Berita

Kami Mendatangi Richard Spencer, Pemimpin Supremasi Kulit Putih AS yang Sangat Mirip Nazi

Richard Spencer adalah pendukung setia Presiden Donald Trump. Dia mengklaim AS adalah negara khusus buat orang kulit putih. Akibat pidato dan hormat ala Nazi, dia dilarang masuk Britania Raya.
8.12.16

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

November lalu, sebuah rekaman konferensi kelompok supremasi kulit putih di Washington, D.C., menyebar di Internet. Video itu merekam pertemuan tahunan yang diadakan oleh National Policy Institute, organisasi nirlaba yang sangat rasis dengan tujuan melindungi kepentingan kulit putih keturunan Eropa di Amerika Serikat. Sang Ketua NPI yang karismatik adalah Richard Spencer. Saat berpidato di video itu, selain menyitir istilah-istilah khas Nazi, Spencer sangat mengapresiasi kemenangan Donald Trump dalam pemilu kepresidenan AS. Sebab artinya, sekarang adalah saatnya orang-orang berkulit putih "berkuasa atau mati."

Spencer mengklaim Amerika Serikata merupakan bangsa "yang dirancang untuk orang-orang berkulit putih dan kemakmurannya semata". Dia lalu menutup pidatonya dengan berkata, "Hidup Trump, hidup bangsa kita, hidup kemenangan." Beberapa peserta yang hadir menanggapi pernyataan itu dengan berdiri hormat ala kelompok fasis Nazi Jerman.

Dia adalahpencetus istilah "alt-right" pada 2008, yang memberi nuansa baru bagi gerakan rasis dan fasis di AS. Spencer gencar mengampanyekan pendirian "negara beretnis putih di benua Amerika Utara" dan "dihentikannya impian palsu akan kesetaraan dan demokrasi." Pandangannya itu menyebabkan Spencer dilarang masuk imigrasi Britania Raya. Larangan berkunjung ini diteken langsung oleh Perdana Menteri Theresa May.

Elle Reeve dari VICE News Tonight menemui Spencer sejenak setelah konferensi tahunannya, untuk mendiskusikan kebangkitan alt-right dan peran yang dijalankannya. Simak video di berikut untuk menyimak wawancara lengkapnya.