Berbuka Puasa Bersama Komunitas Tionghoa Muslim di Resto Sulaiman
Semua foto oleh Renaldo Gabriel.
ramadan

Berbuka Puasa Bersama Komunitas Tionghoa Muslim di Resto Sulaiman

Suasana restoran dengan menu otentik Cina Daratan ini membalik beragam sentimen SARA yang masih marak di Indonesia. Islam dan Tiongkok jelas punya sejarah panjang.
16.6.17

Sebetulnya sangat mudah mencari restoran menyediakan masakan Cina halal di Jakarta atau kota-kota lain. Namun sangat sedikit yang citarasanya otentik seperti Restaurant Sulaiman. Bedanya apa sih? Jangan salah. Mayoritas restoran Cina halal sebetulnya cuma melakukan siasat mengganti daging. Dari seharusnya babi, diubah menjadi daging sapi atau ayam, lalu disesuaikan bumbunya. Sebaliknya, Resto Sulaiman, yang terletak di Pecenongan, Jakarta Pusat, menyajikan olahan kuliner Tiongkok daratan yang sejak awal dirancang sebagai menu halal. Sajian-sajian Sulaiman merupakan warisan budaya masyarakat etnis Hui yang memeluk agama Islam. Hui, mayoritas tinggal di Shaanxi, hanya satu dari tiga kelompok muslim terbesar di Tiongkok. Dua lainnya adalah Etnis Uighur yang tinggal di Provinsi Xinjiang, serta sebagian warga etnis Han (mayoritas di seantero Cina) dari Provinsi Yunnan dan Henan. Itu belum mencakup 56 suku lain yang juga memeluk Islam di Negeri Tirai Bambu.

Iklan

Sulaiman Wu Di, pemilik Restoran Sulaiman, tak cuma menawarkan resep khas Shaanxi yang terkenal halal, bahkan di Cina sana. Dia pun menjual beberapa menu otentik dari tradisi masyarakat Uighur. Jangan kaget kalau kekuatan utama restoran ini adalah kari, olahan daging domba, sop daging sapi, serta roti gepeng bakar. Menu-menu semacam itu niscaya sulit kalian dapatkan di restoran Cina standar. Saya beruntung bertemu Pak Sulaiman saat sedang menggelar buka puasa bersama sesama warga Tionghoa muslim dan etnis lainnya sore itu. Pemandangan yang menyejukkan.

Pak Sulaiman dalam Bahasa Indonesia terbata-bata, menjelaskan kisah hidupnya. Dia adalah orang Hui asli yang datang ke Solo khusus belajar di pesantren. Pak Sulaiman akhirnya memutuskan menetap di Jakarta Pusat untuk memperkenalkan budaya Hui.

Di Indonesia, sampai sekarang masih saja ada pandangan bahwa orang Cina otomatis nonmuslim. Narasi rasis yang terbangun selama enam bulan terakhir akibat Pilkada DKI Jakarta sekadar menegaskan prasangka tanpa dasar tersebut. Islam padahal berkembang relatif lebih dulu di Tiongkok dibanding kepulauan nusantara. Hal itu dimungkinkan berkat kontak antara pedagang Jazirah Arab dengan penduduk Kekaisaran Tiongkok di sepanjang Jalur Sutra sejak tahun 618 Masehi.

Pusat penyebaran agama samawi terakhir itu adalah Kota Xi'an, Ibu Kota Provinsi Shaanxi. Jadi wajar saja bila di Shaanxi terdapat masjid terbesar di seluruh Tiongkok. Merasakan langsung santapan khas Shaanxi, ditemani suasana restoran yang otentik—dipenuhi kaligrafi Sini dan lampion—membuat saya percaya, kuliner justru bisa menjembatani kesenjangan budaya yang kerap menghantui warga Indonesia dari keturunan Tionghoa.

Iklan

Tanpa semua pretensi sosio-politik pun, ada satu alasan kuat bagi siapapun mencicipi masakan otentik Hui. Sebab masakan Shaanxi dikenal sangat lezat.

"Lebih banyak orang yang datang ke restoran saya nonmuslim lho," kata Sulaiman.