Kebahagiaan

Dubai Pakai Teknologi Data Demi Mencapai Status Kota Paling Bahagia di Bumi

Aisha Butti Bin Bishr, ketua Komite Smart Dubai, menyatakan Pemkot merekam data pelanggan dalam rangka memperbaiki layanan pemerintah. Tapi benarkah kebahagiaan bisa diukur?
30 Mei 2017, 9:30am
Foto ilustrasi penduduk Dubai dari Tribes of the World/Flickr CC License

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Dubai, Uni Emirat Arab, tidak pernah setengah-setengah. Mereka punya gedung pencakar langit tertinggi di dunia, petugas kepolisian yang menyetir Lamborghini, resor-resor di pulau buatan, dan ketimpangan gaji terbesar di Planet Bumi. Oleh karena itu, pemerintah kota pusat bisnis UEA ini berupaya menghubungkan dan mendigitalkan seluruh aspek kehidupan urban dalam sebuah platform. Tujuannya, menjadikan Dubai kota paling efesien dan "bahagia" di dunia. Yang Mulia Dr. Aisha Butti Bin Bishr, ketua umum Smart Dubai—badan yang menginisiasi rencana besar ini—ngobrol-ngobrol bersama Motherboard di konferensi Smart Cities NYC 2017 untuk menjelaskan lebih lengkap.

Motherboard: Jadi nanti Kantor Smart Dubai akan seperti apa? Apa inspirasi yang mendorong pembentukan departemen itu?
Dr. Aisha Butti Bin Bishr: Inisiasi e-government kami dimulai sejak 2001. Pimpinan kami, Sheikh Mohammed bin Rashin Al Maktoum, sangat percaya bahwa kita bisa mendapat manfaat dari implementasi teknologi pada kota kami. Ini hanyalah tahapan awal gelombang e-government global, dimulai di AS oleh Presiden Bill Clinton. Sebagian besar badan pemerintah di sini meluncurkan aplikasi ponsel pintar untuk menjangkau klien mereka, pengunjung ataupun warga kota Dubai.

Namun lagi-lagi, pemimpin Dubai memutuskan bahwa itu tidak cukup untuk membangun layanan pemerintah pada ponsel pintar, sehingga kita membutuhkan keseluruhan kota, pemerintah maupun sektor swasta, mengikuti perkembangan teknologi—dan dari situlah konsep smart city muncul. Visi kami adalah membuat Dubai kota terpintar dan terbahagia dan misi kami adalah mengimplementasikan hal tersebut dengan memanfaatkan teknologi inovatif untuk mencapai tujuan kami.

Tulang punggung strategi Smart Dubai adalah platform digital seluruh kota disebut Smart City. Bisa dijabarkan sedikit? Ini apa ya?
Kami ingin membawa pengalaman efesien, mulus, aman, dan berdampak ke seluruh penjuru kota, jadi itulah mengapa kami memutuskan bahwa berbagi satu platform digital akan membawa manfaat bagi kita semua. Platform pintar ini terdiri dari lapisan-lapisan berbeda. Bermula dari infrastruktur smart city, di mana kami mencerna data dari database berbeda dalam kota. Lalu ada lapisan aplikasi, di mana kami menyediakan layanan pemerintah berdasarkan data tersebut.

Foto dari arsip pribadi Dr. Aisha Butti Bin Bishr

Fungsinya mirip aplikasi ponsel pintar yang bisa diakses siapapun untuk mendapatkan layanan pemerintah ya? Kira-kira nanti siapa penggunanya?
Ya, hal ini disebut Dubai Now Application, atau Dubai Now Platform dan siapapun bisa mengunduhnya dan menggunakannya untuk layanan-layanan seperti kesehatan, menyetir, visa tinggal, bisnis, tempat tinggal, pendidikan, keamanan dan keadilan, transportasi—orang-orang bisa mengelola setiap aspek keseharian mereka dan menjadi lebih sadar atas hal-hal yang terjadi di sekeliling mereka.

Namun kami juga merancang itu untuk tipe-tipe orang berbeda. Untuk pengelola kota, dari pemerintah maupun sektor swasta; untuk pebisnis dan startup yang ingin mengakses data kota kami; juga untuk para peneliti.

Beberapa tahun lalu Smart Dubai merilis "Happiness Meter" atau "Ukuran Kebahagiaan," sebuah aplikasi yang dirancang untuk menghimpun data dari tingkat kebahagiaan warga, sepertinya sebagai bagian dari visi awal program untuk menjadikan Dubai "kota paling bahagia di bumi." Ini menarik. Tapi juga berpotensi menjadi problematis. Pertama-tama, apa sebenarnya program ini?
Seperti yang kamu ketahui, ada laporan indeks kebahagiaan PBB yang diproduksi setiap tahun. Pemimpin kami berkata, "Saya tidak bisa menanti setiap tahun untuk mengetahui tingkat kebahagiaan rakyatku. Saya ingin sesuatu yang saya bisa lihat dengan seketika."
Dari sana, kami berkata OK izinkan kami membuat platform di seluruh tempat [dalam hal ini, aplikasi di iPads atau teknologi layar sentuh apapun] orang-orang menerima layanan dari pemkot, yang bisa menunjukkan bagaimana layanan yang mereka terima.

Jadi ketika seseorang mengunjungi agensi pemerintah untuk mendapatkan SIM atau yang lainnya, mereka bisa mengklik wajah senang, tak peduli, atau sedih di iPad yang dipasangkan pada ruangan tersebut. Apakah ukuran-ukuran ini hanya ada di agensi pemerintah, atau bagaimana? Apakah hanya untuk konsumen atau pekerja juga bisa memberi nilai atas pengalaman kerja mereka pula?
Pertama-tama kami mulai dengan pemerintah dan kami akan mencoba sektor swasta jadi di kedai kopi manapun, layanan kesehatan manapun, sekolah di manapun, dan bioskop, juga hotel, kamu bisa juga memberikan nilai. Setiap pemimpin yang mengelola organisasi bisa melihat langsung tanggapan dari orang-orang. Dan dia bisa membandingkannya dengan tanggapan yang diterima kompetitornya. Saya tidak akan membocorkan apa yang dilakukan kompetitornya, tapi setidaknya dia akan tahu ukuran kebahagiaan yang diberikan organisasinya, jika dibandingkan dengan pemberi layanan lain pada sektor yang sama.

Kepuasan pelanggan dengan layanan pemerintah dan sektor swasta tentu tidak bisa mengukur kebahagiaan secara utuh. Bagaimana Anda menentukan warga sebuah kota sudah bahagia?
Kami tidak tahu apa definisi kebahagiaan, ya, tahu sendirilah, kebahagiaan saya berbeda dengan kebahagiaan Anda. Namun ada kebutuhan tertentu yang jika dipenuhi, tingkat kebahagiaan orang ini akan meningkat. Pemerintah secara umum bertanggungjawab atas pemenuhan kebutuhan mendasar ini—kami memberikan tempat tinggal, kami memastikan bahwa jalan-jalan dirancang dengan baik dan bahwa tidak ada kemacetan, kami memastikan kamu bisa mendapatkan layanan dengan segera, di manapun kamu berada. Untuk urusan kebutuhan kognitif yang lebih mendalam, kami tidak memahaminya. Kami ingin mengetahui kebutuhan-kebutuhan rakyat dan semoga bisa mengubah kebijakan, sistem, dan layanan kami untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Happiness Meter bukan satu-satunya program kami. Kami punya agenda untuk memastikan semua yang kami rancang dan bangun di kota ini membuat orang-orang lebih bahagia.

Apa tantangan besar yang kamu antisipasi bagi Smart Dubai dalam menjadikan kota lebih bahagia dan efesien?
Tantangannya bukan soal teknologi, karena teknologi justru hal paling mudah untuk diurus. Tantangannya adalah manusianya dan pola pikir mereka. Untuk menjalankan kota-kota pintar ini kami butuh orang-orang yang pintar pula. Kini kota-kota dijalankan dengan data. Jika kamu tidak punya ilmu pengetahuan mumpuni soal cara membaca data, akan amat sulit untukmu. Karena kini adalah ekonomi data. Ini bahkan bukan ekonomi ilmu pengetahuan. Yang membuat Facebook, Uber, AirBnB, Google, dan Amazon kan data. Bagaimana memastikan bahwa warga memiliki keterampilan untuk menjalani Abad 21 adalah tantangan utamanya.