Dunia Kerja

Keuntungan Ilmiah Bila Kalian Berani Berhenti Kerja

Kesehatan mental kalian konon akan mencapai kondisi terbaik. Tentu, syarat dan ketentuan berlaku.
17 Februari 2017, 4:49am
Ilustrasi oleh Brandon Bird.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Penulis buku Buck Flogging bilang kamu akan bahagia kalau berhenti kerja.

Dengan membayar tambahan ongkos konsultasi, Flogging berjanji mendampingimu sepanjang proses berhenti kerja lalu menemukan jati diri baru. Dia akan menunjukkanmu bagaimana caranya menabung upah beberapa bulan dan mencari sumber penghasilan sekunder, hingga akhirnya kamu bisa nyelonong masuk ke kantor bosmu, mendobrak meja sambil bilang kamu engga mau lagi mendengar omelan dia, lalu keluar dari kantor itu selama-lamanya.

Haha, sori. Mungkin bukan begitu yang biasanya terjadi, tapi Flogging tidak main-main ketika dia bilang sebagian besar orang mendapat manfaat jika kita keluar dari pekerjaan kantorannya. Laki-laki berusia 39 tahun ini telah menghabiskan sebagian besar karirnya menulis buku-buku seperti Quit Your Job in Six Months, melatih orang-orang untuk keluar dari pekerjaan 9-5 dan beralih pada pekerjaan yang berbau wiraswasta Ketika kami ngobrol-ngobrol lewat telepon, dia bilang misi hidupnya adalah "melayani karyawan-karyawan yang tidak bahagia, dan membantu mereka menemukan jalan lain dalam hidup."

Flogging boleh jadi seorang pendakwah kepengangguran, tapi target audiensnya ternyata amat besar. Sebuah survei global tahun 2016 oleh firma akuntan Deloitte menemukan bahwa 44 persen generasi millenial berencana keluar dari pekerjaannya dalam dua tahun, jika kesempatannya ada. Lebih spesifiknya, 2 juta warga Amerika Serikat meninggalkan pekerjaan mereka setiap tahun. Mungkinkah mereka yang keluar kerja lebih sehat, lebih bahagia, dan memiliki hidup lebih baik daripada kita-kita yang masih ngantor tiap hari?

Mestinya disebutkan pula banyak alasan bagus sebuah pekerjaan kantoran: kita jadi merasa berguna, mendapatkan kebutuhan primer, dan punya sebuah cara untuk mendefiniskan diri sendiri. Filsuf Yunani klasik Aristoteles mempunyai konsep bahwa sumber kebahagiaan manusia bukan gegoleran sepanjang hari, tapi justru bekerja untuk sebuah tujuan yang ditetapkan—intinya, sama dengan memiliki pekerjaan. Itulah mengapa orang-orang kaya sekalipun, seperti Bill Gates, ngantor setiap hari alih-alih mimi-mimi cantik di pinggir kolam renang.

Ya memang sih, perspektif Aristotelian itu sebenarnya versi romantis dari pekerjaan kantoran yang sebenarnya. Kebanyakan orang tidak bangun di pagi hari dan membatin, Bagaimana caranya saya mencapai potensi optimal sebagai manusia dalam rapat Skype hari ini? Pekerjaan, seringkali, juga merupakan sumber kebosanan; atau bahkan, sumber kenelangsaan.

"Sebagian besar orang mengaku pekerjaan adalah sumber utama penyebab mereka stres," ujar Heidi Hanna, direktur eksekutif American Institute of Stress. "Hal ini kronis dan terus menerus."

Survei State of the American Workplace oleh Gallup menemukan sebesar 70 persen orang melaporkan mereka mengalami stres sehingga ingin mengalihkan diri dari pekerjaan. Karyawan yang masuk dalam kategori ini cenderung melaporkan nyeri tubuh berkaitan dengan kejenuhan bekerja, juga tingkat kortisol lebih tinggi, tekanan darah lebih tinggi, dan risiko depresi dua kali lipat. Dengan kata lain, pekerjaan, secara harafiah, membunuh orang-orang.

"Stres, sebagaimana yang kita ketahui, berhubungan dengan 75 hingga 90 persen tempat yang kita kunjungi terus menerus. Hal ini memicu respon seluruh sistem tubuh: meningkatkan peradangan, denyut jantung, menurunkan kemampuan tidur, mengubah metabolisme kita," ujar Hanna. "Hal itu membegal cara sistem kita beroperasi."

Jadi, berhenti kerja bisa kita anggap sebuah penyegaran instan (jika sementara) dari segala stres tersebut. Seperti yang disebutkan oleh seseorang yang gemar keluar pekerjaan, ada perasaan bersalah setelah memberi pemberitahuan keluar kerja pada HRD. Tapi "rasanya lega banget ketika keluar dari gedung kantor dengan pemahaman bahwa saya engga perlu balik lagi." Dan ada alasan untuk mempercayai bahwa keluar pekerjaan yang bobrok akan membawa manfaat di jangka panjang—lihat aja film Rogue One: A Star Wars Story yang dibesut Gareth Edwards, yang menghabiskan sepuluh tahun mengumpulkan keberanian untuk keluar pekerjaan kantoran untuk memproduksi film pertamanya.

Namun, ketika kita meninggalkan segala stres berkaitan dengan pekerjaan, kita juga meninggalkan upah bulanan, tujuan hidup, dan rutinitas. Hal tersebut bisa menyebabkan stres yang berbeda. Misalnya, Gimana caranya saya membayar sewa kos bulan ini. Itulah yang dialami Tess Vigeland ketika dia mewawancari 80 orang yang keluar pekerjaan untuk bukunya Leap: Leaving a Job With No Plan B to Find the Career and Life You Really Want. "Pada mulanya, mereka merasa lega karena keluar dari lubang gelap. Rasanya seperti beban berat telah terlepas dari pundak mereka," ujarnya pada sebuah wawancara dengan Huffington Post. "Euforia itu hanya bertahan sampai mereka memeriksa saldo rekening dan berkata: 'Saya engga tahu kapan gajian saya selanjutnya."

Status pengangguran bisa jadi memalukan, bikin pusing, dan diasosiasikan dengan tingkat depresi dan kecemasan yang cenderung lebih tinggi, penyakit kardiovaskular dan hipertensi, bahkan risiko bunuh diri. Punya pekerjaan memang rungsing, tapi menganggur lebih  bikin pusing.

Bagi motivator macam Flogging, efek-efek negatif setelah menganggur bukanlah risiko selama kita keluar kerja atas keinginan sendiri dan mencari sesuatu yang lebih baik. Apakah kita keluar kerja dengan atau tanpa tawaran pekerjaan baru, dia bilang, kita akan baik-baik saja selama kita menghabiskan waktu dengan hal-hal yang membuat kita merasa lebih puas ketimbang saat masih bekerja.

"Saya rasa apakah kamu menghasilkan lebih banyak atau sedikit uang [setelah kamu keluar kerja], apakah kamu bekerja lebih lama atau sebentar, sebetulnya engga ngaruh selama kamu menikmati apa yang kamu lakukan," ujar Flogging saat saya hubungi. "Kalau kamu keluar kerja dan langsung berpindah dari kegiatan yang kamu benci ke kegiatan yang kamu sukai, kamu sudah menyelesaikan salah satu permaslahan hidup paling besar."

Tidak semua orang setuju. Contohnya saja James Krause, yang meninggalkan pekerjaan nyamannya di University of California, Davis, untuk memenuhi impian lama membuka toko akuarium. Dia tahu idenya terkesan gila, tapi dia saat itu berusia 29 tahun dan sudah terlalu lelah menghasilkan uang untuk orang lain. Dia berpikir, kalau dia ingin mulai bekerja sendiri, dia harus melakukannya sekarang atau tidak sama sekali.

"Setelah saya keluar kerja, saya cukup khawatir," ujarnya pada saya. "Saya tidak tahu apakah saya baru saja mengambil langkah menuju kehancuran, atau satu langkah menuju mimpi saya."

Ternyata mengelola usaha sendiri, betapapun mengasyikannya, bisa menyebabkan lebih banyak stres ketimbang pekerjaan kantorannya dulu. Sebelumnya, dia bisa masuk kerja, pulang kerja, lalu dapat upah bulanan. "Saya tahu mengelola usaha sendiri akan sulit, tapi saya tidak punya persiapan," ujar Krause. "Saya dulu engga pernah sakit; kini saya sakit tiga hingga empat kali selama setahun. Uban semakin bertambah karena stres. Ini sulit. Kalau kamu keluar kerja kantoran untuk memulai usaha sendiri, dan mikir kamu akan lebih nyantai, kamu keliru banget."

Hanna juga merasa keluar kerja kantoran tidak terasa seperti liburan. "Hal terburuk yang bisa terjadi adalah kamu mengalami tantrum, menggebrak meja, keluar ruang rapat, dan kamu bisa saja berakhir di situasi yang sama karena kamu engga tahu apa masalah sebenarnya," ujarnya. "Kerja kantoran kadang bikin kita merasa, 'duh kayaknya wiraswata lebih baik daripada bertahan di kantor,' tapi kenyataannya ya engga segitunya juga."

Follow Arielle Pardes di Twitter.