kolase
Into the Unknown

Lebih Mengenal Bangsa Kita, Dengan Naik Sepeda Motor Keliling Indonesia

Ahmad Yunus, jurnalis sekaligus petualang yang dulu menghebohkan lewat ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, mengisahkan ulang pada VICE persiapannya keliling 100 pulau selama delapan bulan di atas roda dua.
30.10.18

Ahmad Yunus punya cara jitu menunjukkan kecintaannya pada Tanah Air. Bersama jurnalis senior Farid Gaban, Yunus muda— sepuluh tahun lalu—mencoba menjelajahi gugusan pulau-pulau terluar di Kepulauan Nusantara untuk mencari kisah tentang manusia-manusia biasa yang hidup di nusantara.

Orang-orang biasa adalah sebuah kontra narasi yang ingin Ia suguhkan di tengah kejengahan dan hiruk pikuk Pemilihan Presiden sepuluh tahun lalu. Tulisan Yunus yang dibukukan dengan judul Meraba Indonesia berhasil menjadi "kitab" sekaligus petunjuk, bagi pemuda yang terobsesi menjelajahi Indonesia pada masanya. Ekspedisi Yunus dan Farid juga menuai perhatian media massa, sampai akhirnya mereka berdua diganjar penghargaan Anugrah Tirto Adhi Soerjo atas sumbangsih liputan mereka dalam memajukan jurnalisme naratif di Tanah Air.

Iklan

Dengan motor 100 cc yang dimodifikasi alakadarnya, Yunus mesti menerobos jalan berbatu pesisir barat Sumatera, melewati jalanan gelap gulita Pegunungan Leuser, membelah jalur lintas Kalimantan yang tak pernah dilewati motor sebelumnya, naik turun kapal pengangkut sampai ke pulau yang tak pernah kita dengar namanya demi menemukan paradoks dari klaim-klaim klise soal Indonesia. Iya, Indonesia yang konon negara agraris dan berjaya di lautan. Dari perjalanan itu, Yunus, jurnalis di usia kepala tiga yang pernah menulis untuk Majalah Pantau dan aktif di Aliansi Jurnalis Independen, berusaha merekam suara-suara orang biasa yang di Jakarta abai didengar.

Sepuluh tahun berlalu. Kini Yunus bercerita kepada VICE Indonesia mengenai kenangannya bersama motor butut modifikasi, kerinduannya pada petualangan saat usianya 20-an, hingga hasratnya untuk kembali bertualang.

1541494928488-Ahmad-Yunus-motor

Ahmad Yunus mengendarai Yamaha

VICE: Halo Kang. Dari mana awalnya ide nekat keliling Indonesia bermula?
Ahmad Yunus: Cerita besarnya sih mau pakai kapal Phinisi, idealnya. Tapi mikir lagi pasti budgetnya jadi besar, logistiknya juga membesar, susah lah intinya. Akhirnya nekad pakai motor, itulah ajakan si Mas Farid Gaban. Kalau motornya waktu itu sudah disiapkan sama teman-teman. Pas lihat motornya langsung berpikir, "waduh ini pasti timbul masalah."

Saat baca bukunya beberapa tahun lalu, Kang Yunus banyak membahas motor. Kenapa memilih motor untuk keliling Indonesia?
Sebab motor yang murah meriah praktis perawatannya, terus dipakai oleh kalangan paling bawah. Kalau enggak diapa-apain sebetulnya pakai itu motor enak banget. Nah ini dimodifikasi seperti motor trail. Sebetulnya bisa dipakai sebagai motor trail tapi paling untuk perjalanan pendek saja. Otomatis ada perubahan besar dari segi kelistrikannya, lampunya, joknya. Jadi ketika dibawa untuk perjalanan panjang maka itu jadi masalah besar, hahaha. Masalahnya sih kenyamanannya aja, kalau secara mesin atau rangka ya oke banget. Alasannya pakai motor jenis ini karena ringan jadi oleh dua orang motor ini gampang untuk dinaikin ke kapal, ketimbang pakai motor yang lebih besar. Lalu untuk dinaikkan ke kapal-kapal kecil juga oke, kapal ferry juga enggak makan tempat. Kalau pakai motor besar pasti repot.

Iklan

Cerita apa yang paling diingat selama naik motor keliling Indonesia?
Soal kenyamanan itu yang terasa misalnya jok motornya. Kalau jok bawaan motor kan agak tebal yah, lalu dimodifikasi jadi trail otomatis lebih tipis, akhirnya sakit ke pantat kalau dipakai jarak jauh. Lalu mikir sambil perjalanan tuh lama-lama diganjel joknya pakai macam-macam mulai dari sarung, jaket. Awal-awal masih rapi, tapi perjalanan masuk bulan kedua ketiga dan seterusnya sudah mulai banyak yang kita tempelin di jok supaya lebih nyaman. Kadang saya ketawa aja sepanjang perjalanan, tapi karena ya memang enggak ada pilihan lain.

Rute yang seperti apa sih yang harus dilalui selama delapan bulan tersebut?
Dari Jakarta, ke Sumatra lalu keliling Kepulauan Natuna, terus ke Singkawang, turun terus ikutin jalur perutnya Kalimantan muter sampai Nunukan terus Tarakan. Nah dari situ motor kita kirim ke Flores. Mulai dari Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua itu sudah perjalanan laut semua. Jadi setengahnya pasti sudah laut semua. Setelah kami sampai di Flores, kita ketemu lagi dengan motor kita dan dari Flores sampai ke Jawa kita motoran lagi.

Saat itu apa sih yang ada di kepala ketika memutuskan keliling Indonesia naik motor?
Fokus ekspedisi ini pada awalnya ngomongin masyarakat di kepulauan-kepulauan terluar Indonesia dan isu lingkungannya. Dalam perjalanan ini akhirnya kita bisa melihat banyak hal. Pertama, yang menjadi kewajiban itu bebannya ada di Mas Farid untuk bikin buku foto tentang terumbu karang, tentang mangrove-nya. Di luar itu kita bebas mau mengeksplorasi cerita apa saja. Saya lebih tertarik untuk mendalami cerita soal manusia-manusianya.

Iklan
1541579225973-Fahrid-Gaban-1

Farid Gaban

Persiapan dari dana, gear, dan pengetahuannya bagaimana?
Kalau proyek ini terencana dengan baik kan bisa dihitung sebetulnya dari berapa lama perjalanannya, mau ke mana, dengan cara apa. Itu sangat menentukan proses budgeting. Waktu itu kita menghitungnya Rp500 ribu untuk seminggu. Dalam sebulan kebutuhan di lapangan sekitar Rp2,5 juta, jadi kalau selama 10 bulan kurang lebih 25 juta untuk perjalanan. Kenyataannya kalau dari segi bensin memang murah, lalu ngangkut motor di kapal memang mahal, kalau senang diving pasti akan lebih mahal lagi. Kalau menginap di penduduk ya enggak mahal pengeluaran, sisanya lebih untuk perawatan kendaraan.

Akankah jadi berbeda kalau petualangan itu enggak pakai motor?
Kita pakai motor itu karena murah, aksesnya lebih gampang untuk blusukan ke mana-mana. Manfaat motor sebetulnya mempermudah akses, menjangkau dari satu titik ke titik lain. Mungkin kalau dengan pesawat kita enggak akan merasakan yang namanya menembus perutnya Kalimantan yang jalannya di atas peta saja tidak ada, dan orang-orang lokal pun nggak banyak yang pernah menerobos jalur itu. Kami mengandalkan bertanya pada pedagang yang berkeliling dari kampung ke kampung, ternyata ada jalan tikus yang hanya bisa dilalui motor. Bisa saja keliling Indonesia pakai pesawat atau mobil, tapi nggak ada konektivitasnya, kita nggak bisa ngerasain panasnya, hujannya, debunya. Ini benar-benar ngerasain semua, nikmatnya perjalanan kerasa banget dan perjumpaan dengan orang-orang juga kerasa banget.

Iklan

Sebagai orang yang lahir dan besar di Pulau Jawa, apa saja perbedaan utama yang terlihat saat menyusuri pulau-pulau terluar Indonesia dibandingkan dengan Jawa pada umumnya?
Kejomplangan itu karena memang enggak pernah dilihat dan enggak pernah diurus saja. Saking besarnya Indonesia. Aku juga yakin setahun ekspedisi itu aku tidak melihat apa-apa tentang Indonesia. Kita melihat kurang lebih 50-100 pulau saat itu, ya nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan 17 ribu pulau. Gede banget Indonesia itu. Perjalanan itu akhirnya memunculkan pertanyaan-pertanyaan, “kita mikir gimana ya cara mengelolanya?”, atau “benar nggak sih selama ini sistem yang digunakan dengan mengurus semuanya dari Jakarta?” Kalaupun kita membayangkan otonomi daerah, otonomi yang seperti apa cocok buat Indonesia?” Dengan geografisnya, dengan masyarakatnya yang berbeda-beda, dengan kebiasaan yang berbeda juga. Jadi kita nggak bisa melihat hitam-putih Indonesia dengan sudut pandang dari sini (Jakarta), taraf hidup pun berbeda.

1541494902268-foto-yamaha-lexi-1

Setelah berkeliling dan melihat langsung, masalah apa sih yang dihadapi masyarakat Indonesia di pulau-pulau terluar?
Minimal, kami sepakat bahwa kebutuhan dasar masyarakat kita terpenuhi. Banyak kasus misalnya di suatu pulau, masyarakatnya biasa saja. Bukan mereka miskin, kita melihat potensi mereka dahsyat, misalnya perikanannya. Yang jadi masalah adalah pengolahan ikannya, misalnya ketersediaan esnya, bahan baku, kapal yang kecil. Jadi secara ekonomi mereka sanggupnya ya segitu-gitunya. Bukan karena nggak ada ikannya. Hampir dari seluruh perjalanan yang kami lewati, secara kasat mata saya bisa bilang Indonesia itu surga yang beneran surga. Perhatian ke sananya itu nggak pernah ada untuk menunjang ekonomi masyarakat, jadinya ya seada-adanya.

Iklan

Buku Meraba Indonesia keluar bersamaan dengan tren backpacking di Indonesia waktu itu. Ada yang menilai tren tersebut problematik mengukur dari dampak yang dihasilkan buat masyarakat. Menurut Kang Yunus gimana tuh?
Kalau kita melihat sejarah kalangan backpackers itu ya dari kaum hippies yang mencoba untuk keluar dari kemapanan mereka terus melebur dengan masyarakat dan mencatat dengan apa adanya lewat Lonely Planet. Kita melihat tren backpacker makin naik ketika media sosial makin berkembang, kamera makin oke. Lalu mulai banyak juga media yang ngomongin tentang keindahan Indonesia itu sendiri. Tapi tahapannya masih dalam tahapan wow melihat Indonesia. Reaksinya itu masih tahap awal saja. Mungkin perubahan besarnya pas lagi ada program “Indonesia mengajar” dan program yang lainnya, di mana anak-anak muda berkumpul lalu disebarkan ke luar Jakarta untuk mengajar. Dari situ baru muncul sorotan terhadap aspek sosialnya. Baru dari situ mulai ada yang ngomongin toleransi, ngomongin pendidikan, kesehatan. Tren positifnya adalah menyadari bahwa ternyata banyak hal yang mesti kita benahi kalau ngomongin soal Indonesia.

Masuk ke kehidupan orang-orang biasa?
Iya, memperkuat suara orang-orang biasa. Salah satu medium yang kita gunakan dalam menceritakan perjalanan setahun itu adalah Facebook. Melihat interaksi antara saya di lapangan dan orang-orang lain (di sosial media), mereka terasa seperti dibukakan lembaran-lembaran tentang Indonesia lapis demi lapis. Cerita orang biasa itu bukan cerita yang mengawang-awang, tapi cerita keseharian kan. Waktu itu juga lagi menjelang Pilpres 2009 dan media lagi ramai wacana yang gede-gede, tiba-tiba kita memunculkan tema-tema kecil.

Soal nelayan, atau soal orang suku Bajo yang tidak bisa menyelam lagi karena banyak yang mengalami kelumpuhan akibat selam kompresor. Itu kan kasus yang nggak pernah dilihat media. Di saat ada wacana besar, tiba-tiba kita kayak kunang-kunang saja. Orang-orang itu ternyata ngikutin cerita kunang-kunang ini. Kami tidak berharap banyak, tapi minimal orang jadi ingat kembali dengan tema keindonesiaan tadi. Orang kembali bicara soal nasionalisme, tapi pertanyannya sebetulnya nasionalisme macam apa sih yang diinginkan ketika ide tersebut dibenturkan lagi pada cerita manusia yang kecil-kecil itu tadi.


Artikel ini hasil kolaborasi VICE X Yamaha memperkenalkan varian Lexi - New Black Edition. Skuter matik ini menjadi terobosan terbaru Yamaha, menggabungkan daya tahan dapur pacu 125 CC yang dibekali teknologi VVA, dan kenyamanan berkendara berkat pijakan kaki luas serta jok selebar 785 mm. Alhasil, motor ini sangat tangguh diajak berkendara jarak jauh—motor mereka yang berjiwa petualang.