FYI.

This story is over 5 years old.

kesehatan

Kenapa Seharusnya Semua Perempuan Boleh Bawa Bayi ke Manapun Juga

Sains mendukung bahwa ada manfaat dari kontak 'kulit dengan kulit' bagi ibu baru.
Akreditasi foto: Frederick Florin / Getty

Setelah kelahiran anak pertamaku, saya syok bukan main. Bukan karena kewajiban mengurus jabang bayi lebih sulit dari dugaan saya (meski nyatanya memang begitu), tapi karena saya merasa sangat berbeda. Tubuh saya masih lembek berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan setelah persalinan. Perut dan payudara saya, yang berat dan ngondoy, terasa betul-betul asing.

Kecemasan saya melejit. Bagiku, periode pascapersalinan jauh lebih berat ketimbang proses persalinan itu sendiri. Saya merasa kurang persiapan selama tiga bulan setelah melahirkan, yang ternyata ada sebutannya: trimester keempat. Saya tidak akrab dengan istilah itu, apalagi memahami bahwa bayi saya sangat bergantung pada saya untuk menjalin ikatan, untuk menyusui, dan untuk menyesuaikan diri dengan hidup di luar rahim.
Dalam beberapa tahun belakangan, sudah banyak tulisan yang membahas periode penyesuaian para ibu dan bayi mereka. Menurut Harvey Karp, dokter anak dan penulis buku laris The Happiest Baby, bayi baru lahir membutuhkan pengasuhan "seperti rahim" untuk perkembangan dan jalinan optimal. Dia menulis panjang lebar soal kebutuhan ini, dalam bukunya, termasuk soal pengasuhan, dekapan, kontak kulit dengan kulit ( skin to skin), dan kenyamanan konstan. Dari sudut pandang seorang ibu, kebutuhan sang bayi bisa membuatnya kewalahan. Tapi hal yang menyelamatkan kewarasan saya, dan membantu bayi saya mendapatkan kenyamanan itu, adalah menggendong sang bayi.
Menggendong bayi telah menjadi tradisi lama di banyak budaya. Tapi, fenomena ini terbilang baru bagi banyak orang tua Amerika yang super sibuk. Ada banyak kain gendongan, tali gendongan, dan alat lainnya di pasaran yang disarankan pada calon orang tua. Ternyata, gendongan dipercaya bisa mengurangi tangisan bayi dan membuat orangtua lebih leluasa menggerakkan kedua tangannya, yang terasa amat membebaskan di periode pascapersalinan (dan bahkan di periode selanjutnya). Namun, penelitian baru menunjukkan bahwa keakraban orang tua dan sang bayi bermanfaat bagi kesehatan mental juga. Dalam The International Journal of Nursing Sciences edisi 2017, ada ulasan yang membuktikan kaitan antara "pengasuhan ala kangguru" atau kontak skin-to-skin antara ibu dan bayinya, yang bisa dicapai dengan menggendong bayi, dengan penurunan tingkat depresi pascapersalinan akibat pemicu hormon oxycotin.
Seluruh mekanisme ini membantu meringankan transisi kontras antara kehidupan di dalam dengan di luar rahim. Menggendong bayi juga bermanfaat bagi para ayah juga, tentunya. Namun dari sudut pandang biologi, menjalin ikatan kuat sangat sehat bagi para ibu karena mereka juga sedang menyesuaikan diri secara fisik maupun emosional—dan seringkali masih meraba-raba keseimbangan antara bekerja dan mengasuh anak. Dan para perempuan seringkali menerima komentar-komentar campur aduk dari dunia luar yang mengabaikan kebutuhan itu seluruhnya, dan juga kebutuhan sang bayi."
Bagi sebagian besar perempuan, terutama perempuan dengan penghasilan rendah, masyarakat seringkali menuntut mereka untuk kembali bekerja dalam beberapa minggu saja setelah persalinan, bahkan sebelum trimester keempat usai, atau sebelum ibu dan anak siap secara emosional dan biologis untuk berpisah. Sebuah tulisan investigatif yang diterbitkan pada 2015 oleh In These Times menemukan bahwa sekitar seperempat ibu-ibu Amerika, tanpa cuti hamil berbayar, terpaksa kembali bekerja setelah dua minggu hanya supaya bisa mencari nafkah. Bahkan perempuan-perempuan dari kelas menengah seringkali kembali bekerja setelah enam minggu, atau jika mereka benar-benar beruntung, setelah 12 bulan. Amerika Serikat tetap menjadi satu-satunya negara tanpa program wajib cuti hamil berbayar. Jadi, meski hal ini masuk akal secara biologis, bahwa ibu dan bayinya membutuhkan kedekatan satu sama lain, industri tidak mengizinkan hal demikian terjadi.
Program wajib cuti hamil berbayar sebaiknya berlaku bagi seluruh ibu untuk mendahulukan kesejahteraan ibu dan bayi, dan meningkatkan kualitas ASI, yang mana terbilang rendah di AS dibandingkan negara-negara lain. Namun bagaimana dengan kebijakan lainnya yang membantu para ibu dan bayi akrab lebih lama, seperti mengizinkan para ibu bekerja dari rumah, dan bahkan menggendong anak mereka di kantor?
Kimberly Seals Allers, advokat kesehatan perempuan dan penulis The Big Letdown: How medicine, big business and feminism undermine breastfeeding menekankan betapa masyarakat meremehkan periode pascapersalinan dan pentingnya pengasuhan orangtua dan anak. Tingkat gangguan mental akibat pascapersalinan lebih tinggi bagi para ibu yang harus berpisah begitu cepat dari bayinya, bahkan setelah 12 minggu, yang menurut Allers perempuan secara rutin bilang mereka sudah beruntung. Dia bilang hal ini masuk akal karena ini bukan peristiwa alami. "Dipisahkan dari bayimu sangat tidak alami bagi setiap spesies hewan. Ketika para perempuan tahu bahwa mereka harus kembali bekerja sebentar lagi, mereka bahkan enggak berusaha menyusui. Lagipula, proses laktasi sangat dipengaruhi tingkat stres, jadi perempuan yang stres menurut laporan cenderung khawatir ASI-nya tak cukup. Hal ini juga menciptakan stres tertentu." Dalam beberapa tahun belakangan, kita telah melihat foto-foto para ibu yang viral, menggendong bayi mereka sambil menyumbangkan suara di Parlemen Eropa. Namun bisakah menggendong bayi di kantor menjadi perilaku yang diterima masyarakat AS? Allers percaya bahwa hal ini bisa menjadi langkah positif dalam kesejahteraan ibu, dan bilang bahwa hasilnya bisa mengizinkan para ibu untuk merasa lebih santai soal kembali ke kantor. "Menggendong bayi dan membawa anakmu ke kantor seharusnya diizinkan," dia bilang. Namun dia juga menyampaikan sebuah poin penting: bahwa kebijakan-kebijakan ini tidak akan membantu seluruh perempuan, karena pastinya ada tempat kerja yang tidak aman bagi bayi. "Mungkin kamu enggak bisa membawa bayi kalau kamu kerja di Starbucks, jadi kita butuh kebijakan yang tidak meningkatkan jurang sosioekonomi dan ras antara mereka yang bisa menyusui dan mereka yang tidak melanjutkan menyusui sebagai hak istimewa ibu karir."
Kita sangat menyukai gagasan seorang ibu yang bisa melakukan segala hal, namun kita tidak memiliki kebijakan yang memungkinkannya, atau setidaknya memudahkannya melakukan hal itu. Sebagaimana disampaikan Allers, "Di negara ini kita hanya memandang hak reproduksi sebagai hak hamil, atau hak untuk aborsi, tapi bagaimana dengan hak perempuan yang sudah melahirkan? Mereka kan punya hak juga. Hal ini mencakup menyusui yang melengkapi siklus reproduksi, yang mengizinkan saya melakukan hal sesuai dengan fungsi organ-organ saya." Membawa bayi ke kantor bukan sebuah pilihan bagi setiap perempuan. Namun mengharapkan perempuan "kembali" seperti sedia kala adalah hal yang tidak realistis terhadap para ibu dan bayinya. Tetap saja, kami secara rutin bertemu dengan gambaran para ibu di majalah-majalah memamerkan betapa cepatnya mereka kembali kurus. Kita melihat para ibu kembali bekerja dalam waktu enam minggu, atau lebih dini lagi. Dan jika kita tidak siap untuk melakukan hal yang sama, kita dibuat merasa bahwa kita gagal sebagai ibu, atau feminis, itu karena kita tidak bisa berpisah dengan bayi kita dengan cepat. Bayangkan hal-hal baik yang akan terjadi jika dunia bersepakat bahwa semua ibu diperkenankan senantiasa terhubung dengan ibunya, bayi beroleh manfaat, di saat yang sama, ibu menjadi lebih berdaya berkat jalinan hubungan itu.