ISIS

Dibantu Jihadis Indonesia, ISIS Hendak Bangun Kekhalifahan di Filipina

Strategi desentralisasi wilayah tempur ini dijuluki 'Jihad 3.0' oleh pengamat terorisme. Rencana itu sekarang coba diwujudkan saat militan menyerang Kota Marawi di Mindanao.
27.5.17
Presiden Rodrigo Duterte menjelaskan kondisi terbaru di Kota Marawi. Foto: Associated Press.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Baku tembak antara militer Filipina dan gabungan militan yang terafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) di Kota Marawi, Pulau Mindanao, memasuki hari kelima. Tentara Filipina kini mulai mengerahkan sokongan helikopter tempur dan pasukan khusus angkatan darat, untuk secepatnya memukul mundur ratusan jihadis. Berbagai pakar terorisme sepakat, insiden ini merupakan upaya sel ISIS Asia Tenggara paling serius untuk membentuk provinsi dari Daulah Islamiyah yang berpusat di Kota Raqqa Suriah. Informasi terbaru, jihadis Indonesia diketahui turut terlibat dalam pertempuran Marawi.

Iklan

Militer Filipina memanfaatkan celah pada Jumat untuk melancarkan serangan udara. Barisan militan terbanyak yang masih bertahan di Marawi berasal dari Klan Maute, yakni warga selatan Filipina yang rata-rata beragama Islam. Lebih dari 40 warga sipil terbunuh dalam konflik selama empat hari terakhir, akibat penyerangan mendadak kelompok jihadis. Laporan warga menunjukkan para simpatisan ISIS itu menyandera warga beragama Kristen, menjadikan mereka sebagai tameng hidup. Militan turut membakar gereja dan kantor pemerintahan setempat, membebaskan tahanan dari penjara, serta memicu gelombang pelarian ribuan warga sipil Marawi ke kota lain.

Rohan Gunaratna, Kepala Divisi Riset Pusat Penelitian Terorisme Singapura, meyakini insiden di Marawi adalah upaya pendukung ISIS memecah fokus pertempuran ke wilayah lain, akibat kekalahan demi kekalahan di front Timur Tengah. "Wilayah ISIS semakin mengecil di pusatnya, tapi mereka kini berusaha melakukan desentralisasi," kata Rohan saat dihubungi VICE News. "Bisa dibilang, strategi ini adalah jihad global 3.0, seluruh negara harus siap menghadapi ekspansi global ISIS."

Indonesia baru saja mengalami serangan teror terkait ISIS, ketika bom bunuh diri meledak di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Ledakan yang menewaskan dua pelaku, tiga polisi, serta melukai 11 orang lainnya itu didalangi oleh anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) kelompok yang berbaiat pada jaringan ISIS di Suriah. Di saat bersamaan, laporan intelijen Filipina menunjukkan sebagian militan pro-ISIS asal Indonesia turut serta berperang membantu Abu Sayyaf dan Klan Maute menyerbu Kota Marawi. Dari 31 jasad militan yang tewas saat baku tembak dengan militer Filipina, enam di antaranya teridentifikasi sebagai jihadis asal Indonesia dan Malaysia. Pengamat terorisme meyakini temuan ini menunjukkan ada rantai komando dari markas pusat ISIS, yang menyerukan para jihadis Asia Tenggara untuk bertempur di Filipina saja bila tak bisa berangkat ke Irak atau Suriah.

Iklan

Jaksa Agung Filipina Jose Calida, dalam jumpa pers Jumat Pagi waktu setempat, menyatakan insiden Marawi bukan lagi, "upaya pemberontakan oleh sepenuhnya warga negara Filipina."

"Baku tembak ini sudah melibatkan invasi oleh teroris asing," imbuhnya. "Mereka ingin mengubah Pulau Mindanao sebagai bagian dari Kekhalifahan Daulah Islamiyah."

Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah menetapkan darurat sipil di seluruh Kepualauan Mindanao sampai batas waktu tak ditentukan. Darurat militer itu, menurut Duterte, bisa diterapkan ke seluruh wilayah negaranya dalam rangka menangkal penyebaran ajaran Islam radikal. Filipina merupakan negara mayoritas Katolik. Namun di wilayah selatan, yang luasnya mencapai sepertiga total kepulauan negara tersebut, berdiam cukup banyak penduduk minoritas muslim. Pemerintah Filipina selama empat dekade berusaha memadamkan berbagai pemberontakan yang selama ini dikobarkan kelompok separatis muslim. Kini sebagian bekas pejuang separatis bergabung dengan organisasi teror.

Penyerangan Kota Marawi dimulai pada Selasa dini hari waktu setempat, ketika militer menyerbu lokasi persembunyian Isnilon Hapilon, pemimpin Abu Sayyaf yang dihargai nilai buruan US$5 juta oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat. Serangan itu gagal, Hapilon berhasil kabur, lalu meminta bantuan Klan Maute. Gabungan Abu Sayyaf dan Milisi Maute kemudian melancarkan serangan balasan Selasa pagi ke Kota Marawi.

Iklan

Menurut Gunratna, Klan Maute yang dipimpin kakak-adik Abdullah dan Omar Maute memiliki 300 pejuang loyal. Mereka bahkan lebih kuat dibanding Abu Sayyaf, walaupun selama ini jarang melakukan aksi-aksi teror serius. Kelompok Maute diduga kuat terlibat dalam upaya pemboman dekat Kedutaan Besar Amerika Serikat di Ibu Kota Manila yang gagal November tahun lalu. Klan Maute telah berbaiat pada ISIS. Jika digabung dengan Abu Sayyaf dan sel-sel kecil lainnya, total jihadis ISIS di selatan Filipina mencapai lebih dari 1.000 orang.

Adapun Maute kini berada di bawah komando Hapilon. Sang pemimpin Abu Sayyaf itu mendapat restu dari Khalifah Abu Bakar al-Baghdadi untuk menjadi Emir para militan seluruh Filipina. Markas pusat ISIS membenarkan bahwa para petingginya memerintahkan penyerangan Kota Marawi melalui kantor berita Amaq, media propaganda ISIS.

Abu Sayyaf sebelumnya adalah kelompok teror yang lebih condong pada Al Qaeda. Seiring tewasnya Osama bin Laden, Abu Sayyaf berbalik mendukung ISIS yang jauh lebih frontal mengedepankan kekerasan. "Abu Sayyaf kini menjadi sangat barbar dan brutal seperti ISIS di Timur Tengah sana. Hanya dengan begitu, para militan itu yakin cita-cita mereka bisa tercapai," ujarnya.

Para militan pro-ISIS itu terobsesi pada kekerasan yang sadis dan visual, mereka bagaikan penyuka pornografi kekerasan

Gunratna menyatakan penyerangan Marawi ini mengobarkan semangat para jihadis. Mereka merasa lebih percaya diri karena setidaknya sanggup menguasai kota. Muncul harapan dalam waktu dekat kota ini dapat dipertahankan, sebagai langkah awal pendirian Wilayat, alias Provinsi bagi Kekhalifahan ISIS di Asia Tenggara. "Adanya harapan itu yang membuat pertempuran di Marawi ini sangat penting bagi para militan," kata Gunratna.

Pejabat Pertahanan Filipina kini berusaha membuat zona aman bagi penduduk sipil yang belum berhasil dari Marawi. Bantuan pangan, obat-obatan, dan logistik lain kini dipasok langsung oleh pemerintah, mengingat semua toko tutup akibat adanya serangan teroris. Kota-kota lain di Mindanao, termasuk Kota Davao tempat kelahiran Presiden Duterte, dalam pengawasan ekstra ketat oleh personel militer dan polisi. Juru bicara militer, Jo-Ar Herrera, meyakini Hapilon kini bertahan di tengah Marawi.

Berdasarkan pantauan pengamat terorisme, Filipina selama satu dasawarsa terakhir menjadi lokasi latihan militer utama bagi para jihadis dari seluruh dunia. Seorang warga negara Belize yang terampil membuat bom terbunuh dalam serangan tentara Filipina awal 2017. Sementara jihadis asal Maroko ditembak mati saat terjadi penyergapan April lalu. Kebijakan Duterte memberlakukan darurat militer, menurut Gunratna, sudah tepat tapi tidak akan menyelesaikan masalah. Filipina butuh lebih banyak sumber daya dan peralatan tempur memadai untuk menyerbu prajurit ISIS, serta memperluas akses tukar menukar informasi dengan negara Barat.

Kurang handalnya militer Filipina melancarkan operasi antiteror terbukti membawa bencana. Pada 2015, upaya penyerangan pakar pembuat bom dari Abu Sayyaf, yang bernama Marwan, justru menyebabkan 44 polisi anti teror tewas. Marwan memang tewas, namun ongkosnya bagi pemerintah Filipina teramat besar. Pertaruhan Duterte kini terletak pada kemampuannya merebut kembali Marawi dari cengkeraman militan ISIS.