Polusi udara

WHO Melaporkan 600 Ribu Anak Terbunuh di Seluruh Dunia Akibat Polusi Udara

Data itu didapat sepanjang 2016. Diperkirakan 1,8 miliar anak di bawah 15 tahun berisiko terkena infeksi pernapasan akibat udara yang tercemar.
31.10.18
Anak-anak bermain di kincir angin.
Sumber foto Max Pixels 

Menurut laporan World Health Organization (WHO) yang dirilis Senin lalu, polusi udara menyebabkan kematian dini 600.000 anak pada 2016. Laporan tersebut menemukan bahwa anak di bawah 15 tahun yang menghirup udara beracun jumlahnya mencapai 93 persen, atau sekitar 1,8 miliar anak dan remaja.

"Udara kotor meracuni jutaan anak dan merusak hidup mereka," tutur Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, dalam sebuah pernyataan. "Hal ini tidak bisa dimaafkan. Setiap anak berhak menghirup udara segar supaya mereka bisa tumbuh besar dan mencapai cita-citanya."

Laporannya dirilis sebelum Konferensi Global tentang Pencemaran Udara dan Kesehatan pertama WHO, yang akan diadakan pada 30 Oktober hingga 1 November di Jenewa, dan didasarkan pada pengukuran kualitas udara global dan tingkat infeksi saluran pernapasan pada anak-anak. WHO berfokus pada sulfat dan partikel jelaga berukuran kurang dari 2,4 mikrometer yang bisa tertimbun dalam sistem pernapasan dan kardiovaskular manusia.

Kontaminan ini dapat ditemukan di polusi udara dalam rumah (HAP) dari bahan bangunan atau asap saat memasak dan memanaskan, serta polusi udara luar ruangan (AAP) dari asap kendaraan atau pabrik bahan bakar fosil.

Iklan

WHO memperkirakan bahwa tujuh juta orang mati dini akibat efek HAP dan AAP setiap tahun. Namun, anak-anak jauh lebih rentan terkena dampaknya karena sistem pernapasan, saraf, kardiovaskular, dan kekebalan tubuh mereka masih berkembang.

Laporan juga menemukan bahwa kemungkinan anak-anak yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah untuk menghirup udara beracun dua kali lebih besar daripada di negara berpenghasilan tinggi. 10 persen anak yang meninggal sebelum usia 5 tahun mengalami infeksi pernapasan, penyebab kedua setelah kelahiran prematur yang menjadi penyebab utama kematian pada kelompok usia ini.

Anak kecil yang tinggal di wilayah tertentu, seperti Afrika sub-Sahara, meninggal karena menderita infeksi saluran pernapasan akut. Perempuan hamil yang terpapar udara kotor risiko kelahiran prematurnya lebih tinggi. Kedua penyebab kematian bayi ini sangat berkaitan. "AAP dan HAP ada kaitannya dengan hipertensi pada kehamilan [yang] menjadi penyebab utama kematian ibu di seluruh dunia" dan ini "berkaitan dengan hasil kelahiran yang buruk, termasuk lahir sebelum waktunya dan berat lahir rendah."

Maria Neira, kepala departemen kesehatan masyarakat dan lingkungan WHO, menjelaskan bahwa kerugian yang diakibatkan oleh polusi udara hanya bisa diatasi oleh perusahaan internasional dan dengan beralih ke sumber energi terbarukan.

"WHO mendukung penerapan kebijakan yang mementingkan kesehatan masyarakat seperti penggunaan teknologi dan bahan bakar memasak atau memanaskan yang tidak beracun, transportasi yang ramah lingkungan, dan perencanaan permukiman dan kota yang hemat energi," tutur Neira dalam sebuah pernyataan. "Polusi udara merusak otak anak, dan memengaruhi kesehatan mereka dengan cara yang tak pernah kita pikirkan. Meskipun begitu, masih ada banyak cara yang bisa mengurangi emisi polutan berbahaya."

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard