skateboard

Potret Kancah Skateboard Dekat Perbatasan Korut-Korsel

Olahraga skateboard di Seoul semakin berkembang pesat, meskipun jarak ibu kota itu hanya 56 kilometer dari zona demiliterisasi.
5.4.18
Semua foto oleh Jin Yob Kim

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US

Tampaknya Seoul adalah satu-satunya kota, menurut saya, yang memiliki banyak sekali spot untuk para skater. Meskipun hanya berjarak 56 kilometer dari Zona Demiliterisasi Korea (DMZ), Seoul memiliki ribuan tepian halus yang cocok untuk para skater, lengkap sama polusi udara dan debu di sekitarnya. Dekatnya jarak Ibu Kota dari Korea Utara memang sekilas terasa mengerikan. Untunglah para skater di Korea Selatan sudah terbiasa dengan ancaman perang yang menghantui kapanpun (meskipun baru-baru ini ketegangan antara dua negara menurun secara signifikan). Para skater Korea mengatakan mereka sadar akan ancaman bahaya dari negara tetangganya, tetapi mereka kadung terbiasa sejak kecil. “Saya lahir tahun 1994, beberapa minggu sebelum hari kematian Kim Il-sung. Dari dulu sudah seperti ini,” kata skater dan mahasiswa teknik 24 tahun dari Chuncheon yang meminta untuk dirahasiakan namanya. “Uji coba memang menakutkan, tapi saya mencoba untuk bersikap biasa saja. Enggak ada yang bisa saya lakukan selain itu, kan?”

Iklan

Mereka lebih mengkhawatirkan masalah yang terjadi di sekitar mereka. Di Korea ada istilah sindiran Hell Joseon, yang menurut Wikipedia digunakan untuk mencela kondisi sosio-ekonomi Korea saat ini.

“Saya enggak nyangka kamu tahu Hell-Joseon,” kata Kim Youngjoon, pendiri Candlroute, merek skate di Korea Selatan, sambil tertawa. Padahal istilah itu sering didengar, bahkan oleh turis asing. Saya tinggal di Seoul dan Suwon sejak awal 2011 dan selalu teringat pada kondisi tersebut. Bee-jay, skater asal Korea-Singapur, menjelaskan bahwa Hell-Joseon menyimbolkan kesengsaraan hidup mereka. “Kalau kamu tidak terlahir di keluarga tajir, hidupmu akan sulit. Ini menunjukkan ketidakpuasan kami akan kondisi masyarakat Korea saat ini. Memang banyak kemajuan di sini, tapi saya cemas dengan masa depan. Banyak orang yang juga merasakan itu.”


Tonton juga dokumenter VICE soal kancah skateboard Cina:


Meskipun Korea diberitakan memiliki kesuksesan ekonomi, tapi negara di Asia timur ini tak lepas dari korupsi. Mantan presiden Korsel tahun lalu dihentikan jabatannya atas klaim korupsi besar-besaran yang melibatkan eksekutif Samsung, mantan menteri, dan petinggi universitas. Min-ji mengatakan bahwa, “Tekanan keluarga dan sosial yang luas yang menyengsarakan kita. Masyarakat hierarkis yang terlalu banyak menuntut sesuatu, bukannya memberikan harapan.” Kasus bunuh diri adalah penyebab kematian keempat yang sering terjadi di negara tersebut— tingkat tertinggi di negara industri. Min-ji mencontohkan insiden kematian bintang K-pop Kim Jonghyun, yang diduga bunuh diri pada Desember 2017. “Dia yang terkenal saja tidak tahan dengan tuntutan pekerjaannya yang tinggi.”

Banyak anak muda Korea yang mencari talchul (pelampiasan) dari tekanan sosial yang membebani mereka. Salah satunya dengan memanfaatkan visa kerja dan pindah sementara ke Jepang atau Australia; alternative murahnya dengan bergabung di komunitas skater. Jin Yob Kim, pendiri majalah skate berbasis di Seoul, The Quiet Leaf, menjelaskan bahwa “nilai Konfusianisme, perang, kemiskinan, penindasan dan penolakan dalam lingkungan kerja, keinginan untuk mandiri secara ekonomi, kecenderungan patriarki dan hierarki, urbanisasi dan digitalisasi memberatkan kami, sedangkan budaya skate yang terkenal ‘anti-sosial’ tidak.”

Skate memang jalan keluar terbaik. Tontonlah Gyesok Gyesok, video skate pertama oleh Vans Korea. Video yang difilmkan dan diedit oleh Jisuk Hwang adalah showpiece VX yang mengingatkan pada Spirit Quest Colin Read (2016). Video bervisual warna muted yang diedit dan difilmkan secara apik ini menampilkan Seoul sebagai skatepark urban yang besar.

Skating tidak hanya sekedar meluncur di atas skateboard. Aktivitas dan gaya hidup yang menyertainya berfungsi sebagai penyeimbang latar belakang sosiokultural dan politik negara yang cukup konservatif ini. Salah satu skater yang muncul di Gyesok Gyesok adalah Hyunjun Koo. Dia tampak memiliki tato wajah meskipun negara mengilegalkan tattoo artist. Dia menjelaskan di promo terbarunya: “Tidak peduli kalau kamu berbeda dari kami, yang penting kamu menemukan apa yang kamu ingin lakukan dan gapailah itu.”

Setelah Ko Hyojoo menjadi ikon fesyen saat video “aksi” skatingnya viral pada 2016, semakin banyak perempuan yang tertarik dengan olahraga skateboard. Banyak muda-mudi yang memasuki sekolah skate, termasuk yang dikelola oleh One Star dan toko skate Tussa. Oahraga ini menjadi populer di tengah ketidaksetaraan gender yang parah, di mana feminisme masih dianggap tabu.

Saya sempat berbicara dengan skater queer asal Daegu, kota terbesar keempat di Korea Selatan, yang memuji skena skate di Korea Selatan karena menerima perbedaan. “Homofobia memang masih sangat berakar di aspek masyarakat Korea, tapi saya merasa aman dan diakui para skater. Sering ada skater yang menghina saya, tapi biasanya karena mereka tidak tahu apa-apa tentang queer. Anggota komunita tidak terlalu mempermasalahkan seksualitas saya, tidak seperti rekan kerja.” Dia meminta saya untuk merahasiakan namanya, “Bukan karena takut apa yang akan dipikirkan teman-teman sesama skater (yang sudah mengetahui siapa aku sebenarnya), tapi karena khawatir bisa berdampak buruk pada status sosial dan peluang karier saya.”

Iklan

Kancah skate di Korea Selatan masih tergolong kecil, tapi telah berkembang pesat. Lagipula, baru enam tahun sejak skater Korea pertama kalinya dianggap memenuhi syarat untuk mengikuti ajang skateboard internasional. Lapangan skateboard memang belum ada di pertengahan 1990, tapi sekarang mereka sudah memiliki lebih dari 75 lapangan yang dibangun perusahaan kontraktor ESP Korea.

Akhir dekade 2000-an, skateboarding serta merek-merek Amerika seperti Thrasher dan Supreme (dan barang tiruan mereka) semakin populer di kalangan remaja. Artis-artis K-pop mulai berpose dengan skateboard, yang mengarah ke masuknya arus skater baru. Tapi bagi desainer pakaian, Kim Youngjoon, kepopuleran ini menjadi simbol street culture Korea: “Industri fesyen Korea mudah berubah, tergantung kapan artis K-pop memakai barang-barang baru. Belakangan ini, Thrasher memiliki pengaruh yang besar di street fashion Korea, meskipun 60 persen orang yang memakainya tidak tahu kalau itu majalah skater… Para skater di Korea jadi malas pakai hoodie Thrasher sekarang.”

Para skater lebih tertarik dengan merek lokal seperti Kadence Skateboards dan Candlroute-nya Kim Youngjoon karena tidak terlalu dikenal artis K-Pop dan K-Drama. Skena skate Korea berusaha keras untuk menciptakan identitasnya sendiri. Kalau kamu tidak mau bekerja sebagai pegawai kantoran, kamu bisa menjadi skater profesional, atau videografer, desainer pakaian, atau editor majalah skater. Yang paling penting, olahraga skateboard tetap jadi pelampiasan terbaik, menawarkan kesenangan dan bukan kesengsaraan.

Follow Sander Holsgens di Twitter.