Politik Internasional

Tampaknya Korea Utara Sudah Berhenti Membenci AS

Korea Utara dilaporkan telah membatalkan demo tahunan “anti-AS” nya, acara demonstrasi besar-besaran di mana puluhan ribu warga akan turun ke jalanan Pyongyang untuk mengecam musuh sejati Korea Utara.
26.6.18
Gambar dari Getty Images: Sekitar 100 ribu warga Korea Utara mendatangi demo anti-AS di Kim Il Sung Square, Pyongyang pada 23 September 2017 (Kyodo News via Getty Images)

Meskipun pemerintah Korea Utara belum mengumumkan keputusannya kepada publik, tapi Associated Press telah membenarkan bahwa demonstrasi tidak akan diselenggarakan tahun ini pada Senin kemarin.

Sekitar 100.000 demonstran memadati Kim Il Sung Square pada demo tahun 2017, dan menyelenggarakan perayaan satu bulan penuh yang mengekspresikan kebencian terhadap AS — antipati bermuatan politis yang berawal dari Perang Korea.

Iklan

Akan tetapi, ketegangan antara Korea Utara dan Amerika Serikat mulai mereda sejak suksesnya pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un yang diadakan di Singapura awal bulan ini. Pertemuan ini menghasilkan deklarasi perjanjian denuklirisasi.

Agensi berita nasional Korea Utara meliput berita pertemuan tersebut secara besar-besaran, termasuk film dokumenter berdurasi 42 menit soal diplomasi Kim.

Media nasional Korea Utara juga lebih menghormati Trump dalam surat resmi terbarunya yang mengikuti perkataan ramah Trump kepada Kim sejak pertemuan itu berlangsung.

Meskipun begitu, denuklirisasi tetap jadi topik utama.

Kantor berita Korea Utara masih urung membicarakan isu tersebut walaupun Trump telah meyakinkan kalau Korea Utara sudah mencabut ancamannya.

Minggu lalu, pejabat pertahanan AS memberi tahu Reuters bahwa administrasi negara akan segera mengajukan “pertanyaan spesifik” kepada Kim mengenai rencana penghapusan senjata nuklirnya.

“Kita akan segera mengetahui apakah Korea Utara menepati janjinya atau tidak,” ujarnya. “Kami akan menanyakan beberapa hal spesifik, dan kami juga akan menunjukkan timeline spesifik saat mengutarakan konsep kami dalam menerapkan kesepakatan kepada Korea Utara.”

Tidak jelas apa “pertanyaannya” dan kapan mereka akan mengajukannya.

Agensi berita Korea Selatan Yonhap melaporkan bahwa ada kampanye terkoordinasi dalam beberapa media nasional Korea Utara yang menyatakan bahwa AS harus benar-benar memercayai Korea Utara agar bisa meyakinkan Kim untuk menciptakan perdamaian di semenanjung.

“Ini merupakan pertemuan bersejarah. Dua kubu yang bermusuhan mampu membuka jalan bagi hubungan bilateral baru. Baik AS maupun Korut harus sungguh-sungguh dalam menerapkan deklarasi bersama mereka,” tulis situs web propaganda eksternal, Meari, dalam sebuah kolom komentar.

Gedung Putih tampaknya akan menunjukkan kalau AS bersedia untuk menghentikan latihan militernya dengan Korea Selatan, karena Pyongyang menganggap mereka provokatif.