Alasan Avicii Selamanya Akan Dikenang Sebagai Legenda Musik Elektronik Dunia
Salah satu aksi panggung Avicii semasa hidupnya. Foto oleh Mike Pont/Getty Images.

Alasan Avicii Selamanya Akan Dikenang Sebagai Legenda Musik Elektronik Dunia

DJ dan produser rekaman Swedia itu mati muda di usia 28 tahun, dengan kisah hidup begitu berat. Biar begitu, dalam waktu singkat, dia sukses meninggalkan pengaruh besar untuk kancah EDM global.
23.4.18

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey

Akhir pekan lalu, media massa internasional mengabarkan kematian Tim Bergling — DJ dan produser rekaman asal Swedia yang lebih dikenal dengan nama panggung Avicii. Musisi itu yang ditemukan tewas Jumat pekan lalu di Ibu Kota Muscat, Oman. Kematian Avicii menggemparkan internet. Para penggemar di media sosial segera menceritakan betapa lagu gubahan Avicii seperti “Levels” dan banyak lagi lainnya sangat berarti bagi mereka.

Sebagian besar penggemar berusaha mengenang mendiang Bergling dengan menghargai musiknya, bukan kehidupan pribadinya. Ini tidak mengherankan mengingat kancah musik EDM, subgenre musik dance, mengedepankan semangat “ciptakan momen berharga saat ini.” yang membuat melodi lagu-lagu Avicii jauh lebih dikenal daripada penciptanya. Bergling turut menjadi musisi EDM yang mampu menciptakan momen berharga tersebut bagi penggemarnya.

Salah satu faktor yang membuat Bergling sukses sebagai Avicii, karena musiknya bisa dinikmati semua orang, bahkan yang bukan penggemar musik EDM sekalipun. Mereka bisa berdansa dengan lagu-lagu Avicii tanpa perlu mengetahui nama asli sang produser atau seperti apa orangnya. Bergling memang tidak pernah menutup identitas seperti Marshmello (Avicii bahkan pernah menjadi model iklan Ralph Lauren pada 2013), tetapi single-single terpopulernya— seperti Levels pada 2011 dan Wake Me Up yang berkolaborasi bersama Aloe Blacc pada 2013—sukses memuncaki tangga lagu Top 40 berbagai negara, dan sering diputar di radio sampai-sampai orang yang bukan penggemar pun pasti pernah mendengar lagu Avicii.

Sepanjang karirnya, Avicii merilis dua album, yaitu True pada 2013 dan Stories pada 2015, dan sukses meraih platinum di Amerika Serikat karena Wake Me Up. Meskipun begitu, Levels adalah lagu Avicii yang paling terkenal dan disukai orang. Kalau kamu mendengar nama Avicii, lagu pertama yang kamu ingat pasti Levels. (Dalam dunia EDM, seorang musisi bisa sukses hanya dari satu lagu saja, tetapi banyak musisi lain yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dikenal daripada Bergling.)

Dalam Levels, Avicii mensample penggalan lirik “Oh, sometimes, I get a good feeling” dari single Something’s Got a Hold on Me milik Etta James pada 1962. Lagu ini penuh dengan melodi synth yang kencang dan berulang-ulang. Alunannya terus naik sampai akhirnya menurun di akhir lagu. Saat pertama kali mendengarkan Levels, kamu pasti akan langsung merasa terhanyut ke dalamnya. Berbagai perasaan tumbuh saat mendengarkan Levels tergantung momennya. Levels bisa membuatmu ingin melonjak-lonjak sambil menyanyikan lagunya atau berkumpul bersama teman. Satu hal yang pasti, Levels akan membuatmu bersemangat dan bahagia. Inilah yang ingin dicapai Bergling.

Sayangnya, semangat berkarya macam itu menimbulkan masalah bagi kesehatannya, yang kemungkinan besar menjadi penyebab kematiannya. Musisi 28 tahun ini menderita gangguan pankreatitis akut, penyakit yang sering disebabkan oleh kebiasaan konsumsi alkohol terlalu banyak. “Sering dapat alkohol gratis, sayang kalau enggak minum,” katanya kepada kontributor GQ, Jessica Pressler, dalam edisi yang terbit April 2013. Pernyataan ini bisa dibilang peringatan yang seharusnya dia waspadai. Dalam artikel profilnya yangditulis Pressler—yang mengisahkan kejayaan EDM di industri musik dan hal-hal menarik lainnya—ada bagian yang menjelaskan bahwa Bergling semakin sering mengonsumsi minuman keras sejak manggung di berbagai festival musik besar.

Kecanduan alkohol ini membuat Bergling harus dirawat di rumah sakit dan menderita pankreatitis akut. Menurut Pancreatic Foundation, gejala pankreatitis akut yaitu sakit perut “parah dan terus-menerus” yang bisa membuat penderitanya menjalani pengobatan yang lama dan tingkat kematiannya mencapai 10 persen. Bergling mengakui kalau dia “terlalu sering minum” kepada Pressler, tetapi tidak akan minum dua hari berturut-turut. Sayangnya, saat itu adalah waktunya minum-minum ketika Pressler mewawancarainya.

Sebulan sebelum artikel GQ diterbitkan, dokter dilaporkan telah meminta Bergling untuk mengangkat kantung empedunya, tetapi dia menolak. Pada Maret 2014, ia harus menjalani operasi pengangkatan kantung empedu dan usus buntu setelah penyakitnya kambuh, yang menyebabkan dia harus membatalkan rangkaian tur maupun rencana menjadi headliner acara Ultra Music Festival. Penyakit yang diidapnya membuat jadwal konser Avicii berantakan, dan terbukti, 28 Agustus 2017 adalah konser terakhirnya.

Saat saya menulis artikel ini, penyebab kematian Bergling masih belum diketahui, tetapi kita bisa menebak bahwa kesehatan Bergling semakin memburuk lima tahun terakhir akibat konsumsi alkohol berlebihan. Budaya yang bebas di industri musik, khususnya EDM, turut menjadi faktor. Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan serta perilaku misoginis biasa ditemukan di sana.

Meskipun mulai mengalami penurunan, ada rentang waktu (kira-kira dari 2012 sampai 2016) di mana insiden kematian sering terjadi di festival musik EDM. Sejak 2011, tujuh orang tewas pada Electric Daisy Carnival di Las Vegas; Sejak Juli 2017, ada 29 kematian terkait narkoba di festival musik dance yang diselenggarakan oleh perusahaan-perusahaan di Los Angeles. Kita semua tahu kalau narkoba dan minuman keras sudah menjadi bagian dari acara-acara tersebut. Kematian Bergling yang mendadak menunjukkan bahwa penyalahgunaan zat terlarang juga bisa membunuh musisinya.

“Ini waktu yang tepat bagi saya untuk mengubah diri menjadi lebih baik dan dewasa. Anggota kru, label dan keluarga saya sangat mendukung keputusan ini,” ujar Bergling pada 2015 setelah membatalkan rentetan jadwal konser untuk mengatasi masalah kesehatannya. Pernyataan ini membuat kematiannya semakin tragis. Bergling masih sangat muda. Sayangnya, kesempatannya untuk terus maju dan menjadi musisi yang lebih hebat lagi harus terhenti sampai di sini saja. Meskipun begitu, musik dan momen-momen indah yang dia ciptakan selama masa hidupnya akan terus dikenang oleh penggemarnya.

Jangan lupa follow Larry Fitzmaurice di Twitter.