Inilah sosok-sosok rapper berpengaruh dari Skena Chengdu di Tiongkok
Kolase foto oleh Noisey
Laporan Skena

Tujuh Rapper Cina Ini Mengubah Kota Chengdu Menjadi Pusat Hip-Hop Global

Selain Higher Brothers yang sudah terkenal berkat label 88 Rising, berikut orang-orang yang berjasa membentuk masa depan kancah rap di Tiongkok.

Kota Chengdu di Cina selama ini dikenal berkat penangkaran panda raksasa, pusat makanan pedas, dan kedai-kedai teh yang penuh dengan warga setempat bermain mahjong. Namun bagi penggemar musik rap, ibukota provinsi Sichuan ini sinonim dengan subgenre trap. Grup yang paling dikenal dari skena lokal sudah pasti Higher Brothers, kuartet karismatik dengan lirik konyol dan gaya produksi seru yang menjadikan mereka kolektif hip-hop Tiongkok pertama yang sukses di luar negaranya. Namun Higher Brothers hanyalah satu dari banyak musisi hip-hop Chengdu yang keren. Mereka semua tidak takut mengambil resiko dalam bermusik dan sudah pasti kerennya bukan main.

Iklan

Tidak ada yang benar-benar tahu kenapa musik trap melejit di Chengdu, padahal Beijing atau Shanghai sudah lebih lama memiliki skena musik hip-hop underground. Namun satu faktor yang sering disebutkan orang-orang adalah dialek sengau Sichuan yang dikutip banyak rapper lebih cocok untuk ngerap dibanding Mandarin, bahasa nasional mereka. Masih banyak stigma yang menimpa dialek regional di Cina. Banyak pelajar di universitas Beijing atau orang-orang muda yang berniat masuk ke dalam dunia politik berusaha menghapus jejak aksen daerah mereka. Tapi berkat Higher Brothers dan banyak rapper terkenal Chengdu lainnya, kini dialek Sichuan lebih diakui.

Chengdu Rap House, atau CDC, merupakan detak jantung scene hip-hop kota ini. Dimulai pada 2008 oleh segerombolan rapper muda yang sering kumpul-kumpul dan beradu freestyle rap, CDC sesungguhnya bukanlah sebuah lokasi sungguhan, biarpun kini ada beberapa venue yang diasosiasikan dengan CDC. Banyak pegiat skena masih menyayangkan nasib yang menimpa Poly Center, sebuah gedung kantoran 21 lantai di pusat kota Chengdu yang di masa jayanya menjadi rumah bagi 3 bahkan 4 kelab underground.

Beberapa klab ini sudah ditutup dua tahun lalu ketika kepolisian menemukan peredaran sabu-sabu dalam jumlah besar dikonsumsi oleh para remaja di lorong-lorong gelap gedung ini. Namun Chengdu masih menjadi rumah bagi banyak rapper-rapper muda berbakat. Venue 21+ Little Bar, misalnya, yang saking populernya membuka dua lokasi baru. Ada juga Nuspace, sebuah venue DIY underground kecil yang kini pindah ke lokasi yang lebih besar. Para musisi skena ini juga terbantu oleh kehadiran seorang pengusaha kaya independen yang juga seorang fan hip-hop, dikenal sebagai Simon. Dia mengoperasikan komplek venue dan kelab di bawah kawasan 339 Center, letaknya di pusat kota Chengdu, termasuk sebuah studio rekaman yang bebas bisa digunakan musisi lokal.

Iklan

Ancaman penyensoran masih besar di Cina, tapi rapper Chengdu tidak mengalami tingkat represi yang sama dengan rekan-rekan mereka di Beijing dan Shanghai yang harus terbiasa menghadapi polisi menghentikan acara-acara mereka secara mendadak.

Banyak rapper yang saya ajak ngobrol di Chengdu mengutarakan kecemasan mereka tentang masa depan musisi hip-hop di negara tersebut. Tahun lalu, sebuah acara tv reality show populer The Rap of China menjadi rezeki nomplok bagi banyak rapper underground Cina.

Masalahnya popularitas acara ini menjadi pedang bermata dua. Merasa terancam oleh meluasnya pengaruh musik rap di kalangan di anak muda, Departemen Penyiaran Tiongkok mengeluarkan aturan pada Januari tahun ini yang melarang segala bentuk “propaganda kultur hip-hop,” termasuk tato dan lirik-lirik vulgar tayang di televisi. Kini, sangat sulit di Cina untuk menulis lagu rap tentang seks, obat-obatan, dan kekerasan—apalagi menyinggung urusan politik.

Sejauh ini, rapper Chengdu berhasil menghindari sorotan media, biarpun beberapa orang menyadari lagu-lagu mereka secara misterius menghilang dari internet. Masa depan hip-hop di Cina belum jelas—tapi yang pasti Chengdu akan berperan besar. Berikut kami sajikan profil beberapa seniman yang berjasa membentuk skena hip hop Chengdu jadi menarik seperti sekarang.

BOSS SHADY

Biarpun Higher Brothers membuat Chengdu dikenal oleh pendengar mancanegara, Chengdu sudah mulai menciptakan riak secara domestik pada 2014, ketika rapper lokal Boss Shady menampilkan sebuah track berani berjudul “Daddy Ain’t Going to Work Tomorrow” (Laozi mingtian bu shangban) di sebuah acara kompetisi bernyanyi populer The Voice of CHina. Biarpun lagu tersebut sempat menikmati popularitas sesaat, hip-hop baru masuk ke ranah mainstream Cina tiga tahun kemudian. Tidak takut mengungkapkan kebenaran, Shady merilis sebuah track berjudul “Fuck Off Foreigners” (Gua Laowai) dengan dialek yang kental bulan Agustus lalu, pas banget momentumnya sama hip-hop yang sedang besar-besarnya di Cina.

Iklan

Lagu yang mengandung lirik “Kamu pecundang di negara sendiri / Kamu datang ke Cina supaya diperhitungkan” tersebut membuat dirinya dilarang tampil di Cina selama setahun penuh. Tapi Shady tidak membiarkan para haters menjatuhkannya. Pada bulan Maret, dia mengumumkan lewat Weibo bahwa dia dan rapper asal Chengdu, Ty memulai sebuah label rekaman bernama DISS.

TY.

Tinggi dan berwajah datar, veteran CDC, Ty. dikenal lewat wajahnya yang ngablu dan hook-hook penuh Auto-Tune. Tracknya yang paling sukses, sebuah banger trap 2014 berjudul “Hooked on drugs” (Hai yai shang le yin), mengandung lirik-lirik nakal macam “Bangun tidur langsung make, ambil 5 pound ketamin.” Tidak heran, kemudian lagu ini menghilang dari internet di Cina. Semenjak kemunculan Rap of China, dia mulai merilis materi yang lebih komersial seperti “20,” hasil duet dengan bintang pop Taiwan Cyndi Wang, dan “Tigress,” yang bouncy dan menampilkan Boss Shady.

Sebagai seorang teman dan kolaborator Higher Brothers, dia bergabung dengan kuarter tersebut dan merilis EP tiga lagu, “Gong Cheng Ming Jiu (“Sukses dan terkenal”) bulan lalu. Usai dikontrak oleh label rekaman Warner Brothers Cina, Ty. tampaknya menyandang status rapper solo domestik paling sukses dari Chengdu.

HARIKIRI

Siapapun yang mengikuti Higher Brothers mungkin penasaran tentang Harikiri, sosok misterius yang muncul di kredit EP terbaru mereka, Type-3. Harikiri adalah nama alias dari Andre Alexander, seorang produser dari London yang pindah ke Chengdu dua tahun lalu setelah sempat sebelumnya menimba ilmu di Cina. Ketika bertemu dengannya tahun lalu di Chengdu ketika saya menulis artikel soal Higher Brothers, dia mengaku pindah ke Cina untuk menghindari hirarki senioritas produser di London. "Di sini, kamu enggak perlu menjilat pantat orang lain supaya bisa terkenal," ujarnya. "Kalau karyamu bagus, orang pasti suka denganmu. Tentu saja materi-materi saya bagus, makanya saya terkenal."

Iklan

Ya harus diakui dia bagus sih. Gaya produksi Harikiri sangat cerdas dan eklektik, kadang bahkan berbau virtuoso, tanpa menghilangkan sensibilitas pop yang tinggi. Lagu-lagu yang menonjol dari Type-3 adalah “Nothing Wrong”, yang bernuansa soul dan menampilkan DZ Know, dan “Storm,” yang kontemplatif dan menampilkan Masiwei. Beberapa kolaborasi bagus lainnya dengan Higher Brothers yaitu “No Hook,” menampilkan rapper Amerika berdarah Cina, Bohan Phoenix, dan “Working,” yang menampilkan J. Mag (lihat di bawah).

J.MAG

Kolaborator akrab Higher Brothers, rapper J.Mag lahir di Sudan dan besar di Oman, tempat keluarganya pindah demi pekerjaan. Pada 2015, dia datang ke Cina untuk mempelajari teknik mesin di Universitas Xi’an. Tapi musik rap, bukan teknik, adalah gairahnya—tidak lama setelah tinggal di Cina, dia bertemu dengan Masiwei dan anggota CDC di Internet. Kemampuan berbahasa Cina J.Mag memang terbatas, tapi dia mengaku itu tak pernah menjadi masalah: “Kami berkomunikasi lewat musik.”

Besar mendengarkan hip-hop di Oman yang konservatif, dia mengaku lebih punya banyak kesamaan dengan Higher Brothers dibanding rapper-rapper Amerika. Namun tidak seperti Higher Brothers yang kadang manik, J.Mag dikenal akan musiknya yang nyantai dan flownya yang tidak terburu-buru. Nantikan EP barunya, Light Work, yang akan menampilkan produksi Harikiri dan rapper tamu dari CDC.

顶级玩家A.T.M.

A.T.M., yang juga dikenal sebagai 顶级玩家 (bahasa slang lokal yang artinya kira-kira “Pemain Jagoan”), adalah trio rapper CDC muda yang menciptakan musik trap Chengdu penuh karakter. Album pertama mereka yang penuh percaya diri, First Rate Players, dirilis awal tahun dan disanjung oleh skena rap underground Cina. Lagu yang menonjol di antaranya adalah “Local,” sebuah track tentang kota kelahiran mereka yang menampilkan lapisan verse penuh dialek kental di atas looping beat yang khas. Biarpun anggota A.T.M.—AnsrJ, Lil Shin dan Mengzi—masih terkesan agak generik, mereka punya potensi yang besar. Untuk menyaksikan kehidupan jalanan Chendu, tonton video musik “Local” yang menampilkan para rapper bermain mahjong dengan om-om Sichuan yang asik.

Iklan

T$P

Tergolong nama baru dalam CDC, TSP adalah sosok berdarah Tibet kelahiran Chengdu yang mengaku masuk ke dalam dunia rap setelah bar yang dia buka bangkrut. Semenjak itu, dia mengulik segala macam musik, mulai dari trap, ke dancehall, R&B, dan hasilnya pun bervariasi. Track-track terbaiknya adalah tembang R&B penuh Auto-Tune yang nampaknya didesain untuk membuat tim sensor internet Cina sewot. Lagunya yang paling terkenal, “Wo de Laoshi” (“Guruku”), yang menceritakan harapannya untuk berhubungan dengan salah satu gurunya, sudah dihapus dari internet, tapi tembang bernuansa Drake “Zhege Huai Nanhai” (“Si Cowok Nakal”) layak disimak.

YOUNG13DBABY & Fendiboi

Murid T$P ini, Young13DBaby dan Fendiboi, adalah sepasang rekrutan baru CDC yang datang dari Dataran Tinggi Tibet—dari selatan provinsi Gansu dan Lhasa. Mereka mengatakan, sebagai etnis minoritas di Cina, mereka merasakan semacam kedekatan dengan rapper Amerika—dan kedekatan orang Tibet dengan gigi emas dan rambut gimbal mengingatkan mereka akan grup seperti Migos. Lewat CDC, aku mereka, mereka berharap bisa membawa gelombang baru rap Tibet. Untuk merasakan musik hip-hop Himalaya, simak video musik “Yeti Bandz,” di mana kamu bisa melihat mereka bergaya di depan Potala Palace di Lhasa.


Lauren Teixeira adalah jurnalis lepas yang kini tinggal di Chengdu. Follow dia di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey