Selama beberapa dekade sejak kemerdekaan pada 1965, negara ini dipimpin dengan tangan besi pemerintah dari People’s Action Party (PAP). Terlepas dari keramahtamahan kelas dunia, saat ini Singapura menduduki peringkat 151 dari 180 negara pada Reporters’ Without Borders World Press Freedom Index. Kebebasan berekspresi direpresi, hukum soal proteksi pekerja domestik sangat minim, hak asasi LGBT hampir tak ada, dan hukuman mati terus ada. Baru-baru ini Singapura mengeksekusi, Prabagaran Srivijayan, warga Malaysia yang didakwa pada 2014 karena mengimpor heroin ke Singapura. Ia dihukum gantung pada Juli lalu di Penjara Changi.
Meski ada aktivis-aktivis yang memerangi ketidakadilan hak asasi manusia di Singapura setiap harinya, aktivisme masih dipandang sebelah mata dan seringkali menjadi bumerang. Jolovan Wham, salah satu aktivis yang ngobrol bareng VICE beberapa bulan lalu untuk artikel ini, menghadapi tujuh tuntutan. Satu di antaranya karena dia bikin acara kumpul-kumpul sekaligus ngobrol via Skype dengan aktivis pro demokrasi dari Hong Kong. Kasus lain ia dituntut karena menyelotip dua kertas di dinding MRT dan menolak memenuhi panggilan polisi.
VICE ngobrol-ngobrol dengan empat aktivis di Singapura soal tantangan yang mereka hadapi saat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam iklim yang mendukung diam, dan pandangan mereka soal kemungkinan perubahan di masa depan.
Jolovan Wham

Videos by VICE
VICE: Hi Jolovan, boleh ceritakan bagaimana kamu awalnya terjun ke dalam aktivisme?
Jolovan Wham: Saya adalah seorang pekerja sosial yang fokus pada hak-hak buruh migran dan kini menjadi amat khawatir soal eksploitasi dan pelanggaran hak buruh yang sangat dinormalisasikan dalam masyarakat Singapura. Setelah berkesempatan menemui aktivis-aktivis di Singapura dan negara lainnya, saya terinspirasi dengan kerja advokasi mereka
Media sosial dan internet bersifat revolusioner bagi rezim otoriter seperti Singapura. Kami terpapar pada gagasan-gagasan berbeda dan tak lagi mengandalkan informasi dari media yang dikuasai pemerintah. Pikiran warga Singapura mulai terbuka. Tentu saja, PR kami masih banyak, tersebab indoktrinasi selama puluhan tahun dan dominasi partai yang berkuasa. Itu dampaknya amat besar dan dalam pada hidup kami. Tapi ya, kami harus mulai melangkah.
Rachel Zeng

Kini orang-orang lebih vokal dan ada ruang lebih untuk diskusi publik, terutama di media sosial. Namun, budaya protes dan solidaritas terhadap kaum tertindas masih kurang dan jarang.
Jean Chong

Jean adalah salah seorang penggagas Sayoni, organisasi hak asasi LGBT. Dia adalah salah satu pemimpin ASEAN SOGIE Caucus, jaringan regional untuk kelompok-kelompok LGBTQI di Asia Tenggara yang mengupayakan keikutsertaan hak LGBTQI dalam ASEAN Human Rights Mechanism.
Sepertinya anak muda sekarang lebih terbuka pikirannya. Tapi, di waktu bersamaan saya menyadari bahwa toleransi saja tidak cukup, orang-orang perlu tahu mengapa mereka menghargai perbedaan. Tak ada gunanya kalangan LGBT bebas jika kalangan lainnya masih tertindas. Kita semua harus angkat bicara saat menyaksikan diskriminasi dan ketidakadilan yang terjadi pada siapapun yang hidup di Singapura.
Kirsten Han

Kristen adalah salah seorang penggagas We Believe In Second Chances, kelompok independen yang berupaya menghapus hukuman mati. Dia juga seorang blogger ternama dan jurnalis dengan fokus iklim politik di Singapura.
VICE: Jadi, bagaimana awalnya kamu menjadi soerang aktivis? Kirsten Han: The Online Citizen Yong Vui KongMenggeluti aktivisme sebagai karir, kan, lumayan tak umum di Singapura. Mengapa kamu melakukannya? Yong Vui Kong
Apa hal yang paling menyulitkan bagi aktivis HAM di Singapura?
Apa yang bisa dilakukan warga Singapura saat ini untuk meningkatkan kesadaran soal HAM?
More
From VICE
-

Anker Soundcore AeroClip – Credit: Anker -

Photo by Maskot / Getty Images -

Photo by Milan Risky/Shutterstock -

(Photo by Slaven Vlasic/Getty Images for Sports Illustrated)