FYI.

This story is over 5 years old.

Kepunahan Satwa

Badak Putih Pejantan Terakhir di Planet Bumi Mati Awal Pekan Ini

Masih ada dua ekor badak putih betina tua yang tersisa di Kenya. Sayang, keduanya mandul. Alhasil kepunahan badak jenis putih utara tinggal menunggu waktu.
Foto Sudan si badak putih semasa hidupnya dari Yayasan Make It Kenya/Flickr

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Sudan, badak putih utara berumur 45 tahun dan pejantan terakhir dalam spesies gajah ini, meninggal awal pekan ini, menurut grup konservasi alam liar WildAid.

Setelah menderita penyakit khas badak berusia lanjut dan beberapa macam infeksi, pengasuh Sudah di Ol Pejeta Conservancy mengambil keputusan berat melakukan tindakan euthanasia pada hewan malang tersebut. Saat ini, masih ada dua ekor badak putih utara yang tersisa, seekor ibu dan anak betinanya bernama Najin dan Fatu. Malang, kedua anggota terakhir subspesies ini adalah dua ekor badak betina lanjut usia. Keduanya pun mandul. Alhasil, peluang badak putih utara selamat dari kepunahan nyaris nol.

Iklan

Para aktivis perlindungan satwa langka selama ini telah berusaha keras menyelamatkan badak putih utara, subspesies badak putih, dari kepunahan. Populasi badak putih utara menurun drastis lantaran praktek perburuan ilegal. Menurut WildAid, setidaknya 1.000 ekor dibunuh oleh para pemburu dalam setahun. Populasi adak putih selatan, subspesies lainnya dari badak putih, kini juga mengalami penuruan drastis. Saat ini jumlahnya hanya mencapai 20.000 ekor.

Satu-satunya opsi yang tersisa untuk menyelamatkan keberadaan badak putih utara adalah dengan mengambil stok sperma dan sel telur dari badak yang sudah mati dan mencoba metode pembuahan in vitro pada badak putih selatan betina, menurut WildAid. Sampai saat ini kita belum pernah berhasil melakukan pembuahan in vitro pada badak. Parahnya lagi, mengembangkan teknik in vitro pada spesies yang berbeda bukanlah pekerjaan yang gampang.

“Kami diOl Pejeta sangat terpukul dengan kematian Sudan. Dia adalah seekor badak yang luar biasa, seorang duta cemerlang bagi spesiesnya. Sudan akan dikenang atas jasa-jasanya meningkatkan kesadaran kita atas bahaya kepunahan yang tak hanya dihadapi badak tapi ribuan spesies lainnya akibat kegiatan manusia yang tak berkelanjutan,” ujar Richard Vagne, CEO Ol Pejeta Conservancy lewat keterangan pers tertulis. “Semoga kelak kematian Sudan bisa dipandang sebagai titik tolak penggalakan upaya konservasi di seluruh dunia.”

Saat ini, semua spesies badak terancam kepunahan. Sebagai catatan, jumlah badak hitam yang tersisa di bumi hanya 5.000 ekor sementara badak bercula satu india tinggal 3.500 ekor. Yang paling parah justru dua spesies gajah di Indonesia.

Data terakhir WildAid menunjukkan bahwa populasi badak sumatra hanya tinggal 100 ekor sementara badak jawa diperkirakan tak lebih dari 60 ekor. Jika perdagangan cula badak dan perburuan liar tak kunjung bisa diperangi, jangan-jangan kematian Sudan bisa menandai kepunahan besar-besaran sebuah spesies bernama badak dari muka bumi.