Cinta itu Indah

Kasta, Tahta, dan Cinta: Kisah Muda-Mudi Bali Memperjuangkan Cinta Beda Kasta

Kasta masih berpengaruh dalam budaya masyarakat Bali modern. Namun, ada dampak budaya tersebut pada percintaan dan pernikahan. VICE ngobrol dengan beberapa orang yang coba melawan adat tersebut.
27.2.20
Muda-Mudi Bali Memperjuangkan Cinta Beda Kasta yang Sering Ditolak Keluarga
Ilustrasi pernikahan adat di Bali. Foto via Phxere/domain publik

Di usia masih sangat muda, 16 tahun, Anak Agung Ayu Tribuana Tungga Dewi menghadapi pilihan paling pelik sepanjang hidup: tetap menjadi bagian dari anggota keluarganya atau mengikuti kata hatinya. Semua itu lantaran niatnya menikahi sang laki-laki idaman namun berasal dari kasta yang berbeda. Sebagai satu-satunya daerah di Indonesia yang melanggengkan sistem kasta secara turun-temurun, Ayu, panggilan akrabnya, harus menerima kenyataan keluarganya masih melestarikan budaya dan sistem adat seputar kasta. Adat itu, pada akhirnya, berpeluang mengorbankan perasaannya.

Iklan

"Bapak, tante, dan kakak kandung sendiri mewanti-wanti, kalau saya berani nikah sama dia [suaminya waktu itu], kalau ada masalah apa pun nanti, saya enggak boleh pulang kembali ke keluarga," ungkap perempuan dengan dua anak ini kepada VICE. Diancam demikian, setelah berpikir panjang, Ayu memberanikan diri menikah dengan laki-laki yang bukan keturunan Bali dan tidak berkasta. Atas keberaniannya itu, Ayu harus kehilangan kasta Ksatria yang selama ini melekat pada dirinya.

Dalam istilah Bali, keputusan Ayu disebut dengan nyerod, yakni kondisi perempuan turun kasta dan menjadi sederajat dengan suaminya. Nyerod secara harfiah maknanya "meluncur". Perempuan meluncur ke kasta yang lebih rendah dan tidak lagi merupakan bagian dari kasta keluarga besarnya. Dampaknya tidak main-main. Si perempuan berisiko kehilangan akses sembahyang di pura keluarganya, serta privilese-privilese lain yang tidak lagi ia dapatkan.

Awalnya sistem kasta hanya berfungsi sebagai pembeda profesi. Kasta Brahmana adalah julukan buat para pemuka agama, sementara kasta Ksatria untuk mereka yang duduk di bangku pemerintahan. Kemudian ada kasta Waisya untuk para pedagang, serta kasta Sudra untuk petani dan pekerja. Seiring berjalannya waktu, kasta seolah-olah mendikte tempat seseorang dalam hierarki kompleks kemasyarakatan di Bali.

Selain dari profesinya, di Bali salah satu ciri pembeda penggolongan kasta adalah pemakaian nama depan. Nama yang disematkan kepada anak mengandung muatan sistem kelas di baliknya.

Iklan

Mereka yang termasuk dalam kasta Brahmana biasanya menggunakan Ida Bagus untuk laki-laki dan Ida Ayu untuk perempuan. Kasta Ksatria seperti yang dimiliki Ayu biasanya ditandai dengan nama Anak Agung, Cokorda, Gusti, serta Dewa.

Bagi mereka yang berkasta Waisya biasanya memakai nama Ngakan, Si, Sang, serta Kompyang. Sedangkan bagi yang berkasta Sudra tidak ada nama-nama khusus, mengingat dahulu kasta Sudra dianggap berfungsi sebagai pekerja yang melayani ketiga kasta di atasnya.

Kendati seorang Bali tulen yang lahir dan besar di Pulau Dewata, Ayu mengaku tidak menyetujui sistem kasta, terutama dalam konteks pernikahan. "Pernikahan itu masalah hati. Kalau misalnya harus nunggu [ada calon] kasta yang cocok untuk kita, ya kan ruwet jadinya. Kalau senengnya sama yang emang enggak ada kasta, gimana?" ujar perempuan kelahiran 1981 itu. "Kebahagiaan itu bukan ditentukan oleh kasta. Kebahagiaan itu dari hati kita sendiri."



Beruntung Ayu ternyata masih berhubungan baik dengan keluarganya. Meski awalnya keluarga menunjukkan resistensi, perlahan-lahan mereka mulai dapat menerima dan memberikan restu terhadap pernikahan Ayu dan suaminya.

Lalu apa yang terjadi jika keluarga tidak menyetujui pernikahan beda kasta yang ditempuh anak-anak mereka? Di Bali, fenomena kawin lari sudah sangat umum. Biasanya pada hari berlangsungnya pernikahan pihak laki-laki 'pamit' ke kediaman pihak perempuan, bagi yang tidak disetujui keluarga, terpaksa harus keluar Bali dan baru pulang dalam kondisi sudah menikah. Tidak sedikit yang bahkan baru kembali dan 'pamit' ke leluhur saat anak dari pernikahan mereka sudah beranjak dewasa.

Iklan

Seperti Ayu, Teddy Wijaya Kusuma dengan latar belakang kasta Ksatria mengungkapkan ketidaksukaannya pada sistem kasta. Anak dari ayah berkasta Ksatria dan ibu berkasta Sudra ini sejak muda telah menjadi saksi, bagaimana sistem kasta jadi alat justifikasi membedakan satu manusia dengan manusia lainnya.

Teddy kecil tidak diperbolehkan sembahyang di pura keluarga ibunya. Bahkan waktu paman dari pihak ibunya meninggal. Lelaki yang tahun ini menginjak usia kepala empat itu juga tidak diperbolehkan memandikan jenazahnya sebelum upacara ngaben. "Kalau ada orang Bali meninggal itu adatnya kita memandikan, tapi waktu itu aku kesana dan aku mau mengabenkan, aku enggak dibolehkan memandikan pamanku ini. Padahal aku merasa dekat dengan dia," cerita Teddy kepada VICE.

Berbekal ajaran yang cukup liberal dari ayahnya, Teddy berkeras memandikan mendiang pamannya. Sempat ada cibiran tetangga dan keluarga yang ditujukan ke ayah Teddy, karena dianggap tidak membesarkan anak dengan nilai-nilai Bali yang benar. Namun Teddy dan ayahnya mengabaikannya. Dia menyampaikan bahwa semua itu adalah caranya menghargai sang paman.

Beranjak dewasa, Teddy menikahi perempuan etnis Tionghoa yang tidak memiliki kasta bernama Maesy. Pergumulan yang harus dialami Teddy dalam konteks pernikahan beda kasta mungkin berbeda dengan Ayu. Ia tidak harus membuat keputusan meninggalkan kasta yang ia miliki karena istrinya yang akan menyesuaikan dengan kasta suami. Bukan berarti tidak ada permasalahan yang muncul.

Iklan

Bagi perempuan yang menikah dengan yang memiliki kasta lebih tinggi, akan diberi nama Jero sebagai nama depannya. Seperti ibu Teddy yang berganti nama dari Ni Made Swistri menjadi Jero Ratna ketika menikah, Maesy sempat hampir diberi nama Jero oleh keluarganya. Namun Teddy bersikeras menolaknya. "Aku bilang ke keluargaku, enggak, namanya [tetap] Maesy."

Pernikahan pun tidak membuat Maesy berpindah agama mengikuti agama suaminya. Maesy tetap memeluk agama Katolik dan hal ini tidak dipermasalahkan oleh Teddy. "Aku enggak memaksakan orang untuk masuk agamaku. Tapi Maesy tetap sembahyang di pura keluargaku, as a form of respect ke leluhur."

Berbeda dari Ayu, tidak ada perlawanan yang begitu berarti dari keluarga besar Teddy. Terutama karena ayah dan ibu Teddy cukup liberal, hal ini membuat Teddy merasa tidak perlu bergantung dengan pendapat keluarga besar yang mungkin tidak sependapat dengannya.

Teddy dan Maesy menikah pada 2013. Alih-alih dinikahkan oleh pemuka agama Hindu atau Katolik, mereka dinikahkan oleh ustadz dari Yayasan Indonesia Bahagia. Yayasan Indonesia Bahagia sendiri merupakan institusi yang bersedia menikahkan pasangan tanpa salah satu harus berpindah agama.

"Waktu itu kami ditanya, Teddy, Maesy kalian mau dinikahkan oleh pemuka agama apa? Aku bilang aku suka dengan yang menggagas yayasan ini, kalau kami dinikahkan sama ustaz aja boleh?" Akhirnya Teddy dan Maesy mengucap janji nikah di Jakarta, tanpa ada penyebutan nama Tuhan sama sekali. Baru setelah itu, Teddy dan Maesy pulang ke Bali dan sembahyang di pura keluarga untuk melapor. Di Bali prosesi ini dikenal dengan nama Pawiwahan.

Adapun bagi anak muda seperti Angelina Arcana, resistensi terhadap kasta yang mengatur percintaan mulai menguat. Angelina sendiri adalah buah hati dari orang tua yang berani melepas diri dari jeratan tersebut. Sang ayah dari kasta Sudra sementara ibunya keturunan Tionghoa. Itu sebabnya, kini, Angelina sangat santai menjalin hubungan dengan lelaki yang bukan asli Bali.

"Kasta-kastaan menurut aku enggak penting ya. Bukannya mau mendobrak adat atau melupakan adat atau gimana, lebih ke adaptasi sistem perubahan untuk lebih modern," ujarnya pada VICE. "Kalau misalnya emang kasta itu lebih berdampak buruk daripada berdampak positif, ngapain dipertahanin."