The VICE Guide to Right Now

Ini Bukan Foto Ceplok Biasa Lho, Tapi Telur Sintetis dari Sayuran Buat Orang Vegan

Start-up teknologi Singapura sukses menciptakan telur sintetis dari ekstrak kedelai yang dapat diceplok, didadar, sampai direbus layaknya telur ayam biasa.
Perusahaan Singapura ciptakan Telur Sintetis dari Sayuran untuk konsumsi vegan
Foto telur sintetis buatan perusahaan Singapura. Sumber dari arsip OnlyEg 

Kalian gemar sarapan pakai telur rebus, dadar, atau ceplok? Telur adalah jenis bahan makanan paling gampang diolah, sehingga miliaran manusia terbiasa mengonsumsinya. Namun, bila kalian memutuskan jadi vegan, pastinya mustahil mempertahankan kebiasaan makan telur.

Untungnya, dalam waktu dekat akan tersedia alternatif bagi orang yang hanya mengonsumsi tumbuh-tumbuhan. Perusahaan start-up Float Foods dari Singapura berhasil menciptakan telur sintetis OnlyEg, berbahan ekstrak biji kedelai.

Iklan

Jika dilihat dari hasil akhirnya setelah dimasak, telur buatan ini nampak normal. Diceplok bisa, didadar boleh, direbus pun memungkinkan. Namun OnlyEg memang tidak berwujud cairan dalam cangkang seperti lazimnya telur, melainkan langsung berupa gabungan putih dan kuning “telur”.

Menurut Float Foods, telur sintetis ini siap diedarkan untuk konsumsi massal pada 2022. 

onlyeg-vegan-plant-based-egg-substitute-singapore-asia

​Foto dari arsip OnlyEg

Telur sintetis untuk konsumsi komunitas vegan bukan hal baru. Namun Float Foods mengklaim mereka perusahaan pertama berhasil membuat ekstrak kuning dan putih telur buatan sekaligus. Selama ini, telur sintetis yang tersedia di pasaran hanya cairan putihnya saja, sehingga tak bisa jadi lauk tersendiri.

OnlyEg diklaim dapat dimasak seperti kita biasa mengolah telur selama ini, membuatnya punya nilai tambah tersendiri. Selain itu, Float Foods mengklaim nutrisi telur sintetis mereka lebih tinggi dari telur biasa.

Bisnis yang dilakukan Float Foods menggambarkan tren yang terus berkembang 10 tahun terakhir. Industri makanan olahan dari bahan tumbuhan diperkirakan pengamat akan terus tumbuh, mengingat pasar vegan meluas di berbagai negara. Bahkan sepanjang 2019, pasar makanan olahan berbahan tumbuhan melonjak 192 persen di seluruh dunia.

Makanan sintetis macam ini tidak hanya menargetkan kalangan vegan atau vegetarian. Makin banyak konsumen biasa yang menolak praktik jahat di peternakan ayam, sapi, atau babi. Artinya, bahan pangan dari bahan tumbuhan, bila rasanya semakin mendekati daging atau telur yang asli, bisa menjawab kebutuhan sumber makanan etis bagi konsumen yang punya kesadaran ekologis.

onlyeg-vegan-plant-based-egg-substitute-singapore-asia

OnlyEg (yang lebih kecil di bagian atas) dibandingkan dengan telur biasa. Foto dari arsip OnlyEg

“Kami sadar telur adalah salah satu bahan pangan pokok di dunia kuliner Asia,” kata CEO Float Foods Vinita Choolani lewat keterangan tertulis. “Karenanya, perusahaan kami berambisi menggabungkan sains dan pengetahuan kuliner agar tersedia alternatif yang tepat untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang ingin makanan mereka berasal dari sumber berkelanjutan sekaligus etis.”

Negara-negara di Benua Asia merupakan konsumen telur terbesar di dunia. Selain itu, sebanyak 60 persen produksi telur global berasal dari Asia pula. Makanan-makanan khas Asia, macam nasi lemak Malaysia, nasi goreng di Indonesia, atau silogs di Filipina, semua memanfaatkan telur sebagai salah satu bahan penting dalam resepnya.