Cerita Hantu VICE

Hantu Kum Kum yang Rusak Wajahnya Sebenarnya Mengajarkan Kita Untuk Mencintai Diri

Kum Kum adalah hantu buruk rupa yang wajahnya rusak karena melanggar pantangan dukun. Mengenakan cadar, ia berkeliling dari rumah ke rumah siap mengisap darah perempuan.
Hantu kum kum
Ilustrasi oleh Dian Permatasari

Kami percaya cerita-cerita hantu yang khas Indonesia tidak begitu saja muncul dari ruang hampa. Sebagai folklore, cerita-cerita itu adalah ekspresi kultural suatu masyarakat tertentu, yang diteruskan dari mulut ke mulut, dari generasi satu ke generasi berikutnya. Dalam banyak kasus, cerita hantu bahkan punya peran sosiologis, peran yang jauh lebih besar daripada menakut-nakuti bocah semata. Analisis, cerita, dan telaah kami mengenai hantu-hantu Indonesia itu kami rangkum dalam seri Cerita Hantu VICE yang dirilis untuk meramaikan Halloween 2018. Selamat membaca!

Iklan

Pada satu masa di Batam awal 1990-an dulu sempat merebak cerita hantu baru bernama Kum Kum. Hantu itu perempuan, konon, ia akan berkeliling dari rumah ke rumah, dan di setiap rumah yang ia sambangi ia berusaha memanggil-manggil si empunya rumah dengan mengucapkan “ kum, kum…” di pintu depan.

Wujud hantu itu tak ubahnya manusia, bukan makhluk halus yang tak kasat mata dan bisa terbang, atau bisa menghilang tiba-tiba. Berdasarkan cerita yang beredar dari mulut anak SD ke mulut anak SD lainnya, hantu Kum Kum mengenakan cadar ke mana-mana, bukan karena alasan keagamaan, tapi lebih karena alasan praktis: ia ingin menutup mukanya yang rusak karena melanggar perjanjian dengan seorang dukun.

Kepada si dukun itu, hantu kum-kum pernah meminta agar wajahnya dipermak, dibikin lebih cantik. Si dukun menyanggupi dan meminta Kum Kum menaati sejumlah pantangan, salah satunya Kum Kum tak boleh melihat wajahnya di cermin sebulan setelah ia dibikin jadi cantik.

Pantangan itu dilanggar oleh Kum Kum karena ia penasaran betul seperti apa wajahnya setelah dipermak oleh si dukun, padahal si dukun sudah memperingatkan agar tak melakukan itu, jika dilanggar wajahnya malah berubah jadi buruk rupa. Tapi Kum Kum tak kuasa segera memeriksa wajahnya di cermin Ia kaget sekaget-kagetnya mendapati wajah di cermin hancur tak karuan.

Kum Kum mengadu ke dukun. Mengetahui pasiennya melanggar pantangan, si dukun mengajukan sebuah syarat jika ingin wajahnya kembali cantik seperti sediakala. Si dukun mengharuskan Kum Kum mengisap darah dari banyak perempuan. Hanya dengan itulah Kum Kum beroleh kecantikan abadi.

Iklan

Oleh sebab itulah Kum Kum berkeliling dari rumah ke rumah, berharap bertemu penghuni perempuan yang bisa ia isap darahnya.Kum Kum sebenarnya adalah singkatan dari Assalamwualaikum, namun karena ia pendosa dan musyrik, dan Assalamwualaikum erat kaitannya dengan Islam, ia tak bisa menyebut salam itu secara lengkap. Jadilah ia hanya bisa menyebut penggalan akhirnya saja setiap kali menyambangi rumah calon korban: “kum, kum….”

Aku masih bocah SD ketika mendengar cerita itu dari teman-teman satu sekolah. Namanya anak SD, aku ketakutan banget mendengar cerita itu. Membayangkan hantu Kum Kum dengan mengenakan cadar, nongkrong di teras rumah mantengin pintu depan sambil memanggil-manggil “kum, kum…” terdengar menyeramkan sekali. Aku takut ibu atau kakakku yang perempuan, yang belum mendengar cerita tentang Kum Kum, membuka pintu untuk Kum Kum, lalu hantu itu menggigiti mereka dan mengisap darahnya. Aku tak sanggup membayangkan lebih jauh dari itu.

Aku ingat betul cerita tentang Kum Kum ini karena aku menangis keras ketika mendengar cerita itu dari teman-teman sekolahan. Aku berlari sambil sesenggukan menjauhi kerumunan yang sedang asyik bergunjing soal Kum Kum. Sejak itu aku kerap diejek oleh teman-teman, disebut si penakut yang nangis dengar cerita Kum Kum. Maklum, enggak semua anak nangis mendengar cerita itu. Aku hanya satu dari segelintir anak saja.

Yang lebih memalukan, teman-teman SD-ku sampai sekarang masih ingat betul kejadian itu, jadi jika ada reuni SD, hampir pasti cerita itu diungkit-ungkit lagi. Yah, kalau sekarang sih dijadiin bahan tertawaan saja. Tapi dulu di era pra-google di mana kamu enggak bisa mengandalkan internet untuk mengonfirmasi kebenaran sebuah cerita hantu Kum Kum memang semenakutkan itu.

Iklan

Saking takutnya, sepulang sekolah setelah mendengar cerita Kum Kum, aku langsung menyiapkan rautan pensil bundar bercermin (di Batam disebut pengerok kaca) ditaruh di jendela yang bersebelahan dengan pintu depan. Cermin adalah penangkal yang ampuh mengusir Kum Kum karena dia takut wajahnya makin buruk rupa jika melihat cermin, setidaknya begitu kata teman-teman sekolahan. Selama berhari-hari rautan itu saya taruh di sana dan dengan sengaja bagian cermin saya hadapkan ke luar. Kum Kum, enyahlah kau, jangan ganggu-ganggu ibu dan kakakku!

Seiring berjalannya waktu, seiring aku bertambah tua, aku tersadar sesungguhnya Kum Kum adalah cerita fiktif, hanya satu dari sekian banyak cerita hantu yang marak beredar di Indonesia. Aku pernah membaca (atau mendengar, aku agak lupa) suatu telaah intelektuil kelas obrolan warung kopi yang menyebut ada dimensi religi-politikal dari cerita Kum Kum. Katanya, ada maksud politik di balik tersebarnya cerita Kum Kum.

Pada era 1980-an dan 1990-an awal, sedang ada ketegangan kultural di masyarakat yang dipicu oleh menguatnya nilai-nilai Islam Wahabi yang ekstra konservatif. Gejalanya? Pengguna cadar makin banyak. Sebagai tandingan dari merangseknya aliran Wahabi (yang katanya tak disukai eks Presiden Soeharto), dibikinlah suatu folklore horor yang mudah tersebar di masyarakat. Mereka yang membuat cerita itu paham betul kekuatan folklore dalam mempengaruhi tindak-tanduk warga, apalagi folklore yang berwujud cerita hantu. Maka dihadirkanlah cerita hantu bercadar lengkap dengan segala alternatif plot dan subplot. Dikisahkanlah bahwa ia melanggar pantangan seorang dukun. Disebut juga bahwa Kum Kum mengenakan cadar ke mana-mana. Jika narasi pertarungan kultural ini benar adanya, barangkali perlu dicurigai pula bahwa segala cabang cerita yang berkembang dari Kum Kum itu sebenarnya sudah terencana. Direncanakan oleh siapa? Siapa lagi kalau bukan antek-antek Orde Baru.

Iklan

Boleh percaya boleh tidak dengan telaah itu. Untuk aku pribadi, aku lebih condong pada telaah lain yang sifatnya lebih humanis dan less political. Cerita Kum Kum, menurut telaah yang beredar di redaksi VICE, sebenarnya adalah cerita moral tentang self love atau mencintai diri. Kum Kum dimulai dengan premis yang menyedihkan: seorang perempuan yang tak pede dengan penampilannya sendiri. Ini adalah sebuah masalah yang sangat kekinian adanya, apalagi di era media sosial, era di mana segala sesuatu mesti apik secara visual, kepercayaan diri jadi mudah sekali rapuh.

Tokoh dukun berikut saran dan pantangan yang disampaikan seharusnya tidak diterima mentah-mentah oleh Kum Kum. Seharusnya Kum Kum melihat makna di balik pantangan itu, dengan begitu ia bisa melihat ada maksud mulia di balik larangan si dukun, bahwa sesungguhnya kecantikan itu bukan perkara apa yang kau lihat di cermin, tapi apa yang kamu rasakan di dalam diri, hati, dan jiwa. Batas waktu 30 hari itu sebenarnya hanya ukuran saja, sejauh mana Kum Kum bisa menangkap makna dari saran si dukun.

Tapi apa lacur, Kum Kum saat itu tak mau berpikir kompleks terlebih merenung-renungi soal makna kecantikan. Ia terlalu rapuh dalam menghadapi tekanan media dan kapitalisme yang secara kultural membentuk standar-standar kecantikan sehingga gegabah dalam membuat keputusan.

Andaikan Kum Kum lahir di era sekarang, dia pasti bisa belajar banyak dari kasus Ratna Sarumpaet sang tokoh pencipta hoaks terbaik sepanjang sejarah reformasi atau bahkan sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Ia sampai diuber polisi dan jadi tersangka gara-gara masalah takut ketahuan oplas semata. Melihat kasus itu berpangkal pada rasa rendah diri melihat wajah sendiri, Kum Kum bakal merenung ratusan kali sebelum pergi ke dukun minta wajahnya dipercantik.

Atau sebaliknya, kalau Ratna Sarumpaet pernah mendengar keberadaan Kum Kum dan menimba makna yang terkandung di balik kisah horor itu, barangkali ia berpikir ulang untuk mendatangi klinik permak muka. Ia tak perlu ke sana kalau sudah merasa cantik entah bagaimanapun tampilan fisiknya. Karena sesungguhnya (diulangi, sekali lagi) Kum Kum telah mengajarkan pada kita semua bahwa kecantikan itu pada hakikatnya bukan apa yang tampak di cermin, tapi apa yang dirasa di hati dan jiwa.