Perubahan Iklim

Para Ilmuwan Ingin Selidiki Dampak Letusan Gunung Agung Pada Iklim Global

Sekelompok ilmuwan berharap letusan gunung di Bali ini bisa menyelamatkan umat manusia dari pemanasan global yang tak kunjung berhenti

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Bumi makin panas dari hari ke hari. Keadaan ini memaksa para ilmuwan menggelontorkan ide-ide gila untuk menjaga Bumi tetap dingin supaya kita terhindar dari kiamat yang datang lebih awal.

Salah satu usulan radikal diajukan para ilmuwan dikenal dengan nama solar radiation management, yang mencakup penyemprotan partikel aerosol ke stratosfer agar cahaya menimpa Bumi bisa dipantulkan. Ternyata, proses ini berlangsung secara alami ketika terjadi letusan gunung berapa. Dan jika terjadi letusan gunung dalam waktu dekat, NASA berencana mengirimkan beberapa ilmuwannya ke lokasi letusan serta menerbangkan balon guna mengukur efek ledakan gunung berapi pada atmosfer, seperti yang dilansir New York Times.

Iklan

Para peneliti NASA menegaskan pada surat kabar tersebut bahwa eksperimen itu lebih dirancang untuk melakukan penelitian efek ledakan vulkanik dibandingkan upaya geoengineering, sebuah istilah yang memayungi beragam upaya mencegah perubahan iklim yang meliputi upaya mengubah atmosfir. Geoengineering dianggap oleh para ilmuwan sebagai usaha yang justru menggeser fokus utama kita dalam menghadapi perubahan iklim, yakni mengurangi produksi gas karbon buatan manusia.

Perserikatan Bangsa-Bangsa sudah melarang negara anggotanya melakukan perbaikan lingkungannya dengan teknologi skala besar, namun para pakar di Konferensi Perubahan Iklim di Bonn, Jerman tahun lalu menyerukan agar komunitas ilmiah harus mengeksplor solusi-solusi lainnya untuk mengerem perubahan iklim yang terjadi.

Beberapa peneliti menilai penelitian terhadap gunung berapi sebagai kesempatan untuk memahami apakah geoengineering benar-benar ampun. “Penelitan ini sangat penting bila kita memang harus melakukan geoengineering,” ujar Alan Robock, seorang pakar iklim di Rutger University. Robock mendalami erupsi gunung berapi dan terlinat dalam diskusi tentang proyek respon cepat, seperti yang dilansir oleh New York Times. “Jika geoengineering benar-benar berfungsi, kita tetap butuh memahami bagaimana ledakan gunung berapi mempengaruhi iklim.

Ledakan gunung berapi melontarkan sulfur dioksida ke atmosfer bumi. Bila bertemu uap air, Sulfur Dioksida akan membentuk aerosol yang bisa memantulkan cahaya keluar bumi. Ledakan gunung berapi sangat dahsyat malah bisa mengakibatkan “musim semi vulkanik.” Ledakan gunung berapi yang pernah terekam dalam sejarah—letusan gunung Tambora di Sumatra Utara pada 1815—menyebabkan “Tahun Tanpa Musim Panas”. Setahun setelah Gunung Tambora meletus, salju turun di Albany, New York pada bulan Juni. Gagal panen terjadi di mana-mana dan wabah kelaparan merajalela. Kondisi cuaca yang buruk ini konon menginspirasi Mary Shelley untuk menulis karya legendarisnya, Frankenstein.

Iklan

Letusan yang lebih kecil, seperti yang terjadi di Kepulauan Filipina pada 1991, punya efek serupa. Temperatur global turun beberapa Fahrenheit selama beberapa tahun setelah, seperti yang dilaporkan New York Times.

Syahdan, jika dalam waktu dekat terjadi letusan gunung berapi, para ilmuwan bakal bergegas menyelidiki dampaknya. Dan seperti mereka baru saja dapat kesempatan itu: Gunung Agung mulai erupsi pada November lalu dan sepertinya bakal memancing penurunan suhu global jika benar-benar meletus.

Erupsi yang terjadi di Bali bisa jadi kesempatan yang ditunggu-tunggu para ilmuwan ini. Penelitian mereka akan meliputi penerbangan balon yang dilengkap berbagai macam instrumen pengukuran ke atmoster bagian atas segera setelah gunung agung meletus dan terus mengukur efek letusan gunung selama beberapa tahun.

Namun, jika pun Gunung Agung benar-benar meletus, tak ada jaminan bila letusannya bakal cukup besar hingga cukup mempengaruhi perubahan iklim global.

Lalu berkaca dari letusan gunung berapi yang sudah-sudah, memanfaatkan pengetahuan baru dari penyelidikan untuk mempersiapkan usaha geoengineering juga masih berisiko. Sebuah penelitian, yang dipublikasikan di jurnal Nature, Ecology & Evolution, memperkirakan bila kita memutuskan untuk memompa aerosol ke atmosfer, kita bakal terus melakukannya dalam waktu yang lama. Masalahnya adalah jika usaha ini dihentikan barang sesaat saja, kita akan menghadapi kepunahan besar-besar, jauh lebih mengerikan dari pemanasan global yang kini sedang terjadi.

“Jika solar radiation management dihentikan atas alasan apapun, bakal terjadi pemanasan suhu global dalam waktu singkat dan mengakibatkan bencana besar,” jelas Dennis Hartmann, seorang profesor studi atmoster di University of Washington pada website yang membahas teknologi dan ilmu pengetahuan Futurism.