Beda FIFA 19 dengan FIFA 18 Menurut Para Gamers Muda Ini

Kami bertanya pada fanatik FIFA di India. Perbedaannya ada yang bagus, ada juga yang jelek.
9.10.18
Foto: Parthshri Arora

Setiap tahunnya, penggemar sepak bola akan berkumpul di depan layar komputer mereka, bersiap-siap untuk menenggelamkan diri dalam game FIFA terbaru. Tidak seperti FIFA 18 yang memecahkan rekor penjualan, FIFA 19 dirilis pada 28 September kemarin dengan penjualan yang turun sebesar 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Para kritik memuji game ini (dengan Metaskor PS4 sebesar 84, tetapi skor User 2.0). Alasannya kenapa, nih?

Kami hadir di Phoenix Gaming Expo di Chennai akhir pekan lalu ketika FIFA 19 dirilis, di mana kami berbicara dengan penggemar FIFA yang memainkan game-nya untuk pertama kali. Simak ulasan-ulasan pendek dari gamer muda yang membahas gameplay, grafik, dan perbandingan dengan FIFA 18:

Bharat, 16 tahun: Game ini pastinya sudah diperbaiki. Lebih lambat, sih, tapi grafiknya jauh lebih realistis. Tackling juga telah diperbaiki, sedangkan shooting dan sprinting menjadi lebih lambat, kecuali untuk pemain-pemain tertentu. Messi masih bisa sprinting seperti di FIFA 18, tapi pemain-pemain lain enggak. Ya, bagus lah itu. Mainnya seru, dan kelambatan game-nya mungkin bisa berguna untuk pemain-pemain pemula.

Annamalai, 16 tahun: Aku fans berat seri FIFA. Gameplay tahun ini menurut aku enggak sebaik yang tahun sebelumnya. Menyelesaikan game menjadi lebih susah dalam FIFA 19 karena adanya ‘Timed Finishing’, ya mungkin aku harus terbiasa dulu. Aku tadinya berharap banyak yang diperbaiki dalam FIFA 19.

Aku paling enggak suka dengan peringkat pemainnya. Misalnya nih kamu memainkan Varane—salah satu pemain bertahan terbaik di dunia yang memenangkan Piala Dunia, menjuarai tiga Liga Champions berturut-turut, dan diberi peringkat 86. Salah ada di peringkat 87, yang lebih rendah dua peringkat dari Isco di 89.

Mahesh, 20 tahun: Game ini jelas lebih realistis kalau kita membandingkannya dengan FIFA 18, karena gameplay-nya lebih lambat dan ada beberapa teknik baru. Butuh waktu lama juga untuk mengendalikan dan mengambil alih bola yang dioper. First Touch-nya tidak sesempurna game sebelumnya, dan bolanya juga tidak menyentuh kaki. Kelihatannya jadi lebih realistis.

V. Kabdeep, 11 tahun: Tackling enggak termasuk pelanggaran di FIFA 19. Beda banget sama FIFA 18. Aku enggak suka ini. Aku juga kurang sreg sama FIFA 19 karena bola yang ditendang malah keluar stadion, bukannya masuk ke gawang kayak di FIFA 18.

Manoj, 29 tahun: Mainnya jadi beda banget rasanya. Aku sudah aktif main sejak FIFA 08. Kecepatan gameplay di 19 bisa mengikuti aspek teknis pemainnya, tetapi (first touch atau oper bola) jauh lebih susah. Gamenya jadi agak lelet. Butuh waktu lama buat menggiring dan menembak bola. Tapi aku jamin orang yang suka FIFA 18 pasti suka versi terbaru ini. Grafiknya di PS4 bagus banget. Kalau versi PC-nya belum lihat, tapi pasti enggak sebagus versi konsol.

V. Vignesh, 16 tahun: Ada Liga Champions dan mode House Rules baru. Dengan mode ini, kita bisa beralih ke jenis gol atau pelanggaran lain. Model pemainnya sih masih sama kayak dulu, tapi grafiknya sudah lebih bagus. Berbeda dari versi sebelumnya, mengoper bola jadi lebih tepat karena lambat dan mudah dicegat.

Johan, 17 tahun (yang kalah melawan Vignesh): Sebelumnya, kita masih bisa oper bola ke teman setim, lalu dia dengan sendirinya akan menangkap operan itu. Ditendang sekuat tiga bar pun masih aman-aman saja. Kalau di FIFA 19, bukan hanya kita harus mengarahkan operannya dengan tepat, kita juga harus mengecek bar kekuatannya juga. Aku kalah melawan teman karena perubahan di bagian oper bola ini.