Fotografer Senior Berbagi Tips Soal Metode Terbaik Memotret Terorisme
Seorang lelaki melemparkan batu ke poster mendiang Sadam Hussein di Baghdad, Irak. Foto diambil 10 April 2003. © Magnum Photos
Fotografi

Fotografer Senior Berbagi Tips Soal Metode Terbaik Memotret Terorisme

Karya baru fotografer Peter van Agtmael adalah kumpulan foto merekam kebiadaban berbagai aksi teror, termasuk ISIS. Sebagai jurnalis yang mengabdikan separuh hidup memotret terorisme, Peter punya saran terbaik bagi jurnalis foto muda lainnya.
Pierre Longeray
Paris, FR
24.7.18

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Prancis

Peringatan: Gambar-gambar dalam artikel ini cukup eksplisit dan bisa memicu rasa tidak nyaman ataupun trauma psikologis.


Peter van Agtmael adalah fotografer Magnum asal Amerika yang sangat suka sejarah. Karya terbarunya, A Brief Visual History in the Time of ISIS , merupakan kumpulan 40 foto dari 19 fotografer yang mengisahkan perjalanan kelompok teroris. Foto paling awal di proyek ini diambil pada 1941, sedangkan foto-foto terbarunya diambil saat pembebasan Mosul pada 2017.

“Tanpa mengurangi dampak kejahatan mereka terhadap jutaan orang, karya ini bertujuan untuk mengisahkan sejarah panjang ISIS,” tulis Agtmael dalam kata pengantarnya. A Brief Visual History merupakan seri pertama yang ditampilkan dalam proyek terbaru Magnum Chronicles — seri pamflet bergaya surat kabar yang dilakukan oleh beberapa fotografer.

Belum lama ini, saya bertemu dengan Peter di Paris untuk membahas proyek terbarunya dan tantangan apa saja yang dihadapi saat memotret aksi terorisme.

Iklan

VICE: Halo Peter. Sejak kapan kamu mulai menekuni fotografi?
Peter Van Agtmael: Saya pertama kali kerja di koran kampus. Sewaktu magang di Parlemen Uni Eropa, saya ditugaskan ke Rumania mendokumentasikan panti asuhan di sana. Saya banyak belajar soal kehebatan dan keterbatasan fotografi dari pengalaman ini. Saya juga jadi tahu batas-batas etika profesi fotografer.

Foto diambil di Aurora, Illinois, pada 2015. Mahmud Al Hajali sedang berbelanja di supermarket. Bersama keluarganya, Hajali termasuk satu dari 2.200 pengungsi asal Suriah yang mengajukan suaka pada Amerika Serikat. © Peter van Agtmael /Magnum Photos

Sebagian besar hidupmu dihabiskan mendokumentasikan aksi teror. Apa alasannya kamu membuat kumpulan foto dampak terorisme yang komprehensif seperti ini?
Sewaktu serangan Paris 2015 lalu, saya sedang di restoran yang tidak jauh dari Bataclan. Saya terinspirasi untuk mengisahkan bagaimana aksi terorisme bisa semakin berjaya sekarang. Saya bertujuan menampilkan apa yang tidak ditunjukkan media dan mudah diterima oleh masyarakat.

Jasad militan ISIS di Kota Mosul, Irak. Foto diambil pada Mei 2017

Karyamu di buku ini tampaknya berfokus pada kemunculan ISIS.
Di karya ini, saya tidak cuma ingin menunjukkan kekejaman dan kerusakan yang mereka sebabkan. Saya juga tertarik untuk menceritakan awal mula ISIS muncul. Sejarahnya sudah ada sejak Kekhalifahan Ottoman. Karena itu kami memutuskan untuk menaruh kronologi di awal. Kadang fotografer suka lupa kalau setiap foto ada sejarahnya.


Tonton dokumenter VICE mengenai kelas latihan menembak yang ilegal tapi semakin diminati banyak orang berikut:


Tidak banyak foto milisi ISIS dalam kumpulan foto ini. Apa memang disengaja?
Sejujurnya, cuma ada satu foto ISIS. Saya awalnya malah enggan memasukkannya. Tidak banyak foto ISIS karena mereka tidak setuju difoto, kecuali kalau kamu mau nurut dengan apa yang mereka tentukan. Saya tentu saja tidak mau seperti itu. Saya fotografer, bukan tukang propaganda.

Pengunjung pantai membaca koran tentang rencana pemboman Suriah oleh Inggris. Foto diambil di Pays de Galles, pada 2013.

Bagaimana caramu memilih momen foto yang sebaiknya diabadikan dan mana yang tidak dalam insiden terorisme?
Kita tidak bisa memungkiri dampak kekejaman teroris di dunia. Tapi, saya juga tidak mau membuat masyarakat takut dengan foto-foto yang terlalu eksplisit. Ketika mengangkat topik berbau konflik atau aksi teror, kamu harus menunjukkan gambaran dunia yang lebih lengkap dari foto itu. Alasannya, karena saya ingin orang tahu kompleksitas masalah yang sedang diangkat. Dengan melakukannya, kita bisa mendapatkan berbagai gambar—yang tidak fokus pada dampak mengerikan teror saja. Ada yang indah, sureal, brutal, atau malah semuanya sekalig.

Simak foto-foto lainnya dari buku “A Brief Visual History in the Time of ISIS” di bawah ini:

Damas, Suriah. Personel militer India memasuki reruntuhan kantor pemerintah kolonial Prancis di Vichy yang kabur setelah pemerintahnya menyerah dari Nazi pada 1941.

Foto diambil di Kota Ehtemlat dekat Aleppo, Suriah, pada 2013. Seorang prajurit loyalis Basyar al Assad dihukum pancung oleh militan ISIS.

Di Mosul, seorang lelaki paruh baya kehilangan penglihatan akibat terkena pecahan bom. Dia menanti angkutan taksi setelah dirawat rumah sakit.