malaysia

Dato Seri Vida, Simbol Perempuan Muslim Baru Asia Tenggara

Miliarder perempuan dari Malaysia ini mendobrak tabu dan membuat kening kaum konservatif berkerut dengan perusahaan kosmetik serta video klip musiknya.
04 Desember 2017, 7:22am
Kolase foto oleh Dini Lestari.

Malaysia tak pernah memiliki sosok seperti Dato Seri Vida. Perempuan otodidak yang sukses menjadi miliarder, pemilik klub sepakbola, membintangi sendiri video klip lagunya yang viral—sekaligus menjadi simbol tak lazim bagi feminitas modern Malaysia.

Dato Seri Vida lahir dengan nama Hasmizah Othman. Sosoknya baru-baru ini menjulang berkat kesuksesan imperium kosmetik pemutih Qu Puteh (secara harfiah artinya “Aku Putih”). Othman bisa dibilang kontradiksi berjalan. Statusnya sebagai seleb membuktikan perempuan di Malaysia bisa saja memiliki segala, selama dia sanggup merancang brand dirinya sepiawai Othman.

Nama Othman mulai wara-wiri tajuk surat kabar Malaysia sejak beberapa tahun lalu. Di luar Malaysia, khususnya di Indonesia dan Korea, Othman mulai dikenal gara-gara video klip single “I AM ME.” Dalam lagu debutnya di bidang tarik suara itu, Othman bernyanyi di bathtub penuh dengan uang kertas Ringgit. Othman menari-nari di kelilingi dayang-dayang di sebelah tas tangan desaier dan perhiasan berbentuk kupu-kupu di tangannya yang kerlap-kerlip.

“I AM ME” sepertinya pantas dinobatkan sebagai videoklip paling absurd dalam sejarah musik pop Malaysia.

“I AM ME” terinspirasi habis-habisan oleh K-Pop, semua adegannya meme-able, serta penuh agenda menegaskan sosok Dato Seri Vida (Othman sama sekali tidak bercerita kenapa memakai nama panggung tersebut) sebagai seleb tenar Negeri Jiran. Di lagu ini, Othman terkesan bernyanyi untuk lelaki gebetannya, “Come to me/ sayang, sayang, sayang!” (darling, darling, darling) dengan cara yang sama seperti seorang penyanyi dangdut—yang terang-terangan memamerkan birahinya lewat lirik-lirik menjurus serta goyangan yang menggoda.

“Othman adalah paradoks femininitas muslim di Malaysia saat ini,” kata Alicia Izharuddin, yang mengajar kajian gender di University of Malaya di Kuala Lumpur, sambil tertawa. Othman bahkan sudah menjadi salah bahasan utama silabus kelas kuliah feminisme neoliberal di Asia.

“Dia menjadi simbol segala macam aspek ideal dari artinya menjadi orang Melayu Muslim di Malaysia saat ini: makmur, relijius dan taat.”

Media mainstream Negeri Jiran keteteran mengkategorikan Othman yang saat ini berusia 46 tahun. Othman mengenakan hijab tapi tak ragu bergoyang bak penyanyi dangdut. Dia berulang kali menggambarkan kesehajaannya sembari mengenakan busa berhias permata. Dia mengidentifikasi diri sebagai ibu yang menganyomi dan pengincar pria-pria muda. Intinya, Othman berhasil menciptakan brand personal dengan cara memanipulasi identitas muslim, feminitas dan kekayaan. Kita memang wajib mengakui semua tindak-tanduk Othman demi mencapai popularitas ini mencengangkan.

Penegasan kesehajaaan dan ketaatan beragama Othman sudah banyak terdokumentasikan dengan baik. Wawancara Othman dengan media dan postingan media sosial sering diwarnai pujian kepada Allah SWT. Di salah satu artikel, Othman mengatakan dalam sehari, dirinya mendirikan solat hajat agar “hidup dan rejeki saya lancar.”

Imej muslim taat adalah bagian integral dalam brand pribadi dan dimaafkan sebagai cara sebagai kanal untuk mengekspresikan diri dan hasratnya ada. Mengacu pada pendapat Krishna Sen, professor Kajian Asia di University of Western Australia, terdapat sejarah panjang tentang perempuan yang “memanipulasi” simbol-simbol religiusitas khas islam guna melindungi keberadaan mereka dalam komunitas sosial tertentu.

“Dari sudut pandang perempuan, mereka ingin mengakui keyakinan mereka tapi tak lantas menghentikan mereka melakukan apa yang mereka sukai,” kata Sen dalam wawancara sebuah wawancara telepon sambil merujuk pada girlband pop berhijab asal Indonesia.

Di waktu bersamaan, media lokal Malaysia secara terus menerus membahas drama hidupnya dan hubungannya yang singkat dengan para laki-laki setengah usianya. Izharuddin berkata bahwa dia menebus hasrat seksual yang ditunjukkan Othman dalam videonya dan kehidupan sehari-hari dengan fasad Muslimah solehah—dan hal ini berhasil.

“Dengan berpenampilan seperti perempuan Malay dengan pakaian sederhana, dia terlindungi dari pengamatan orang-orang di mana dia menunjukkan narasi moral bahwa dia orang yang salihah, yang sangat religius,” ujarnya. “Ini adalah femininitas Muslim yang berlebihan.”

Cara Dato Seri Vida memamerkan kekayaan, seperti di video “I AM ME,” mungkin akan direndahkan pendengar musik Malaysia arus utama jika Othman tidak mendaku sebagai perempuan religius yang bekerja keras agar bisa sukses seperti sekarang. Dia seringkali mengingatkan audiensnya mengenai masa-masa sulit dulu di pedalaman Machang, Kelantan. Dato Seri Vida terbuka soal kematian sang ayah, perpisahan dengan anak-anak laki-lakinya, ditambah semua pengorbanan finansial yang harus dia tanggung sebelum kesuksesannya sekarang diraih. Dengan kata lain, dia mencoba “keep it real.”

Saat pengamat kebudayaan Malaysia mencercanya karena caranya melafalkan “I AM ME". Othman menanggapi kalau itu sekadar persoalan akibat aksen Kelantannya. Hal ini menjauhkannya dari selebritas lain Malaysia yang terasa elit. Pengakuan soal aksen dan latar belakang yang 'ndeso' itu membuat sosoknya lebih membumi bagi perempuan-perempuan kelas pekerja Malaysia di pedalaman yang jarang mencuat dalam media arus utama.

Othman pemberdayaan perempuan dan pencitraan yang cerdas. Meski Othman “[telah menghancurkan] ego laki-laki," tulis salah seorang kolumnis, dia tetaplah produk lingkungan patriarkis di Malaysia. Terlepas dari apakah dia melawan stereotipe gender di ruang komersil, Othman tetap berpartisipasi dalam melanggengkan standar mustahil dan berbahaya bagi perempuan.

Tahun lalu, Kementerian Kesehatan Malaysia melarang peredaran krim pemutih Qu Puteh karena kandungan merkuri yang tinggi. Jadi, apakah Othman betul-betul peduli soal perempuan ataukah dia hanya ingin meraup keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memedulikan risikonya?

Lepas dari berbagai kontradiksi tersebut, Othman, memakai persona Dato Seri Veda, adalah respons terhadap industrialisasi Malaysia sejak 70'an. Industrialisasi yang meminggirkan perempuan seperti Othman.

“Gara-gara industrialisasi, orang Malaysia terobsesi dengan status sosial,” kata Izharuddin. “Kami menyamakan perkembangan nasional dengan industrialisasi, modernisasi, dan kemunculan kelas menengah.”

Di sinilah peran subversif Othman. Setelah sukses mendefinisikan sendiri kekuatan dari feminitasnya, dia berhasil menyembunyikan agenda bisnisnya dalam balutan sutra dan kesalehan Islam, sekaligus sangat efektif dalam kultur budaya pop yang didominasi laki-laki. Othman adalah hasil dari budaya kita yang terkomodifikasi, obsesi kita terhadap seks melalui kuasa lelaki, dan kekaguman kita dengan tontonan dan sinyal kebajikan.

Bisa kita simpulkan Dato Seri Vida telah memenangkan perang kebudayaan di Malaysia, dan bahkan, Asia Tenggara.