The VICE Guide to Right Now

Peru Buka Machu Picchu di Saat Pandemi Khusus Buat Satu Turis yang Gigih

Jesse Katayama asal Jepang terjebak di Peru tujuh bulan akibat persebaran Covid-19. Dia sabar menanti agar diizinkan masuk ke situs warisan dunia versi UNESCO tersebut.
14 Oktober 2020, 6:42am
Peru Buka Machu Picchu Saat Pandemi Khusus Buat Satu Turis Jepang Jesse Katayama
Foto pemandangan Machu Picchu oleh Willian Justen de Vasconcello via Unsplash 

Semua aspek pariwisata terpukul akibat pandemi Covid-19. Beberapa orang yang bertahun-tahun merancang pelesir ke lokasi tertentu dipaksa mengubah atau membatalkan impian mereka. Banyak negara terpaksa menutup sementara lokasi-lokasi wisata favorit bagi turis asing, demi mencegah penyebaran virus.

Namun, untuk seorang turis asal Jepang, pandemi tak menghentikan mimpi lamanya terwujud di Peru, sekalipun butuh waktu lebih lama. Jesse Katayama punya impian sebelum mati harus pernah mengunjungi Machu Picchu, situs peradaban kuno Peru yang masuk daftar warisan dunia UNESCO.

Akhir pekan lalu, dia jadi satu-satunya turis diizinkan masuk Machu Picchu, padahal pemerintah Peru menutup akses masuk situs itu ke semua wisatawan selama pandemi. Tentu Katayama harus berkorban. Dia menanti kesempatan masuk Machu Picchu selama tujuh bulan.

Katayama tiba di Kota Agua Calientes, Peru, pada 14 Maret lalu seperti dilaporkan kantor berita Reuters. Kota itu merupakan gerbang menuju lokasi Machu Picchu yang berada di puncak lembah pegunungan Andes. Sang turis muda ini sudah membeli tiket masuk untuk 16 Maret, tapi nahas sehari sebelum dia berkesempatan masuk, pemerintah Peru mengumumkan kebijakan lockdown. Machu Picchu pun tak boleh dimasuki siapapun, baik turis domestik maupun asing, sampai penularan Covid-19 melandai.

Katayama tentu kecewa, tapi dia pun tak bisa kembali ke Jepang. Pemerintah Peru melarang semua orang bepergian naik pesawat untuk sementara dan menutup akses bandara. Alhasil, dia terpaksa tinggal di Agua Calientes.

Selama masa menanti kepastian bisa pulang, harapan Katayama untuk bisa mengunjungi reruntuhan kota dari Abad 15 yang jadi simbol Kerajaan Inca itu ternyata tak padam. Awal Oktober lalu, Katayama minta izin khusus ke pemerintah agar diizinkan berkunjung sebelum pulang, setelah larangan terbang dicabut. Pemerintah Peru lantas mengizinkannya pelesir ke Machu Picchu pada 10 Oktober.

“Warga Jepang ini selama berkeliling ditemani langsung Kepala Taman Nasional Machu Picchu sebelum kembali ke negara asalnya,” kata Menteri Kebudayaan Peru Alejandro Neyra dalam jumpa pers kemarin. Katayama juga didampingi dua fotografer pemerintah.

CNN melaporkan Katayama selama menanti tujuh bulan tidak diam saja. Dia berhasil mendapat pengalaman tak terlupakan selama tinggal di Peru. Mulai dari punya teman warga lokal sampai mengunjungi lokasi wisata lain yang belum ditutup aksesnya seperti Gunung Putucusi serta air terjun Calientes.

Neyra menyatakan Machu Picchu akan buka lagi untuk semua turis pada November 2020, namun dibatasi kapasitasnya hanya 30 persen dari yang biasa mereka terima saban hari. Lazimnya, Machu Picchu dikunjungi satu orang dari seluruh dunia per tahun.

Peru mengalami penularan yang cukup parah selama pandemi. Total ada 851.171 kasus positif Covid-19 di negara Amerika Latin itu, dengan 33.357 pasien meninggal hingga artikel ini dilansir. Ketika kurva penularan melandai, Peru akhirnya mulai membuka lagi semua aktivitas perekonomian dan penerbangan mulai 5 Oktober.