Jangan Segan Pelajari Berbagai Bentuk Tinja, Karena Bisa Gambarkan Kesehatan Kita

Ilmuwan menciptakan 'Bristol Stool Chart' untuk mendeskripsikan tujuh tipe feses yang dapat menjadi indikator kesehatan seseorang.
20.2.19
Ilustrasi bentuk tinja yang bisa menggambarkan kondisi tubuh seseorang.
Ilustrasi oleh Cactus Blai Baules/Stocksy 

Semua makhluk hidup, termasuk manusia, butuh buang air besar agar tubuh terus sehat. Meski demikian, membuang hasil pencernaan sering dianggap menjijikkan bagi sebagian besar orang. Kita enggan membicarakan, apalagi membahas tinja.

Padahal feses yang dibuang ternyata bisa menentukan status kesehatan usus besar dan saluran pencernaan kita. Itulah sebabnya kita tidak boleh mengesampingkan urusan ini.

Ilmuwan terkenal suka meneliti topik-topik yang dianggap tak lazim, bentuk tinja adalah salah satunya. Pada 1998, Stephen Lewis dan Ken Heaten dari University of Bristol membuat skala untuk mengidentifikasi tujuh jenis feses. Skalanya dimulai dari sembelit (model 1) hingga diare (model 7).

Berkat Bristol Stool Chart, seseorang yang mengalami gejala gangguan pencernaan bisa menjelaskan bentuk kotorannya kepada dokter tanpa perlu melakukan tes feses.


image-20161011-3909-p1j1kp

Bagi kebanyakan dari kita, bentuk tinja sangat bervariasi tergantung pada apa yang telah kita lakukan. Kegiatan buang hajat jadi tertunda atau bentuknya lebih kering dari biasanya apabila kita kurang minum dan terlalu sering berolahraga.

Begitu juga saat memakan makanan pedas. Kalian bisa mencret-mencret jika perut tidak tahan masakan pedas.

Seperti Apa Sih Bentuk Feses yang Normal?

Idealnya, buang air besar yang normal yaitu saat kotorannya keluar tanpa mengejan terlalu keras.

Jenis tinja yang normal menurut Bristol Stool Chart yaitu model 3, 4 dan 5. Fesesnya berbentuk sosis dan berdiameter 2 hingga 3 cm, berbentuk seperti sosis atau ular dan bertekstur lembut seperti pasta gigi dengan diameter 1 hingga 2 cm, atau berbentuk gumpalan lunak dengan tepi yang jernih.

Bentuk feses kering (model 1 dan 2) memang lebih mudah dibersihkan, tetapi cenderung memadat jadi tinja besar. Akibatnya, kalian harus menambah tekanan untuk mengeluarkannya. Kotoran yang keras bisa mengikis lapisan usus besar. Saat buang hajat, feses yang kering bisa membuat lubang anus menjadi lebih besar daripada normal. Kotorannya baru akan keluar apabila kalian mengejan dengan kuat dan lama. Prosesnya jadi terasa sakit.

Mengejan dengan kuat bisa meningkatkan risiko luka lecet di anus, wasir, prolaps, dan kondisi divertikulosis. Kondisi ini terjadi ketika ada divertikula (kantong) yang terbentuk di dinding usus besar, dan bisa menyebabkan infeksi atau peradangan.

Bentuk feses yang encer dapat dikaitkan dengan infeksi usus, misalnya dengan parasit usus seperti Giardia atau gangguan peradangan seperti penyakit Crohn. Tinja yang lembut dan tidak encer adalah bentuk ideal. Apabila buang air besarnya menyebabkan kotoran kering dan memberikan rasa mengganjal—atau feses encer dan kepingin buang hajat terus—maka kalian harus segera konsultasi ke dokter.

Kenapa Air Sangat Penting Dalam Proses Buang Hajat?

Kadar air merupakan faktor pembeda yang paling jelas di antara bentuk tinja.

Usus besar berfungsi sebagai penyerap air di tubuh. Setiap harinya, ada sekitar 9 liter cairan yang masuk ke dalam saluran pencernaan, termasuk 1,5 liter air liur, 2,5 liter cairan lambung, dan 0,8 liter cairan empedu. Namun, tentu saja kita tidak mengeluarkan semua volume ini.

Semakin lambat makanan yang dicerna melewati usus besar, semakin banyak juga air yang terserap. Akibatnya, feses menjadi sangat kering dan keras. Itu berarti bentuk tinja sangat bergantung pada faktor yang memengaruhi laju transit makanan melalui saluran pencernaan kita.

Gaya hidup memengaruhi waktu transit. Kontraksi usus menjadi tidak normal apabila kalian sering mengonsumsi antibiotik, obat penghilang rasa sakit, dan jarang berolahraga. Hal ini bisa memperlambat perjalanan makanan melalui usus besar dan menyebabkan sembelit.

Apa hubungan pola makan dengan bentuk feses?

Pola makan juga berperan penting bagi pembentukan tinja dan kesehatan.

Studi observasi yang dilakukan di Afrika selatan dan timur pada 1970 dan 1980-an membandingkan kesehatan pencernaan orang Kaukasia yang pola makannya mengikuti gaya Barat dan orang Afrika asli yang hidup secara tradisional. Peneliti menemukan bahwa orang yang mengikuti pola makan Barat bentuk kotorannya lebih kering dan sering sembelit.


Tonton dokumenter VICE mendatangi upacara rahasia para penyembah dewi api di Gunung Sorte Venezuela:


Ini dikaitkan dengan peningkatan insiden kanker usus, radang usus, dan penyakit kronis lainnya pada orang Barat. Hasilnya menunjukkan perbedaan kadar serat di antara kedua populasi ini, dan kesimpulannya mengonfirmasi risiko kanker usus dalam berbagai penelitian.

Asupan serat memengaruhi waktu transit, bentuk tinja, dan kesehatan dalam dua cara. Pertama, makanan akan menyerap air dan membengkak apabila orang sehat yang terhidrasi mengonsumsi makanan berserat seperti kulit gandum dengan banyak serat. Ini meningkatkan volume tinja, melembutkan teksturnya dan menstimulasi laju makanan yang lebih cepat. Pada saat bersamaan, serat melunakkan feses dan membersihkan semua racun yang mungkin telah dicerna bersama makanan.

Ada juga komponen yang lebih kuat selain serat makanan: karbohidrat yang dapat difermentasi seperti pati resisten (bentuk pati yang tidak dicerna dalam usus kecil), beta glukan, dan fructo-oligosaccharide, yang umumnya ditemukan dalam biji-bijian utuh (whole grain), kacang-kacangan, buah-buahan dan sayur-mayur. Ini adalah sumber nutrisi utama bagi triliunan bakteri yang menghuni usus besar (mikrobiota usus).

Asam lemak rantai pendek (SCFA) memainkan peran penting dalam tubuh. Salah satu SCFA ini, butirat (asam makanan yang membuat bau keju parmesan tidak sedap), mengurangi waktu transit makanan dengan memperkuat kontraksi otot yang melapisi usus besar.

Asam lemak rantai pendek ini memperkuat, menumbuhkan, dan memperbaiki jaringan sel yang melapisi usus besar. SCFA menghancurkan sel kanker, mengurangi peradangan dan rasa sakit di usus, serta meningkatkan rasa kenyang. Kedengarannya bagus, ya?

Sayangnya orang Barat jarang makan serat, sama seperti kebanyakan orang Indonesia. Asupan serat yang mereka konsumsi hanya 12-15 gram per hari. Meskipun tak ada aturan asupan serat yang ditetapkan, orang Australia yang sehat disarankan untuk mengonsumsi setidaknya 30 gram serat setiap hari, dengan pati resisten sebanyak 15-20 gram.

Perjalanan kita jelas masih jauh. Tapi ada peringatan, ya. Apabila kalian mengalami gejala pencernaan—misalnya sakit perut, rasa mual, muntah-muntah, dan diare—mungkin serat bukan solusinya. Kalian harus mempertimbangkan tipe serat yang dikonsumsi dengan bantuan doktermu.

Komponen kasar yang terdapat di beberapa sumber serat berpotensi memperparah gejala bagi orang dengan penyakit divertikular, misalnya. Gejala sindrom iritasi usus besar dapat diperburuk oleh sumber serat yang kaya akan fruktosa oligo, di- atau monosakarida dan polyol (FODMAP), seperti bawang bombay, bawang putih, apel, pir, susu, beberapa jenis sayuran, roti dan mi, serta kacang mede.

Namun bagi kebanyakan dari kita, tambahan konsumsi serat seharusnya menurunkan waktu transit makanan, melunakkan feses, membuat BAB lebih lancar, dan memperbaiki kesehatan usus.


Trevor Lockett adalah ketua organisasi kesehatan masyarakat di Lembaga Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO) Australia.

Artikel ini pertama kali tayang di The Conversation. Sila baca artikel aslinya di sini.