FYI.

This story is over 5 years old.

Sepakbola

Alasan Suporter Klub Glasgow Celtic Konsisten Mendukung Kemerdekaan Palestina

Klub sepakbola tersukses di Skotlandia dikenal gigih mendukung Palestina. Asal usul solidaritas tersebut rupanya bermula dari semangat perjuangan bangsa Irlandia (sekaligus Skotlandia) di masa lalu.
Glasgow Celtic bertanding di kandang
Foto Glasgow Celtic via akun Flickr Ronnie M

Pada 22 Juli 2014, sebanyak 40.000 pendukung Glasgow Celtic berkumpul di Stadium Merryfield di Kota Edinburgh demi menyaksikan tim kesayangannya menghadapi KR Reykjavik asal Islandia dalam babak lanjutan Liga Champions. Celtic menang 4-0, tapi kisah utama yang menyita perhatian media datang dari tribun, bukan dari atas lapangan. Suporter Celtic mengibarkan bendera Palestina sepanjang pertandingan, menyebabkan manajemen Celtic didenda oleh UEFA.

Iklan

Ini bukan pertama kali suporter Celtic secara terbuka mendukung perjuangan Palestina merdeka. Bertahun-tahun, penggemar tim Celtic konsisten mengibarkan bendera Palestina dan membawa spanduk pro-Palestina ataupun anti Israel.

Solidaritas antara pendukung Celtic dan Palestina juga pernah menimbulkan gelombang pemberitaan media Arab ketika Celtic bermain melawan Barcelona dalam penyisihan grup Liga Champions pada 2012. Pendukung Celtic kala itu mengibarkan bendera Palestina setelah diketahui Barcelona sengaja mengundang tentara Israel Gilad Shalit—yang pernah ditawan selama lebih dari lima tahun oleh Hamas sebelum dibebaskan lewat pertukaran tawanan—menyaksikan sebuah pertandingan di Camp Nou melawan Real Madrid pada awal musim.

Faktanya, pendukung klub juara 45 kali Liga Utama Skotlandia ini juga pernah meneror pemain mereka sendiri gara-gara tidak mendukung Palestina. Saat itu pecah perang yang berlangsung pada musim panas 2015 antara Pasukan Pertahanan Israel dan grup-grup militan Palestina macam Hamas dan Jihad Islam.

Dalam suasana panas inilah Nir Bitton, midfielder asal Israel berumur 23 tahun yang bermain untuk Celtic, mengunggah foto ke akun Instagramnya mendukung pasukan Israel yang bertempur di Gaza. Foto tersebut menimbulkan kegemparan di antara penggemar Celtic. Ratusan orang suporter protes lewat media sosial, menekan manajemen Celtic agar segera mengakhiri kontrak Bitton. Meskipun setelahnya konflik mereda dan para penggemar mulai menerima Britton sebagai midfielder klub kesayangan mereka, suporter berusaha menegaskan betapa dukungan terhadap militer Israel adalah sesuatu yang takkan ditolerir.

Iklan

Pertanyaannya, kenapa pendukung sebuah tim sepakbola yang jaraknya ribuan kilometer dari Timur Tengah begitu tertarik dan bersolidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina?

Sean Huddleston, dosen universitas di Skotlandia sekaligus pendukung Celtic, percaya jawabannya terkait identifikasi historis suporter Celtic (mayoritas masih merasa dijajah Inggris) yang membuat mereka merasa dekat dengan isu-isu penindasan rakyat Palestina oleh Israel.

"Pendukung Celtic rata-rata berideologi Republikan. Mereka pasti merasa ada persamaan dengan cita-cita orang Palestina akibat kesamaan antara perjuangan Republikan Irlandia dulu, perjuangan Skotlandia saat ini untuk berpisah dari Britania Raya, serta perjuangan kemerdekaan Palestina."

"Mengenai dukungan terhadap nasionalisme dan solidaritas terhadap bangsa yang terjajah, suporter Celtic tidak hanya peduli pada Palestina lho. Kalau kalian menyempatkan mampir ke Taman Kota Glasgow yang jadi lokasi berkumpul suporter Celtic, kebanyakan dari mereka cenderung mendukung perjuangan sayap kiri dan kaum revolusioner secara global," ujar Huddleston.

Pendukung Celtic yang dimaksud Huddleston turut bersimpati dengan Pasukan Pembebasan Irlandia (IRA). Mereka percaya bahwa perjuangan IRA melawan penjajahan Inggris serupa dengan apa yang dialami Palestina di bawah penindasan Israel. IRA selalu melihat Inggris sebagai penjajah Irlandia Utara, sama seperti orang Palestina melihat Israel sebagai agresor yang mencaplok sepihak Kota Yerusalem dan Tepi Barat untuk pemukiman kaum Yahudi radikal.

Iklan

"Meskipun klub Celtic secara resmi bukan partai politik, asal usulnya memang terkait dengan perjuangan Irlandia dan Skotlandia," kata Sean O'Congaile, mantan anggota IRA yang menghabiskan 15 tahun ditahan di lapas H-blocks di Irlandia Utara karena aktif menggelar makar terhadap Britania Raya. Seandainya kelaparan massal Irlandia dan persekusi politik Irlandia pada pertengahan tahun 1800-an tak pernah terjadi, kemungkinan besar sifat Celtic FC tidak akan seperti sekarang.

“Sampai sekarang klub Celtic terutama—tetapi tidak sepenuhnya—didukung oleh keturunan diaspora warga Katolik asal Irlandia [ke Skotlandia] yang meninggalkan Irlandia saat terjadi kelaparan. Oleh karena itu ada hubungan organik dengan Irlandia yang berawal sejak generasi-generasi lalu, dan ada afinitas alami dengan politik Irlandia di teras Taman Celtic."

O'Congaile, pendukung setia Celtic, menjelaskan mengapa suporter Celtic bisa merasakan kesamaan perjuangan kemerdekaan Irlandia dan konflik Palestina dengan Israel yang terus berlangsung.

"Akibat identifikasi terbuka dengan perjuangan kemerdekaan Irlandia dan IRA, setiap pendukung Celtic yang terpolitisasi mau tidak mau bakal membuat korelasi dengan orang lain yang menderita ketidakadilan serupa dengan yang dialami penduduk Irlandia. Pada kasus ini kami melihat Palestina sebagai paralel yang jelas. Terjadi penyitaan tanah, penjajahan, hukum represif, dan militerisasi berlebihan yang digunakan untuk menegakkan ketidakadilan tersebut."

Kesamaan tersebut tidak terbatas di kalangan suporter tim sepak bola saja. Dewan Kota tempat Celtic bernaung, Glasgow, ikut mengibarkan bendera Palestina di balai kota sepanjang Operasi Perlindungan Tepi Barat pada musim panas 2015. Denda UEFA sampai kapanpun takkan membuat komunitas pendukung Celtic ragu mengerek bendera Palestina di samping bendera Irlandia kebanggaan mereka.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports