Gejala Fobia

Begini Rasanya Menjadi Pengidap Fobia Petir

"Saya enggak mau sekolah kalau prakiraan cuaca bilang akan hujan petir," kata penulis artikel ini yang sangat ketakutan dan tidak bisa mengontrol diri tiap mendung.
Lv
seperti diceritakan pada Lisanne van Sadelhoff
10.9.18
Foto ilustrasi petir dari DesiDrew Photography via Getty Images 

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic Belanda

Saya benci kilat dan guntur. Badan langsung bergetar hebat kalau ada petir. Saya sampai pernah mengumpat di balik selimut sambil menangis sesenggukan.

Saya bukan penakut. Orang tua juga biasa saja dengan petir. Tidak jelas juga mengapa saya bisa setakut ini sama petir sejak kecil. Kayaknya saya bukan takut sama suaranya, soalnya saya enggak takut petasan. Kita bisa mengendalikan petasan karena buatan manusia. Selain itu, saya biasa saja kalau nonton video petir. Video enggak akan buat kita mati. Nah, pikiran saya beda banget kalau sudah melihat langsung sambaran kilat. Seakan-akan nasib kita bergantung pada alam jika petir atau guntur terjadi saat itu juga. Saya butuh dilindungi setiap ada petir karena khawatir hal buruk dapat terjadi. Kita bisa saja kan tewas tersambar geledek?

Saya pernah pergi berkemah bersama orang tua waktu masih kecil. Lokasinya di bukit, jadi suara petir akan terus bergema. Rasanya sangat menegangkan kalau mendengarnya dari tenda. Saya langsung panik waktu itu. Tubuh tegang dan napas tercekat.

Saya merasa amat gelisah saat menutup kuping. Saya baru bisa tenang kalau bersembunyi dalam selimut. Semua anggota tubuh harus tertutup. Saya sudah enggak peduli walau kepanasan di saat-saat seperti itu.

"Aneh sekali dikelilingi orang-orang yang amat tenang saat kamu sendiri panik. Masalahnya enggak ngaruh juga walau orang bilang "santai aja woy" atau "enggak bakal kenapa-kenapa."

Orang tua tidak pernah berhasil menenangkanku. Saya baru agak baikan kalau hujan petirnya berhenti. Ibu memakluminya, tapi ayah bingung kenapa saya bisa setakut itu sama geledek. Kebanyakan orang tidak memahami astrafobia, apalagi fobia ini hanya diidap oleh dua hingga tiga persen penduduk di berbagai negara. Saya termasuk beruntung karena tidak ada teman dekat yang mengejek selama ini gara-gara takut geledek. Mungkin karena mereka paham betapa takutnya saya sama petir.

Ketakutan ini sangat menyulitkan semasa saya masa kecil dulu. Saya sampai ogah berangkat sekolah kalau prakiraan cuaca bilang akan hujan petir. Untung saja fobianya berkurang setelah saya melewati masa pubertas. Hanya saja pernah kambuh saat saya sedang menjaga anak orang. Rasa takutnya tiba-tiba muncul ketika ada geledek. Saya tidak bisa berhenti menangis waktu itu. Kacau banget pokoknya.

Sejak itu, saya mulai memeriksa ramalan cuaca di internet secara rutin, dan bahkan sedikit obsesif, supaya saya bisa tidur nyenyak. Saya menunjukkan perilaku maniak kontrol sekaligus menjadi orang yang suka menghindar: saya enggak mau keluar rumah tanpa memeriksa laporan cuaca dan akan membatalkan rapat atau kelas kalau menurut ramalan hari itu akan hujan petir.

Apapun yang terjadi, saya enggak mau berada di jalanan atau tempat asing saat guntur mulai pecah, terutama karena perasaan takut dan panik sangat tidak tertahankan. Aneh sekali dikelilingi orang-orang yang amat tenang saat kamu sendiri panik. Masalahnya enggak ngaruh juga walau orang bilang "santai aja woy" atau "enggak bakal kenapa-kenapa."

Sekarang usia saya 27 tahun, dan saya akhirnya bisa mengatasi ketakutan saya. Sekarang sih sudah tak terlalu intens. Dulu sulit sekali rasanya, tapi saya bisa menjalani kegiatan tanpa bantuan psikolog. Kamu sering mendengar bahwa orang butuh terapi, EDMR, atau apalah, tapi saya kayaknya enggak. Saya enggak punya pengalaman traumatis apapun, terutama berkaitan dengan kilat dan guntur, dan—ini adalah bagian yang paling penting—saya akhirnya berhasil memandang fenomena ini dengan lebih proporsional.

Sekarang saya bisa meyakinkan diri sendiri bahwa saya berada di dalam ruangan dan saya aman. Saya tidak berbaring di ranjang dan ketakutan lagi. Tapi saya masih memilih selimutan saat di luar sedang ada geledek, dan saya memilih tidak dekat-dekat alat elektronik apapun. Saya masih tercekat dan perut saya masih mual setiap kali saya mendengar suara guntur. Kalau sedang di rumah dan di luar sana guntur sedang pecah, kemungkinan besar saya menelepon atasan di kantor dan bilang bahwa saya akan berangkat setelah geledek berhenti. Kala malam dan di luar ada geledek, saya minta pelukan sama suami.

Setelah bertahun-tahun, saya sadar bisa lebih tenang ketika ngobrol sama orang lain di luar ruangan saat sedang ada guntur. Apalagi kalau ngobrolnya dengan orang yang kenal baik saya. Saya bisa mengatasinya seakan-akan saya punya penangkal petir.