Anime

Penggemar Berat 'Dragon Ball Z' Menjelaskan Penyebab Serial Ini Tetap Populer di Abad 21

Manga dan anime lain bermunculan, tapi kisah Goku dkk terus memikat penggemar baru dari generasi muda. Sebab, "Dragon Ball adalah Iron Maiden-nya anime."
Fans pamer tato di Pemutaran Film Dragon Ball Z: Broly di Inggris
Penggemar fanatik memamerkan tato karakter 'Dragon Ball Z'.

Dragon Ball Z sudah seperti wahyu dari langit buatku di umur 14 tahun. Setelah melewati masa-masa gandrung pada kekonyolan kartun anak-anak, aku ganti menggemari kisah garapan Akira Toriyama itu yang penuh drama, pengembangan karakter, dan adegan perkelahian lebay. Planet-planet hancur akibat ulah tokoh protagonis dan karakter jahat yang saling menyakiti satu sama lain, tentunya setelah dialog jelang perkelahian yang panjangnya minta ampun dan bisa menghabiskan satu episode sendiri.

Iklan

Seri asli Dragon Ball (termasuk versi Z) selesai tayang di Jepang pada 1989, jauh sebelum mencapai penonton di negara lain (termasuk Indonesia) akhir dekade 1990-an dan awal tahun 2000-an. Nyatanya sampai sekarang popularitas mangan ataupun animenya enggak menurun. Jumlah penggemarnya secara global malah melonjak, kendati ada jeda 12 tahun tanpa episode baru setelah berakhirnya Dragon Ball GT pada akhir 1997 hingga awal dimulainya Dragon Ball Z 'Kai' pada 2009.

1548870043867-morgan

Penggemar fanatik 'Dragon Ball Z' bernama Morgan

Dengan rilisnya film baru Dragon Ball Super: Broly pada Februari 2019, franchise DBZ akan menarik lebih banyak penggemar dari generasi muda. Anehnya—seperti yang baru saja kami bahas—basis penggemar DBZ yang besar ini bertahan selama bertahun-tahun. Meski sudah dirilis 20 film animasi DBZ sejak 1986, animo penonton terus besar, di banyak negara.

"Banyak sekali permintaan dari penggemar," kata Jerome Mazandarani, ketua operasi perusahaan produksi anime Manga UK. Inggris akhirnya kebagian jadwal edar Broly di bioskop. "Lewat rilisan sebelumnya, Resurrection F [2015], kami melihat penggemar DBZ di Inggris telah melampaui fandom anime biasam hingga menjadi fenomena multigenerasi. Selain Studio Ghibli dan Your Name, DBZ merupakan franchise film anime terbesar di Inggris."

1548869912907-a-and-c

Abigail dan Chris, penggemar Dragon Ball Z fanatik lainnya

Dalam acara pemutaran khusus untuk penggemar di Leicester Square, terlihat sekali betapa penggemar DBZ datang dari generasi berbeda-beda. Fans yang mengantre terdiri dari etnisitas dan umur yang luas banget, bahkan dibandingkan semua fandom-fandom lain yang pernah kulihat. Walau, harus dicatat, keberagaman tersebut ternyata tetap tidak mencakup semua gender: sebagian besar penggemar DBZ adalah laki-laki.

Iklan
1548869302784-winston

Winston, menirukan pose kameha-meha

"Aku nge-fans sama Dragon Ball Z sejak umur 15, dan sekarang umurku 33, jadi ini merupakan hal paling berpengaruh dalam hidupku," ujar satu penggemar bernama Winston. "Dragon Ball Z bukan sekedar anime kesukaan saja. DBZ adalah cerita hidupku. Lebih dari sekedar serial TV, lebih dari sekedar anime – DBZ adalah gaya hidupku. Aku enggak ragu minta naik gaji ke atasan biar bisa beli lebih banyak merchandise Dragon Ball Z. Kalau ada konvensi atau kesempatan bertemu sama tim pengisi suara animenya, aku langsung kerja keras dan memastikan aku bisa hadir. Aku berencana membeli rumah biar bisa diisi memorabilia Dragon Ball Z."

Aku sendiri kagum sama kesetiaan para penggemar fanatik ini. Sebelum nonton Dragon Ball Z, aku sempat nonton beberapa anime lain. Sementara sebagian besar penggemar yang hadir di sini tampaknya berdedikasi karena DBZ yang memperkenalkan mereka ke dunia anime.

1548869262115-IMG_6088

Kakak beradik Shakeel dan Kameel sama-sama cosplay jadi Bezita.

"Kami udah nonton DBZ sejak kecil di Cartoon Network,” kata Shakeel, penggemar asal London yang jauh-jauh datang ke Leicester. "Kami berumur lima atau enam pas pertama kali nonton, dan adegan pertarungannya bikin kami takjub. Kami bisa tonton Dragon Ball Z seharian dari jam 12 malam sampai jam 12 siang."

"DBZ anime pertama yang pernah kami tonton," lanjut adiknya, Kameel, yang tangannya dihias tato anime. "Kalau enggak ada Dragon Ball Z, kayaknya di negara-negara Barat enggak bakalan ada yang suka anime, setidaknya seperti sekarang."

Iklan
1548870490559-tom2

Penulis artikel ini (kiri) ikut menirukan pose kamehameha.

Aku mendengar banyak pengakuan serupa sepanjang malam: "Aku mulai tertarik anime habis nonton Dragon Ball Z di Cartoon Network, dan anime ini mengubah hidupku."

Lucunya, mayoritas penggemar, paling enggak di Inggris, baru kenal DBZ sepuluhan tahun lalu. Jauh tertinggal dibanding negara Barat lainnya. Kenapa penggemar franchise manga ini masih begitu antusias?

"Menurutku streaming ilegal, [situs streaming anime] Crunchyroll, dan Netflix membawa anime ke arus utama di negara Barat, yang menimbulkan stasiun TV lokal kembali menayangkan anime demi menarik ABG, remaja, dan milenial," kata Jerome Mazandarani. "Dragon Ball adalah Iron Maiden-nya anime," karena penggemarnya multigenerasional. Bisa ada bapak-bapak metal tua yang menghadiri acara ini bersama laki-laki lebih muda yang mengenakan pakaian yang sama, lalu ditemani remaja dengan pakaian serupa. Buat aku, Dragon Ball kayak gitu: kita melihat banyak bapak-bapak di Comic Con; karena peninggalan anime ini diturunkan secara organik melalui keluarga dan teman-teman."


Follow penulis artikel ini di @tom_usher_

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.