Profil Asihono sosok juru kunci Gunung Merapi penerus Mbah Maridjan
Pemandangan dari pos pemantauan Merapi di Sleman, Yogyakarta, saat erupsi pada  9 Juni 2006. Foto oleh Tarko Sudiarno/AFP
Tanggap Bencana

Begini Rasanya Mewarisi Tugas Sebagai Juru Kunci Gunung Merapi di Abad 21

Bicara juru kunci gunung api yang sering aktif ini, kita pasti teringat mendiang Mbah Maridjan. Asihono, sang penerus tugas sakral itu, sekarang menggandeng teknologi bila Merapi mulai "batuk".
27.1.21

Asihono baru saja pulang salat Magrib di musala ketika istrinya melarang ia masuk rumah mereka di Kampung Kinahrejo, Dukuh Pelemsari, Cangkringan Yogyakarta. Kalender hari itu tertanggal 26 Oktober 2010.

“Enggak usah masuk rumah! Ayo turun-turun!” teriak istrinya. Ia mengingat waktu itu sekitar pukul 18.15 WIB. Awan panas bersuhu sampai 1.000 derajat Celcius dilaporkan meluncur dengan kecepatan 100 km/jam dari puncak Gunung Merapi, berjarak 4 km saja dari rumah mereka. 

Iklan

Petang itu awan panas bahkan sudah mencapai lokasi bunker tua, sekitar 300 meter di atas Kinahrejo. Mereka berdua menggendong anak-anak yang takut dan kebingungan, segera memacu kendaraan turun menjauh dari petaka.

Hari itu menjadi waktu penghabisan Asih bertemu bapaknya, sang juru kunci Merapi legendaris Mbah Maridjan. Yang Asih ingat, pada pukul 18.45 awan panas setinggi 1,5 km menyapu habis Kinahrejo dan menewaskan 37 orang di sana. Total, rangkaian erupsi sepanjang Oktober-November 2010 tersebut menewaskan 398 orang di dua provinsi, membuat setengah juta orang mengungsi, serta merusak 3.000 rumah.

Mbah Maridjan termasuk yang meregang nyawa di Kinahrejo. Ia menolak dievakuasi, meski hari itu Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), pemantau aktivitas Gunung Merapi di Yogyakarta, sudah menaikkan status gunung ke batas tertinggi, level 4 Awas. Asihono yang kini berusia 54 tahun masih mengingat alasan bapaknya enggan turun dari lereng Merapi.

“’Sih, kalau perasaan enggak enak, kamu turun aja. Semua keluarga diajak. Tapi saya tidak mau turun.’ ‘Enggak, Pak, saya enggak mau turun kok. Tapi terus kenapa Bapak enggak mau turun?’ saya tanya gitu. ‘Wah, ndak kalo saya turun ndak [nanti] memalukan,’ Bapak bilang gitu. Terus ulang lagi sambil senda gurau, ‘Aku ki nek mudun ki digeguyu pitik [aku ini kalau turun malah ditertawakan ayam.’ Setelah itu saya sudah ‘tidak ketemu’, saya sudah tidak bisa ngobrol,” kenang Asih ketika VICE menemuinya di kediamannya, kawasan Cangkringan, Jumat (8/1).

Iklan

Alasan lain Mbah Maridjan tak mau dievakuasi adalah keteguhannya memegang janji. “Ya, karena Bapak itu diberi amanah, diberi pertanggungjawaban untuk menjaga Merapi. Itu yang memberikan sultan yang ke-9 [Hamengku Buwono IX]. Bapak tidak mau tahu walau kondisinya seperti apa, Bapak tidak mau turun,” tambah Asih.

DSC02529.JPG

Asihono, saat ditemui di rumahnya. Foto oleh Ikhwan Hastanto/VICE

Berselang setengah tahun dari kepergian Mbah Maridjan, Keraton Yogyakarta mencari juru kunci Merapi yang baru di antara para abdi dalem. Ke-23 abdi dalem lain bawahan Almarhum Mbah Maridjan merekomendasikan Asih, yang selain abdi dalem, juga putra kandung beliau. Asih lolos dari tes wawancara di keraton, kemudian diangkat sebagai sang juru kunci baru pada April 2011, meneruskan peran yang sudah dilaksanakan kakek dan bapaknya. Kini Asih bergelar Mas Wedono Surakso Hargo.

Tak banyak juru kunci punya popularitas sebesar Mbah Maridjan. Asih pun masih dibayang-bayangi kebesaran Mbah Maridjan meski sudah hampir 10 tahun memanggul tugas. Ia sendiri mengakui, keterkenalan bapaknya dipengaruhi oleh momen herois Mbah Maridjan yang berkali-kali menolak turun gunung meski status Merapi sudah berbahaya. “Momen yang Bapak [jadi terkenal] itu ya karena Bapak tidak mau turun itu. Terus terkenal, lalu ada roso itu tho [iklan TV minuman KukuBima]. Terus dikatakan Bapak itu juru kunci yang pemberani,” kata Asih.

Asih jauh lebih realistis. Pria yang bekerja sebagai staf administrasi di Universitas Islam Indonesia sejak 1996 ini memutuskan mendampingkan tugas juru kunci beserta pengetahuan lokalnya, dengan badan pemerintah yang mengandalkan teknologi saintifik. Asih aktif berkomunikasi dengan BPPTKG dan sangat memedulikan imbauan mereka.

Iklan

“Peran saya sebagai juru kunci ya kita melaksanakan apa yang sudah ditugaskan oleh keraton. Dan itu berkaitan dengan kondisi Merapi dan kewajiban saya ke Merapi. Jadi kita selalu berkomunikasi atau bekerja sama dengan pemerintah. Kami juga tidak lepas dari pemerintah. Kami juga saling komunikasi. Kalau saya [memantau kondisi] Merapinya kan hanya melihat secara mata telanjang aja, kan mereka pakai alat lebih canggih, lebih aktual. Biar nanti tidak ada kesenjangan, nanti bisa ada miskomunikasi.”

“Misalnya gini,” tambah Asih, “ada letusan [yang saya perhatikan meluncur] ke arah Kali Boyong. Pengamatan dari BPPTKG itu [yang akan memastikan] lebih membahayakan atau tidak? Kalau kita kan tidak tahu membahayakan atau tidak karena kami cuma dari jauh.”

kaliadem.jpg

Kondisi Desa Kaliadem setelah diterjang awan panas Gunung Merapi pada 2010. Foto oleh Bay Ismoyo/AFP

Di masa lalu, peran memberi alarm bahaya itulah yang dijalankan juru kunci. Ia akan menjadi penghafal kebiasaan merapi—dikenal sebagai ilmu titen—mengingat tiap gunung punya karakter masing-masing. Ketika ada potensi bahaya, juru kunci mengingatkan warga untuk segera turun gunung sembari ia berdoa kepada Tuhan agar gejolak alam tersebut jika harus terjadi, biarlah terjadi, tanpa memakan korban.

Soal mitigasi pun, Asih berpatok pada pemerintah. Jika dulu usaha menghindari bencana dari juru kunci sebatas perintah turun gunung, kini warga mendapat informasi perkembangan status Merapi serta panduan evakuasi dari BPPTKG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Yogyakarta. “Jadi cara-cara seperti itu [teknis mitigasi, evakuasi] saya memang tidak tahu. Nanti yang memberi pengetahuan masyarakat adalah BPBD,” terangnya.

Iklan

Jika peran pengamatan juru kunci bisa tergantikan, tidak dengan peran kulturalnya. Di saat masih banyak warga lereng Merapi mencari nafkah di kawasan rawan bencana (KRB, radius 5 km dari puncak), ketika status Merapi naik, Asih akan menjadi peredam kepanikan masyarakat. Ia tak akan melarang warga bekerja, melainkan mengingatkan untuk waspada dengan sering menengok ke arah gunung dan segera pulang jika pekerjaan sudah selesai.

Di luar tugas seputar kebencanaan, Asih menyebut tugas lain juru kunci adalah menjadi penjaga budaya. Salah satunya dengan menggelar ritual Labuhan Merapi saban tanggal 30 Rajab. Ini adalah upacara mendoakan keselamatan warga lereng Merapi dengan latar kisah mitologis. Konon seorang bernama Eyang Sapujagat dahulu kala ditugaskan Keraton Yogyakarta untuk menjaga Gunung Merapi, dengan imbalan yang dikirim tiap setahun sekali lewat gelaran labuhan tadi.

Kepercayaan lokal yang meyakini bahwa ada makhluk tak kasat mata yang berdiam di Merapi memengaruhi cara hidup warga lereng saat berhadapan dengan alam yang menafkahi mereka. Seperti yang sudah disinggung tadi, ketika aktivitas Merapi naik, doa yang dipanjatkan tidak meminta bencana ditangguhkan, melainkan agar segera selesai dan tak memakan korban. Demikian juga cara warga yang menghindari penggunaan kata kasar untuk membahasakan Merapi.

Menjadi pamali, misalnya, menyebut awan panas sebagai wedhus gembel—harfiah berarti ‘domba berambut lusuh’. Pamali lain melarang penggunaan istilah njebluk atau ‘meledak’. Bahkan dalam wawancara kami dengan warga, diksi Indonesia seperti letusan dan bencana pun dihindari. Sebagai gantinya mereka memakai istilah Jawa dandan-dandan ‘memperbaiki’ atau membangun.

Iklan

“Kalau jaman dulu, simbah-simbah menyebutnya ‘simbah buyut lagi dandan-dandan’, simbah buyut lagi membangun,” ujar Asih. “Waktu saya kecil itu, Merapi itu [dibayangkan orang-orang tua] seperti suatu rumah yang ada yang menempati. Bayangannya mereka mungkin ya ‘mbah buyut’’ itu termasuk yang duduk di sana. Mungkin gitu lho ya. Bukan gunungnya [yang disebut ‘mbah buyut’, tapi yang menempati. Bayangannya di sana ada orang lagi mbangun apa, kemungkinan gitu. Itu masih kepercayaan orang yang dulu. Kalau sekarang ya beda karena generasinya beda.”

Beberapa kepercayaan lama lainnya terkait aktivitas mendaki gunung. Misalnya, ada aturan tak boleh mendaki bersama dengan jumlah orang ganjil, tak boleh memakai busana hijau, tak boleh berkata kasar, dan tak boleh mengeluh selama pendakian. Apakah kamu percaya atau tidak, bebas-bebas aja sih.

Tapi jangan kebablasan membayangkan semua tindak-tanduk warga lereng Merapi beserta juru kuncinya selalu punya landasan spiritual. Contohnya, kami sempat menduga Mbah Maridjan menolak dievakuasi saat erupsi 2006 dengan alasan hendak bertirakat untuk membatalkan Merapi batuk. Dari cerita Asih, alasannya justru sangat pragmatis: Mbah Maridjan kelelahan.

Lah 2006 Bapak itu juga capek sama wartawan. Ini maaf ya, wah itu nggak pernah istirahat. Ada tamu, wartawan, ta

DSC02538.JPG

Lukisan Mbah Maridjan masih terpasang di ruang tamu Asihono

mu, wartawan. Karena itu capek tho. Kalo di rumah, bersembunyi [tidak mau menemui tamu], enggak enak tho, tetep ga bisa istirahatlah. Waktu itu di barak pengungsian sini ada kedatangan Presiden SBY. Lah mungkin Bapak mau diundang ke sana. Tapi panitianya sampai ke sana bapaknya enggak di rumah [sedang menyepi di gunung]. Itu karena kecapekan. Sebenernya [kegiatannya] cuma ngomong, tapi kalau terus, juga capek lho.” Menurut Asih, di masa itu tamu yang datang bisa mencapai 400-500 orang di hari biasa, dan dua kali lipatnya pada akhir pekan.

Dipandang sebagai heroisme seorang juru kunci, erupsi 2006 langsung melambungkan nama Mbah Maridjan. Yang mungkin agak aneh, beliau tampak seperti sosok spiritualis saat erupsi, tapi kemudian mau tampil sebagai bintang iklan komersial minuman energi. Mengapa bisa begitu? Hikayat dari Asih, sesungguhnya Mbah Maridjan sudah menolak.

Iklan

“Memang dari Sido Muncul menghubungi, Bapak itu sudah tidak mau. Saya akhirnya begini, ‘Bapak itu tidak mau masalahnya apa?’ ‘Iyo tho, Sih, aku enak-enak, warga-warga pada ngungsi tidak punya uang, anaknya pada keleleran, minta jajan tidak punya [uang]. Terus gimana?’ Terus saya ngomong, ‘Ya kalo gitu Bapak kalau mau, itu nanti uangnya sebagian dibagikan.” Sejumlah yang hasil membintangi iklan KukuBima itu akhirnya memang dibagikan kepada para tetangga.

Asih rela ikut merayu bapaknya main iklan juga karena menilai tawaran Sido Muncul sebagai bentuk pertolongan kepada keluarga Mbah Maridjan. “Lha, kowe gelem po dadi penunggu Merapi dibayar wolung ewu. Kuwi lho tulungen Mbah Maridjan [Emangnya kamu mau jadi penunggu Merapi dibayar Rp8 ribu. Itu tolongin Mbah Maridjan].’ Aku masih ingat [yang berkata] itu, namanya Pak Anton Sujarwo, kakak iparnya Pak Irwan.” 

Irwan yang dimaksud adalah Irwan Hidayat, pemilik sekaligus presiden direktur perusahaan jamu Sido Muncul. Sedangkan Anton Sudjarwo aktivis LSM Yayasan Dian Desa. Asih mengingat Anton sebagai sosok yang dihormati warga Cangkringan. Bersama LSM-nya, ia pernah membangun pipa air minum di kawasan tersebut pada ’70-am semasa Mbah Hargo, bapak dari Mbah Maridjan, masih menjabat juru kunci. Irwan pernah menuturkan kepada Solopos, nama Anton menjadi satu-satunya alasan Mbah Maridjan menerima tawaran iklan bertema “Lelaki Pemberani” itu.

Bayaran abdi dalem Keraton Yogyakarta memang tidak biasa, termasuk Mbah Maridjan yang hingga wafatnya bergaji Rp8 ribu per bulan. Sehari-hari Almarhum hidup dari bertani dan beternak, berbeda dari Asih yang terhitung juru kunci modern dengan pekerjaan kantoran. 

“Ya, [menjadi juru kunci] itu memang tidak diukur dengan uang. Adanya itu ya ikhlas, niat mengabdi, dengan kondisi apa pun ya diterima. Jenenge [namanya] mengabdi itu kan mengabdikan diri. Sekiranya pengin kaya yo enggak usah. Artinya harus kerja di luar kalau emang kepengin yang cukup,” tutup Asih soal profesinya.