Pembajakan Internet

Aktivis Kebebasan Informasi Arsipkan Jutaan File Sejarah Pembajakan di Internet

Lelaki dengan nama sandi ' Archivist' ini membuat katalog metadata pembajakan berukuran lebih dari 5 terabyte yang bisa kalian telusuri dengan mudah. Pembajakan adalah budaya yang patut diteliti.
16.12.19
Aktivis Kebebasan Informasi Arsipkan Jutaan File Sejarah Pembajakan di Internet
Gambar ilustrasi via Getty Images 

Proyek pengkatalogan sejarah pembajakan di internet baru saja melampaui 300 gigabyte, dan akan terus diarsipkan hingga tercipta metadata seukuran 5 terabyte dengan indeks yang mudah dicari. Ini adalah indeks metadata pembajakan terbesar sepanjang sejarah internet.

Warez Scene” sudah ada sejak masa-masa awal kemunculan internet. Komunitas pembajakan sangat giat dan produktif, baik sejak zamannya sistem papan buletin (BBS) maupun hingga munculnya BitTorrent.

Mulai dari ASCII dan seni lain di dalam file .nfo yang menyertai rilis grup, hingga logo dan merek grup pembajakan, selalu ada data residual yang mendokumentasikan pasang surut kelompok dan subkultur pembajakan yang bisa saja hilang tanpa jejak.

Proyek The Eye diusung oleh Archivist, lelaki yang terobsesi bikin katalog sejarah internet yang terus berubah dan tak kekal. Dia telah mengarsip video porno sebesar petabyte, keseluruhan isi Instagram, dan 80 gigabyte koleksi video jadul Apple yang dihapus YouTube.

Iklan

Archivist memberi tahu Motherboard, proyeknya didanai sumbangan dari para aktivis internet.

“Filenya mengandung karya seni unik, informasi skena tertentu, dan semua permasalahan yang dihadapi kelompok-kelompok itu—baik perselisihan pribadi, ditertibkan penegak hukum, menghadapi hukum yang berusaha menyusup ke dalam kelompok, cara mereka memperoleh media atau meng-crack game dan perangkat lunak, strategi membocorkan film sebelum dirilis maupun cara terbaik melakukan perilisan yang lebih luas dan sebagainya,” terang Archivist.

“Sejarah internet yang teramat besar bisa lenyap tanpa arsip-arsip ini. Kita tak bisa membiarkan itu,” imbuhnya.

Seperti halnya metadata YouTube dan arsip Instagram, Archivist mengatakan jumlah file yang tak terhingga menjadi kendala terbesar dalam melacak dan membuat katalog konten semacam itu. Perilisan awal dataset pembajakan terbaru ini mencakup 13.000.000 file yang ukuran totalnya hampir mencapai 400 GB. Oleh karena itu, butuh waktu lama untuk menyusun semuanya.

“Pencapaian terbaru terjadi belum lama ini. Saya akhirnya selesai meng-unpack dan mengkompres 4.000.000+ file SRR dari srrdb.com—situs yang ingin menghentikan pembajakan,” katanya. “Penambahan ini membutuhkan 1,2TB dan tidak semuanya berasal dari situs itu. Saya masih harus mengumpulkan file-file yang dirilis setelah Februari tahun ini.”

Upaya pengarsipan lainnya cenderung mendapatkan perhatian lebih besar, alasannya karena media mengkambinghitamkan pembajakan di internet. Setiap membahas pembajakan, analis dan media biasanya menggambarkan kegiatan ini sebagai tindakan kriminal dan tak dapat dibenarkan.

Iklan

Padahal, kenyataannya tak sesederhana itu.

Data menunjukkan pembajakan sebaiknya dilihat sebagai ekspresi ketidakpuasan konsumen. Studi mengusulkan pembajakan sering kali bertindak sebagai “kompetisi tak tampak”, mendorong pihak-pihak dari industri TV kabel atau video game untuk berusaha lebih keras dalam meningkatkan layanan atau mundur dari DRM menjengkelkan atau DLC yang dimonetisasi.

Terlepas dari apa kata orang soal pembajakan, sejarah panjang subkultur internet—kira-kira dimulai sejak 1975—berhak dilestarikan. Sejarah pembajakan bukan satu-satunya hal yang dikerjakan Archivist internet dan The Eye.

“YouTube mulai menjadi-jadi lagi dengan menghapus atau memaksa penghapusan konten secara massal, serta menyensor opini seenaknya. Saya dan teman-teman The-Eye akan melakukan yang terbaik—meski kekurangan dana—untuk menciptakan layanan yang dapat menangani masalah ini,” terangnya.

Pengkatalogannya diperkirakan selesai minggu depan, dan akan merilis lebih dari 10 miliar file metadata video YouTube. Situsnya juga akan meluncurkan layanan baru yang memungkinkan siapapun untuk membantu mereka menyusun data.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard