Dua pegulat tradisional India, alias Kushti, bertarung di lapangan kosong Kota Dubai.
Semua foto oleh penulis
Fotografi

Pertandingan Gulat Tersembunyi di Lapangan Kosong Dubai

Tiap Jumat sore sebelum Magrib, ekspatriat asal Asia Selatan di Kota Dubai memadati lapangan belakang pasar ikan, untuk bertarung dalam kompetisi gulat. Mereka melestarikan tradisi kampung halaman.
1.11.18

Saat kamu melangkahkan kaki menuju Pasar Ikan Deira di pesisir Kota Dubai, kamu akan menemukan lapangan kosong tak jauh dari sana. Di tempat itu, para ekspatriat dari komunitas Asia Selatan akan berkumpul saban Jumat sore sebelum Magrib. Mereka datang menyaksikan pehlwani atau kushti sebanyak beberapa ronde. Pehlwani adalah gaya gulat klasik yang berasal dari India. Perkumpulan ekspatriat ini lantas melestarikannya di Dubai. Pegulat yang mengikuti kompetisi tradisional tersebut sebagian besar datang dari negara anak Benua India, seperti Pakistan dan Bangladesh. Mereka hanya mengenakan sepasang Speedo dan kaupinam (cawat) selama bertarung beberapa ronde. Mereka bergerak mendorong dan menyerang satu sama lain, berusaha menjatuhkan lawan hingga tidak berkutik.

Pertandingannya diselenggarakan oleh sesepuh komunitas Asia Selatan, baik itu Tamil ataupun Hindi, yang sudah lama tinggal di Dubai. Acara mingguan ini berhasil menarik ratusan penonton dari berbagai kalangan, mulai dari supir taksi, tukang bangunan, hingga buruh migran lainnya. Mereka datang demi menyemangati para atlet yang bertarung, dan patungan memberi sedikit hadiah uang bagi sang juara.

Fisik pehlwan memang tidak sesempurna binaragawan yang biasa seliweran dan berkompetisi juga di pantai kawasan turis Dubai, tetapi mereka bertubuh tegap. Bahkan, banyak pegulat yang telah dilatih sejak kecil. Bekas luka pertandingan tampak sangat mengesankan, bisa kalian saksikan di dada, punggung, hingga bahu mereka.

Iklan

Meskipun jumlah ekspatriat di Dubai sudah melebihi populasi penduduk asli Uni Emirat Arab, kualitas hidup pendatang yang sebagian besar dari Asia Selatan itu masih sering diabaikan. Banyak dari mereka bahkan menjadi korban perbudakan modern ketika sampai di Dubai. Kendati kondisi hidup amat berat, para laki-laki imigran ini selalu menyempatkan waktu berkumpul seminggu sekali untuk mengalami lagi rasanya jadi bintang. Mereka bertekad meneruskan tradisi dari kampung halaman mereka.

Kushti sangat penting bagi orang-orang yang mempraktikannya. Alhasil, para pegulat bersedia bertanding di musim panas yang ekstrem. Penonton pun terus berdatangan meskipun cuacanya sangat panas.

Ustaz yang dituakan di sana akan memimpin upacara dengan tongkat warna-warni dan bagpipe. Kerumunan kushti seketika bubar ketika azan Magrib berkumandang.

Follow Alexander di Instagram dan kunjungi situs webnya untuk melihat foto-fotonya yang lain.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.