Kejadian unik

Arkeolog Menemukan Bocah “Vampir” yang Dikubur 1.500 Tahun Lalu

Biar tak berubah jadi mayat hidup, mulut jasad anak lelaki berusia 10 tahun yang meninggal pada abad kelima ini diganjal dengan batu.
18 Oktober 2018, 12:08pm
ada bata di dalam mulutnya
Foto: David Pickel/Stanford University

Wajar kalau sebuah kawasan yang dinamakan Pemakaman Bayi pasti penuh dengan hal-hal yang bikin bulu kuduk berdiri. Kesan seram kawasan ini makin menjadi-jadi saat sejumlah peneliti menemukan bahwa di dalam kompleks pemakaman berumur 1.500 tahun di desa Lugnano, Italia itu terdapat tempat penguburan vampir. Kesimpulan ini diambil lantaran salah satu sisa-sisa tengkorak yang dikubur di sana ditemukan dengan posisi mulut menganga. Diduga anak yang meninggal pada abad ke-5 ini dikubur dengan batu di rongga mulutnya—temuan yang bahkan bikin para ilmuwan merinding ketakutan.

"Saya tak pernah menyaksikan cara pemakaman seperti ini. Ini benar-benar menyeramkan dan ganjil,” kata anggota tim ekskavasi David Soren, yang juga seorang arkeolog dari University of Arizona, dalam sebuah pernyataan resmi minggu lalu. "Masyarakat sekitar pemakaman menyebut sisa kerangka bocah ini sebagai “Vampir dari Lugnano.”

Jenazah vampir ini dipercaya milik seorang bocah berumur sepuluh tahun (dengan jenis kelamin yang belum diketahui) diperkirakan meninggal karena wabah malaria yang menimpa wilayah Umbria, Italia pada abad 5, terang direktur ekskavasi David Pickel. Hasil analisa terhadap sisa tulang dan DNA dari bayi-bayi yang dikebumikan di reruntuhan kawasan pemakaman ini—terletak di dalam Villa bergaya Roma dari abad pertama yang sudah ditinggalkan—mendukung hipotesa di atas. Kepala tengkorak anak 10 tahun tersebut memiliki sebuah gigi yang rusak, yang mungkin diakibatkan oleh malaria.

1539710585720-183020_web

Image: David Pickel/Stanford University

Proses pemakaman jenazah memiliki nilai penting dalam kajian arkeologi lantaran menyediakan “jendela mengintip cara manusia berpikir di masa lalu,” kata Jordan Wilsom, seorang bioarkeolog dari University of Arizona yang dipercaya menganalisis sisa-sisa tulang Vampir Lugnano, dalam sebuah pernyataan resmi.

“Dalam bioarkeologi, kami mengenal satu prinsip “mayat tak bisa mengubur dirinya sendiri.” kami bisa memelajari kepercayaan dan harapan orang pada satu masa dari cara mereka memperlakukan jenazah,” imbuh Wilson.

Keputusan untuk memasukkan batu ke rongga mulut anak yang sudah meninggal mungkin disebabkan kepanikan dan takhayul yang berkembang 1.500 tahun lalu. Menurut tim yang dipimpin Pickel, jenis pemakaman yang ditemukan Lugnano dirancang guna mengatasi ketakutan akan mayat yang kembali hidup dan menyebarkan penyakit pada yang masih hidup.

Cara pemakaman yang nyaris serupa juga dilakukan pada “Vampir dari Venesia,” seorang perempuan dari abad 16 yang dimakamkan dengan batu bata di antara rongga mulutnya dan jasad lelaki berusia 1.700 tahun yang lidahnya diganti dengan sebuah batu.

Penemuan jasad vampir anak-anak ini juga memiliki nilai tersendiri sebab sejak pertama kali penggalian dilakukan di Pemakaman Bayi, jasad-jasad yang ditemukan kebanyakan milik anak di bawah 3 tahun. Akibatnya, para pakar berasumsi bahwa pemakaman ini dikhususkan untuk bayi dan balita. Penemuan jasad bocah sepuluh tahun ini mempertanyakan keabsahan asumsi tersebut.

Jenazah anak-anak lain yang dimakamkan di kawasan ini ditemukan bersama cakar gagak, tulang katak dan kepala anjing yang mengindikasikan masyarakat Lugnano pada abad kelima mempraktekan ritual kurban dan takut kepada manusia yang sudah meninggal, menurut Soren. Buktinya, jenazah seorang anak perempuan berusia tiga tahun ditemukan dengan batu di tangan dan kakinya, mungkin untuk mencegah agar dia tak jadi mayat hidup.

“Adalah sesuatu yang sangat manusiawi sekali jika kita punya perasaan yang campur aduk tentang orang sudah meninggal dan bertanya-tanya apakah kematian akhir segalanya,” tukas Wilson.