Sepasang Kakak-Adik Merayakan Kuliner Khas Etnis Minoritas Myanmar
Sisters Phyone Pong Yon​ (left) and Ipkaw Pang​. All photos by the author.

FYI.

This story is over 5 years old.

Kuliner

Sepasang Kakak-Adik Merayakan Kuliner Khas Etnis Minoritas Myanmar

Negara Bagian Wa, di perbatasan Cina-Myanmar, selama ini terpinggirkan. Berkat Root Kitchen & Bar di Yangon, publik bisa menyadari kelezatan masakan khas etnis Wa.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES.

Negara bagian semi-otonom Wa, terletak di perbatasan timur Myanmar dengan Cina kerap mendapat reputasi sebagai surga perdagangan narkoba. Untunglah Root Kitchen & Bar di Yangon berusaha menempis asosiasi tersebut dengan cara menyajikan citarasa asli dari budaya Wa.

"Setiap kali kami mengatakan daerah asal kami, orang-orang selalu kaget, 'Wah gila, gue belum pernah ketemu orang dari Negara Bagian Wa sebelumnya. Kok kalian bisa ngomong bahasa Inggris?'" kata Phyone Pong Yon sambil menggulung mata. Nyatanya, dia justru fasih berkomunikasi dalam beberapa bahasa, selain bahasa Inggrisnya yang luar biasa bagus, hasil bertahun-tahun menempa pendidikan sekolah di Singapura dan Inggris. Mengenakan kaos hitam polos, dia sama sekali tidak terlihat sesuai dengan stereotip yang kerap dilemparkan penduduk Burma terhadap etnik minoritas Wa. "Kalo ngomongin Kachin, orang ingetnya makanan enak; kalo Rakhine, orang ingetnya pantai Ngapali, tapi kalo Wa, mereka mikirnya cuman narkoba."

Iklan

Dari sekitar lebih dari 135 grup etnik di Myanmar, Wa tetap menjadi salah satu yang paling disalahpahami dan distigmatisasi. Merupakan daerah semi-otonom di Negara Bagian Shan dekat perbatasan Cina, Negara Bagian Wa memang jarang dikunjungi penduduk luar. Pernah dikenal sebagai Wild Wa, daerah ini sempat menghilang dari radar selama bertahun-tahun setelah pasukan pemberontak Wa mencapai kesepakatan perdamaian yang tidak meyakinkan di 1989. Biarpun negara bagian ini tetap tidak dianggap oleh pemerintahan Burma, pihak aparat tetap memberikan area ini dan penduduknya kebutuhan hidup. Di bawah pengawasan aparat yang sengaja memalingkan muka, perdagangan gelap mulai dari heroin hingga binatang liar illegal mulai bermunculan. Namun dibalik semua laporan tentang Wa, entah sensasionalis atau akurat, tidak banyak informasi tentang kehidupan sehari-hari 600 penduduk negara bagian tersebut.

Ikan bakar renyah di Root Kitchen & Bar. Semua foto oleh penulis.

"Di media, banyak sekali hal-hal negatif yang dilaporkan tentang warga Wa dan banyak orang main percaya aja," tambah Ipkaw Pang, kakak perempuan Phyone Pong Yon. Biarpun sama-sama besar dengan pendidikan internasional, dia memilih untuk mengenakan kombinasi dari gaya pakaian Barat dengan pakaian tradisional Wa. "Kami merasa negara bagian Wa itu lebih dari sekedar apa yang disajikan media. Kami ingin menciptakan kesadaran yang lebih luas tentang kultur dan makanan kami."

Untuk merealisasikan hal ini, sang kakak-adik awalnya berencana membuka sebuah museum. Namun akhirnya, mereka justru membuka Root Kitchen & Bar di pusat kota Yangon. Biarpun masih belia—23 dan 28 tahun—dan tidak memiliki pengalaman bekerja di restoran, mereka berharap bisa memberikan tamu kesan yang positif tentang negara bagian mereka tersebut.

Iklan

Ketika saya bertemu dengan mereka di jam makan siang, saya kaget melihat bagaimana Root jauh berbeda dibanding satu-satunya restoran Wa lainnya yang lebih apa adanya. "Kami ingin menciptakan sesuatu yang berbumbu modern," jelas Phyone Pong Yon. Dengan perabotan yang kustom dan kehadiran bar cocktail, tempat ini cocok sekali didirikan di daerah urban yang sedang berkembang. Ini juga bagus untuk bisnis, karena tempat ini bisa lebih mudah dijual ke para pekerja NGO dan ekspat, tapi selain itu, ini adalah usaha nyata kami untuk mengubah prasangka orang. "Lagian kami emang doyan minum cocktail. Jadi sekalian aja ada barnya. Terus jadi deh Root ini."

Sarung bantal di sofa dibuat oleh para perempuan etnis Wa.

Jangan salah, dibalik penampilan mengkilapnya, restoran ini memiliki hubungan yang dalam dengan budaya Wa. Sarung bantal dekoratif di restoran ini membutuhkan waktu satu bulan untuk dibuat, karena perempuan Wa yang membuatnya dengan tangan sendiri harus bekerja di perkebunan di siang hari dan baru bisa menjahit di malam hari. Ini merupakan bentuk seni padat karya, seni yang semakin punah karena tidak dipedulikan oleh generasi muda. Produk yang diproduksi massal tentunya akan lebih mudah dibuat, tapi rasanya tidak akan sama. Masakannya pun sama. Makanan-makanan mereka pedas, penuh dengan bumbu yang panas dan banyak dari bahan-bahannya diimpor langsung dari negara bagian Wa. Mengingat transportasi tergolong sulit dan jalan tercepat menuju Wa adalah perjalanan darat dan udara selama dua hari, pengadaan bahan bukanlah hal yang mudah.

Iklan

"Pas baru buka, kami khawatir orang tidak akan suka dengan masakannya karena kami ingin benar-benar menyajikan makanan yang otentik," jelas Phyone Pong Yon. "Kami terkejut ketika para pelanggan berkata, 'Makanan Wa ternyata enak juga. Gak aneh kok.'"

Jauh dari "aneh," makanan yang disajikan di depan saya merupakan masakan khas pedesaan yang sederhana. Ada sup kacang, chicken wing panggang, ikan bakar yang gurih, dan ikan goreng yang bisa anda gulung dengan daun selada, saus kacang dan bihun. Daging kering asap yang kenyal ala Wa, mirip dengan beef jerky, disajikan dalam potongan-potongan kecil dalam salad dan moik, semacam hidangan nasi coklat dengan konsistensi di tengah-tengah antara bubur dan risotto.

"Ketika kelompok etnik lain seperti Kachin datang ke restoran kami, ternyata banyak kemiripan di antara budaya kami," jelas Ipkaw Pang. "Ketika mencoba alkohol Wa, mereka mengatakan, 'Wah ini kayak alkohol Kachin, tapi lebih ringan.'" Minuman spirit yang sedikit manis ini memiliki rasa buah yang nikmat. Mereka kerap dicampur dengan cocktail dan diberikan nama seperti Wa Dream dan Wa Tang Clan. Bahaya deh.

Daging panggang penuh rasa ala etnis Wa.

Makanan dan minuman memiliki sejarah mempersatukan bangsa, bahkan dalam negara yang sangat terpecah belah seperti Myanmar. Lebih dari 100 bahasa dan kultur daerah telah menciptakan jurang perbedaan di negara ini. Semenjak Inggris keluar dari Myanmar di 1948, negara ini harus menghadapi berbagai upaya pemberontakan dari kelompok-kelompok seperti Arakan Liberation Party dan Karen National Union, belum lagi perlawanan brutal yang kerap dilontarkan oleh tentara Burma. Banyak yang menderita akibat junta militer, terutama etnik minoritas. Di bawah sistem demokrasi yang longgar, penderitaan minoritas Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine, yang tidak dianggap sebagai warga Burma oleh pemerintah merupakan contoh krisis HAM yang parah.

Iklan

Untungnya kakak-adik ini tumbuh besar bebas dari elemen-elemen konflik ini. Besar di Singapura, negara yang berhasil meyakinkan berbagai etnik di negaranya untuk saling hidup damai, rasanya masalah ini terlihat sangat jauh dari mata.

"Kami sering melihat berita tentang pertikaian etnik di Myanmar di media Singapura, tapi kami tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi sebelum kami kembali ke sini," jelas Ipkaw Pang. "Ketika kami menyetir di jalan, kadang-kadang kami distop polisi. Kami punya KTP Burma, tapi mereka kemudian berkata 'Etnik Wa nih' seakan ini masalah. Saya selalu ingin bertanya ke mereka, 'Ada masalah apa, pak? Tadi kayaknya kita damai-damai aja sebelum anda melihat KTP saya.'"

Permen khas etnis Wa, rasanya ringan dengan nuansa buah-buahan, sering dicampur cocktail yang berjuluk Wa Tang Clan.

Biarpun membawa label 'etnik' semenjak lahir, kakak-adik ini menghabiskan sebagian besar hidup mereka jauh dari negara bagian Wa. Mereka dan 7 saudara kandung lainnya terpencar-pencar di Singapura, Cina dan negara bagian Wa, sementara orang tua dan relatif kebanyakan tinggal di Burma.

"Empat dari kami tinggal di Singapura," ingat Ipkaw Wang. "Kami sering mencoba memasak moik menggunakan nasih putih di sana, tapi hasilnya tidak pernah sempurna."

Biarpun mereka semua meninggalkan tanah kelahiran semenjak umur 4 tahun, mereka tetap berusaha menjaga hubungan dengan kultur asli mereka dengan cara berbicara menggunakan bahasa Wa satu sama lain. Hingga hari ini, setiap kali mereka kembali ke tanah kelahiran, orang tua mereka akan menyambut lewat perayaan dan makan makan.

Ayam panggang, sup lentik dan nasi lembek semacam risotto.

"Setiap kali kami kembali ke rumah, orang tua selalu menyembelih babi atau sapi. Mereka menyambut kami dan mengundang semua om dan tante dan kami duduk mengelilingi satu meja besar," jelas Phyone Pong Yon. Ternyata meja makan keluarga yang besar itulah yang menjadi inspirasi meja komunal di restoran mereka. Biarpun banyak aspek dari Root muncul dari ingatan kakak-adik, banyak elemen lainnya yang membutuhkan lebih banyak penelitian. "Karena kami tidak pernah besar di sana, pengetahuan kami ada batasnya. Membuka Root sangat membantu, karena kami harus kembali bertemu orang dan sanak saudara dan bertanya, '"Makanannya apa aja sih?'"

Menjaga hubungan dengan budaya asli tersebut merupakan inti dari usaha mereka. Di masa depan nanti, Phyone Pong Yon ingin menggunakan pengetahuannya soal film untuk memproduksi dokumenter pendek tentang Negara Bagian Wa. Kedua kakak beradik ini memiliki rasa apresiasi yang tinggi bagi tanah kelahiran mereka, biarpun mereka juga sadar meninggalkan Wa telah memberikan mereka banyak kesempatan hidup yang lebih baik. Dengan cara mengerti lebih dalam tentang budaya asli mereka, mereka berharap bisa mengenyahkan banyak mitos seputar Wa.

"Orang tua kami selalu berujar, 'Kemanapun kalian pergi, jangan lupa daerah asal. Berbicaralah dengan bahasa ibumu,'" kata Ipkaw Pang. "Semua masakan tersebut adalah alasan kami menamai restoran ini 'Root.' Karena itulah akar budaya kami berdua."