Di Masa Depan, Pemakaman Akan Disiarkan via Livestream
Foto oleh Arpingstone via Wiki
Pemakaman

Di Masa Depan, Pemakaman Akan Disiarkan via Livestream

Fitur ini membantu keluarga mendiang yang berhalangan hadir ke prosesi pemakaman.
Hannah Ewens
London, GB
9.5.17

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

"Selfies pemakaman" mulai menjadi masalah bagi pengurus pemakaman. Coba lihat foto-foto dengan tagar tersebut di Instagram, dan kamu bakal paham masalahnya: dari orang-orang haus Likes hingga remaja melakukan faceswap dengan jenazah dalam balutan kain kafan.

Ada alasan mengapa hal tersebut tidak patut: pemakaman adalah acara yang bersifat privat, jadi maklum jika kita tidak mengizinkan orang yang tidak akrab-akrab amat masang duckface sambil foto dengan tagar #funeral #ootd #sad. Yang bikin lebih ganji lagi adalah ide bahwa di masa depan kawan-kawanmu akan mengangkat ponsel sambil merekam menit-menit terakhir kamu dikubur. What the hell.

Iklan

"Semua orang mengenalkan diri mereka di bagian awal pemakaman, dengan cara yang amat kaku. Namun yang bikin canggung adalah kamera di atas tembok yang merekam seluruh prosesi pemakaman," ujar John Evelyn, 33, dari Portsmouth. Adik iparnya baru meninggal dunia, dan sanak keluarga di Amerika tidak bisa hadir, jadi keluarga terdekatnya membukakan livestream. "Saya pikir itu adalah hal teraneh adalah, setelahnya, orang-orang berperilaku amat normal. 'Untunglah mereka bisa bergabung dalam prosesi ini.' Hal-hal seperti itu lah."

"Saya tidak bisa berhenti memikirkan akan nonton pemakaman, setelah sebelumnya asyik Netflix di iPad malam sebelumnya."

Pada sebuah survei terkini, Royal London berkata bahwa sejumlah anggota direksi pemakaman dan krematorium kini menawarkan livestream pemakaman, dan bahwa lebih dari 50 krematorium di Inggris Raya yang mereka ajak diskusi telah menawarkan layanan tersebut berkat permintaan yang begitu besar. Juru bicara di CJ Reilly Funeral Services berkata bahwa krematorium kini dirancang dengan livestream statis, dan bahwa lansia lebih memilih layanan tersebut.

Amy, 27 tahun, warga Australia yang tinggal di London, menyaksikan livestream pemakaman kakeknya. Dia bilang dia sedikit hungover, dan baru saja merapikan kamar tidurnya karena dia bilang "hal ini sangat patut dilakukan", dan dia memberitahu kawan sekamarnya.

Meski hanya 26 persen dari lansia berusia 55 tahun ke atas akan menggunakan layanan livestreaming jika mereka tidak dapat menghadiri pemakaman, penurunan 23 persen dari mereka yang berusia 35 hingga 54 tahun, anak muda sangat menggandrungi layanan ini. Sepertiga millenial mengaku akan menyaksikan pemakaman via livestreaming.

Iklan

"Saya rasa enggak ada yang aneh dari hal itu, kecuali bahwa saya tetap sedih karena tidak bisa hadir," ujarnya. "Saat hal tersebut terjadi, tentu ada keterputusan. Rasanya seperti saya tidak benar-benar berada di sana—ya karena saya memang tidak di sana—yang membuat saya semakin sedih. Saya tidak bisa behenti memikirkannya. Bahwa malam sebelumnya di tempat yang sama saya menonton Netflix dari iPad saya."

(Sumber foto: MOs810 via Wiki)

Meski pemakaman livestreaming terbilang baru, sutradara pemakaman mungkin saja dicari dalam waktu dekat, berkat perkembangan teknologi. "Beberapa orang selalu memotret di pemakaman, selama sembunyi-sembunyi," ujar Andrew Leverton dari Leverton and Sons sutradara pemakaman, yang perusahaannya akhir-akhir ini membuat DVD pemakaman. "Dengan video, kamu bisa merekam bukan hanya atmosfirnya, namun juga kata-kata yang diungkapkan dan pergerakan dan seluruh pengalamannya. Manusia senang memiliki sesuatu untuk diturunkan kepada anak cucunya, dan untuk dilihat dari masa ke masa. Jadi ini tidak ada bedanya dari eulogi, yang bisa saja disimpan, atau buku yasin, untuk memberi kenang-kenangan tentang bagaimana seorang terkasih pergi meninggalkan kita."

Saya tidak bisa membayangkan situasi di mana saya mau duduk setelah pulang kerja, meminum bir dan menonton ulang pemakaman kakek saya. Tapi Andrew bersikukuh banyak orang melakukannya.

"Jika seseorang tidak dapat menghadiri pemakaman, sehingga tidak bisa berduka dengan orang-orang lainnya dan melihat keluarga mereka dikubur, maka mereka memiliki pengalaman yang berjarak secara psikologis terhadap duka kehilangan tersebut."

John Evelyn berkata livestreaming sebetulnya hanya perpanjangan dari hal tersebut. "Semua orang—termasuk lansia—hanya ingin pemakaman cepat kelar. Pemakaman cenderung kelam dan tidak nyaman; tidak ada yang ingin menyulitkan orang-orang yang harus mengikhlaskan kepergian jenazah dengan berbicara apapun. Sebetulnya, [adik ipar] saya adalah pahlawan dan juga sahabat saya, jadi semakin banyak orang yang datang dan ingin menunjukkan rasa hormat mereka, semakin baik."

Beberapa orang telah menyampaikan kekhawatiran bahwa hal tersebut akan mengganggu orang-orang yang hadir. Marc Hekster, Psikologis Konsultan di Insight London, setuju bahwa hal tersebut bisa bermasalah, namun mengungkapkan bahwa semuanya tergantung siapa yang memilih untuk melakukan livestream tersebut. Jika orang-orang terdekat jenazah justru ingin berbagi hari tersebut dengan mereka yang berhalangan hadir, ya ngapain kita hakimi?

Iklan

"Jika hal tersebut membuat orang yang berduka merasa lebih ramai, maka bisa jadi livestreaming membantu mereka merasa lebih nyaman dalam proses berduka mereka," ujar Hekster saat dihubungi lewat telepon.

Bagi mereka yang menyaksikan livestreamnya, pengalamannya boleh jadi berbeda.

"Sebuah pemakaman adalah ritual penting dan bagian penting dari proses berduka," ujar Hekster. "Jika seseorang tidak dapat menghadiri pemakaman, sehingga tidak bisa berduka dengan orang-orang lainnya dan melihat keluarga mereka dikubur, maka mereka memiliki pengalaman yang berjarak secara psikologis terhadap duka kehilangan tersebut."

"Livestreaming memberikan pengalaman 'emas' untuk 'menghadiri' pemakaman, namun dengan cara yang mengorbankan kapasitas seseorang untuk berduka secara lebih komprehensif dengan hadir di sana dan merasakan atmosfirnya. Memang rasanya tidak sehening itu, dan kamu tidak duduk dalam diam dan bertenggang rasa; kamu bisa saja menyaksikannya sambil makan kudapan atau kentut. Orang tidak akan tahu apa yang kalian lakukan."

Yang menurut Hekster penting adalah pengalaman sensoris, betapapun tidak menyenangkan: sentuhan fisik dari orang yang sama-sama berduka, bau campuran parfum tante dan bunga melati, dan kemampuan berkeliling dan menyapa mereka yang mencintai jenazah sedalam kita mencintainya.

Namun, pada kenyataannya, banyak orang tinggal jauh dari rumah untuk pulang mendadak demi menghadiri pemakaman. Amy tidak mampu membayar tiket pulang ke Australia dan tidak bisa ambil cuti lagi. Anggota keluarga ipar Jon juga tidak bisa pulang dari Amerika Serikat.

Jadi normal saja bahwa Irlandia—yang memiliki tingkat emigrasi tinggi—beradaptasi dengan keadaan tersebut. Pada Burtonport di County Donegal, Gereja Acres telah memasang webcam untuk membagi prosesi pemakaman dengan orang-orang di seluruh dunia.

"Kita kan negara imigran?" ujar Pastur Pat Ward lewat telepon. "Orang-orang terlahir di sini atau datang ke sini untuk sekolah, lalu mereka pergi. Mereka perlu pergi ke negara lain demi pekerjaan yang lebih baik, tapi mereka memiliki sejarah dengan kampung halaman mereka. Jika seseorang meninggal dunia, seperti tetangga di kampung halaman, ada orang-orang yang tidak bisa hadir. Kita mengetahui bahwa ada orang-orang yang ingin menggunakan kamera untuk menghubungkan orang-orang dengan cara tertentu ketika memang tidak ada cara lain."

Coba beri jeda satu dekade, dan kamu bisa dengan nyaman membayangkan kamera digantung pada setiap rumah duka dan krematorium di seluruh dunia. "Tren ini akan terus berlanjut," ujar Leverton. "Kamu akan menyesuaikan diri dengan ide livestream pemakaman layaknya semua orang."

@hannahrosewens