Nostalgia

Alasan Lagu 'Africa' dari Toto Bisa Jadi Lagu Favorit Warganet

Entah bagaimana lagu berumur 35 tahun yang culun dan emosional ini menuai kekaguman lintas bangsa dan generasi di internet.
22 November 2017, 10:27am
cuplikan dari youtube

Saya enggak pernah benar-benar mikirin atau dengarin lagu Toto yang judulnya “Afrika.” Suatu hari, entah mengapa, lagu itu nyangkut aja di kepala saya. Kejadiannya di jok belakang sebuah taksi, pada tengah malam di jalanan kota Amsterdam. Saya lagi mabuk, saat itu musim panas, dan saya ditemani seseorang yang menarik. Dengan kata lain, suasana hati sedang pas-pasnya buat kepincut lagu 80-an ini. Melankolia yang tulus ini cocok menjadi lagu latar hidupmu.

Saat saya sudah kepincut lagu “Africa,” saya langsung menyadari bahwa banyak orang lain yang juga kepincut. “Africa” populer banget di internet, sampai-sampai jadi meme. Lagu berdurasi 4 menit 55 detik ini adalah semacam atraksi internet, dan alasan pertama mengapa lagu ini hebat bukan main, ada dalam lagu ini sendiri. “Africa” rasanya lebih tepat disebut perasaan ketimbang musik. Lagu ini dimulai perlahan, jadi butuh beberapa saat sampai saya akhirnya nyadar lagu itu sedang diputar di radio taksi.

“I hear the drums echoing tonight,” bunyi lagunya. David Paich merintih pada keyboard, mengisi telinga saya dengan kejernihan suaranya. “Hurry boy, it’s waiting there for you!” Sekejap saya mengurungkan niat bercakap-cakap, dan pada saat chorusnya masuk sudah diduga saya menyanyi sekuat tenaga: “It’s gonna take a lot to drag me away from you!”

“Africa” berusia 35 tahun, dan lagu culun dan emosional ini menginspirasi banyak orang di internet. Ada bot “Africa” yang ngetwit lirik-lirik lagunya. Ada pula www.ibless.therains.downin.africa, di mana video resmi “Africa” diputar berulang-ulang. (Sampai saat ini, video tersebut telah mencetak 250 juta views di YouTube.) Lagu ini telah digunakan pada sejumlah iklan dan serial televisi, baru-baru ini dalam serial sci-fi nostalgia 80an Stranger Things. Sementara South Park, Community (featuring Betty White), dan The Tonight Show with Jimmy Fallon (featuring Justin Timberlake) telah memparodikan lagu tersebut.

Inilah apresiasi “Africa” yang (secara tidak ironis) menginspirasi banyak orang. Coba cari di Twitter “Africa + Toto” dan kamu akan menemukan deklarasi kebahagiaan dan cinta: “Saya enggak tahu ya persisnya apa, tapi lagu Toto “Afrika” membuat saya merasa saya bisa melakukan apapun,” bunyi salah satu twit. “Enggak usah ngajak ngobrol gue kalau gue belom sempet dengerin Toto ‘Africa’ di pagi hari,” bunyi twit lainnya. “Kalau kamu stres,” bunyi twit lainnya lagi, “ingat saja lagu Toto ‘Africa’ ada.”
Begitu terus.

Nick Desideri, penggemar musik pop berbasis Chicago, mengonfirmasi bahwa “Africa” memiliki tempat spesial di hati orang-orang internet. “Selamat pagi, tab mention saya dipenuhi lebih dari 50 orang teriak-teriak soal Toto ‘Africa’,” bunyi twit Desideri sehari setelah skema jams versus bangers buatannya viral awal bulan ini.

“Di samping lagu Toto ‘Africa’, lagu Beyonce yang ‘Love On Top’ juga digemari internet,” kata Desideri lewat surel. Dia bilang mayoritas komentator sangat mendukung, namun ada juga fans “Africa” yang frustrasi. Sebagian besarnya mengklaim skema tersebut tidak valid karena lagu tersebut ditempatkan amat rendah. “Karena lagu Toto ‘Africa’ telah menjadi meme, saya enggak kaget banyak orang yang kecewa. Tapi saya kaget dengan kedalamannya,” ujar Desideri.

Kasih sayang ini mungkin menjelaskan mengapa lagu-lagu baru sering dibandingkan dengan lagu klasik Toto. Ketika Taylor Swift merilis single pertama dari album terbarunya pada Agustus, Mollie Goodfellow, jurnalis asal London, mendapatkan 60,000 likes saat dia ngetwit: “Ngapain gue dengerin lagu Taylor yang baru enam baru bisa nyangkut, kalau gue bisa dengerin lagu Toto ‘Africa’ sekali aja dan langsung hacep?”

Ya, setuju sih.

Namun gimana sebenarnya lagu “Africa” bisa menjadi lagu favorit internet? Gimana dengan lagu-lagu lain yang menduduki peringkat atas US Billboard Hot 100 tahun 1983, seperti Michael Jackson Billie Jean, David Bowie Let’s Dance, dan Prince 1999? Meski setiap album ini terkenal dan mendapat pujian kritikus, “Africa” boleh jadi yang paling menonjol. Lagu ini cukup dorky untuk komunitas senang-senang, wholesome, dan meme di internet.

“‘Africa’ adalah lagu 80-an paling mantep,” ujar Ben Lunt, Direktur Eksekutif Digital di BMB, agensi periklanan di London. Lunt berusia cukup tua untuk mengingat “Africa” sebagai “lagu norak” saat dia masih kecil di era 80an, namun kini dia melihatnya sebagai guilty pleasure. “‘Africa’ melampaui generansi-generasi. Ada nostalgia sungguhan atas orang-orang umur saya, dan semacam nostalgia pinjaman bagi generasi lebih muda,” ujar Lunt. Dia bilang anak-anak muda mungkin menyukai lagu ini karena terdengar seperti musik yang diputar orangtua mereka saat mereka masih kecil. “Ada semacam ikatan pada masa kanak-kanak yang membuatmu merasa aman.”

Popularitas lagu ini didongkrak fakta bahwa musiknya dibuat dengan sangat baik, dengan loops drum, harmoni berlapis, dan chorus yang antemik. Lirik ini bisa jadi sulit dibuat, yang seringkali menjadi kasus lagu 80-an, dan liriknya seringkali tidak masuk akal. Hal ini mungkin membantu lagu tersebut terkenal di internet, ujar Lunt, karena meme perlu menjadi cukup saru supaya orang-orang bisa menambahkan interpretasi mereka sendiri. “Namun biasanya saat sesuatu menjadi meme, ada hal lain yang disubversi,” ujar Lunt. “Ada banyak subversi pada meme ‘Africa’. Orang-orang biasanya menggunakannya sebagai ekspresi cinta dan sukacita.”

Pada saat pemain keyboard Toto, David Paich, dan drummer Jeff Porcaro menulis lagu tersebut, mereka enggak pernah ke Afrika. Porcaro, yang meninggal dunia pada 1992, mendeskripsikan lirik lagunya: “Seorang bocah laki-laki kulit putih mencoba menulis lagu soal Afrika, tapi karena dia enggak pernah ke sana, dia cuma bisa nyeritain yang dia lihat di TV atau ingat-ingat di masa lalu.” Ini seharusnya bukan menjadi lagu tentang benua Afrika; ini soal ide, atau nostalgia pinjaman atas tempat yang belum pernah kita kunjungi.

“‘Africa’ adalah sebuah produk dari momen kultural tertentu,” ujar Kate Miltner, peneliti internet di University of Southern California. Lirik “ I bless the rains down in Africa” masuk akal dalam konteks paceklik Ethiopia pada awalan 80-an, yang memicu reaksi global dengan lagu-lagu amal seperti “We Are The World” dan “Do They Know It’s Christmas?”, imbuh Miltner. Single Toto mirip dari sisi betapa dibutuhkan sudut pandang kulit putih Barat terhadap benua tersebut, dan video musik tersebut juga memiliki tamsil generik Afrika yang mungkin bakal sulit diterima orang jika dibuatnya zaman sekarang. (Inget kan reaksi orang atas video Taylor Swift “Wildest Dreams” yang dibuat di Afrika?)

Internet tidak dikenal mudah memaafkan permasalahan kultural seperti apropriasi atau whitewashing, jadi sedikit mengejutkan bahwa tidak banyak orang yang mengkritik lagu “Afrika,” mengingat yang menuliskannya adalah enam laki-laki kulit putih. Miltner bilang kerancuan lagu tersebut mungkin menjadikannya tidak terlalu eksplisit. Di permukaan, “lagu ini tampak seperti seorang laki-laki yang naksir seorang perempuan. Dan ada pula semacam referensi mitologis,” ujar Miltner, menyirit garis geografis: “ As sure as Kilimanjaro rises like Olympus above the Serengeti.” Hal ini lebih soal memicu emosi ketimbang membangun narasi yang kohesif,” imbuhnya.

Jadi, “Africa” mungkin terdengar norak pada 2017. Tapi, pada 1982, lagu ini terdengar amat tulis: “Akhir-akhir ini ada semacam fetishisasi akan hal-hal murni dan tulus dalam budaya internet. Kamu mungkin pernah ngelihat foto seekor anjing dan rusa ndusel bareng, dengan kapsi ‘Too pure for this world,’” ujar Miltner, yang berpikir alasan internet menerima lagu itu, di antaranya, adalah karena ketulusan sudah sangat diterima secara sosial saat ini.

Era 80-an memiliki masalah sosial dan politik tersendiri, tentu saja. Miltner berpikir penerimaan internet atas lagu “Africa” dipengaruhi iklim politik saat ini. Lagu ultra-tulus ini mungkin enggak keren, tapi itulah poinnya: Kita bisa nyanyiin lirik lagu ini, yang konyol bukan main, dan menggandrunginya tanpa syarat. Seperti yang saya alami malam itu di dalam taksi di jalanan Amsterdam.

“Lagu ini adalah izin atas katarsis,” ujar Miltner. “Kita hidup di zaman yang sangat aneh.”