musim panas. Bosintang, atau sup anjing, dulu dianggap sebagai kuliner paling lezat di Korsel. belakangan popularitasnya menurun karena kesadaran konsumen untuk tidak lagi makan anjing. Beberapa restoran melaporkan penurunan konsumsi sebesar 20 sampai 30 persen sup anjing per tahun.

Pro-kontra soal daging anjing sudah mewarnai Korsel bertahun-tahun. Pemerintah setempat sempat mempertimbangkan melarang total perdagangan daging anjing di seluruh Korsel. Pada November 2018, pemerintah mengumumkan telah menutup penjagalan anjing terbesar di Korsel, komplek Taepyeong-dong, Kebijakan itu diprotes oleh peternak anjing dan sebagian masyarakat konservatif yang menganggap konsumsi anjing sebagai budaya nasional Korsel. Artinya, resistensi untuk tetap makan daging anjing masih besar di Negeri Ginseng itu.

Komitmen sang wali kota pun mendapat kritikan. Jurnalis Korea Selatan Taehoon Lee menilai sikap Park untuk bertindak keras menutup tempat penjagalan di Seoul takkan menimbulkan hasil positif bagi anjing di Korsel.

“Saya skeptis ditutupnya penjagalan anjing di Seoul akan menimbulkan perubahan signifikan pada kesejahteraan anjing-anjing di jalanan,” katanya kepada South China Morning Post . “Tukang daging tetap bisa menjagal anjing jalanan di kota lain. Setidaknya di Seoul, anjing terlantar dibunuh dengan cepat dan dengan cara yang kurang menyakitkan, sebab ada pemantauan konstan aktivis hewan dan pihak lokal."

"Seharusnya orang jangan tertipu janji perubahan sepele," imbuhnya. "Industri daging anjing jauh lebih besar dibandingkan yang diyakini. Di Korsel saja peputaran uangnya mencapai miliaran dolar."

Follow Gavin di Twitter atau Instagram