media sosial

Belajar dari Para Pejabat Agar Kita Berani Konyol di Medsos

Yang namanya kepala daerah, pasti mereka termasuk sebagai golongan orang yang paling potensial dibully di media sosial. Tapi mereka cuek-cuek aja tuh. Saking santainya, malah mereka merintis satu gaya khas di dunia maya, yakni gaya #beranikonyol.
kolase foto: Dini Lestari. Sumber: instagram

Ada-ada saja kerjaannya warganet. Mereka enggak bisa kalau sehari saja mereka enggak sibuk mengomentari unggahan kontroversial orang terkenal! Belum lama ini, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno mengunggah twit soal pengalamannya nonton premier film Ayat-Ayat Cinta 2 yang berujung kritikan.

“Terima kasih buat MD Pictures yang sudah mengundang kami ke premier film Ayat-Ayat Cinta 2. Cocok banget ditonton sama istri. Buat yang single mending kalian banyak-banyakin baca ayat-ayat kursi.”

Iklan

Twit tersebut kini sudah dihapus oleh Sandiaga. Namun yang pasti, banyak warganet yang menganggap bahwa Sandiaga telah menjadikan Ayat Kursi, yang dalam Al Quran dianggap sebagai “ayat singgasana” atau ayat paling agung, sebagai bahan bercandaan. Saat dikonfirmasi oleh media lokal, Sandiaga mengatakan bahwa twit tersebut adalah bentuk promosi nikah masal yang akan diadakan oleh Pemprov DKI Jakarta akhir tahun ini.

Sepertinya persoalan gaya media sosial santai/candaan para kepala daerah di Indonesia jadi diskusi tiada akhir. Sebelumnya, Walikota Bandung yang terkenal punya fans garis keras ini pernah kena serangan terkait dengan gaya bercandanya yang dinilai seksis. Joko Widodo misalnya, memang Instagram dan Twitternya masih terkesan serius, tetapi ia santai dan kasual di vlog.

“Mungkin dia [Sandiaga] ingin mengubah gaya berkomunikasinya yang tadinya terlalu kaku, terlalu santun, ingin menjadi lebih komunikatif,” kata pengamat sosial media Nukman Luthfie kepada VICE Indonesia. “Kan sekarang memimpin orang, jadi dia ingin terkesan lebih santai,”

Ridwan Kamil, Bima Arya (Walikota Bogor), Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), dan Sandiaga Uno bisa jadi satu skena candaan sosmed nih. Memang, di satu sisi ada saja beberapa candaan yang kontroversial atau enggak lucu. Di sisi lain candaan mereka dinilai “berjiwa muda” dan potensial menarik perhatian segmen tertentu seperti ehm generasi milennial yang diprediksi jadi segmen pemilih yang mendominasi Pemilu dan Pilkada.

Iklan

Terlepas apakah komunikasi santai tersebut merupakan bagian dari strategi politik atau bukan. Nukman sepakat bahwa cara berkomunikasi para kepala daerah yang lebih santai tentu bisa memberi daya tarik lebih dari masyarakat, terutama calon pemilih mereka.

“Cara bersosialisasi media yang lebih santai jelas berpengaruh lah,” kata Nukman. “Kalau generasi zaman now kan berkomunikasi sama orang-orang zaman old kan males,”

VICE mencoba mengamati tipe candaan para kepala daerah yang makin ke sini makin mirip-mirip gayanya. Ini saling menularkan atau bagaimana sih?

KETAMVANAN YANG MEMBUMI

Banyak betul warganet yang bilang Walikota Bandung, Ridwan Kamil itu “tampan”. Tentu bukan hanya warga Kota Bandung saja, warga Cimahi, Ciwidey, Padalarang, Baleendah banyak yang sepakat menyebut Ridwan Kamil sebagai “Pak Wali nu kasep” (Bapak Walikota yang tampan).

Soal prestasi dan kemampuan kepala daerah harusnya jadi faktor yang utama. Namun tidak bisa disanggah bahwa di Indonesia, faktor “ganteng” masih punya kontribusi tinggi terhadap tingkat elektabilitas seorang politisi atau calon kepala daerah.

Melihat adanya kecenderungan ini, bolehlah unggahan soal “tampan-tampanan” dimainkan. Pola ini lumrah digunakan oleh Ridwan Kamil yang sering mengunggah konten yang saya sebut: “tampan yang membumi”. Contohnya bisa dilihat dalam unggahan foto Ridwan Kamil bersama Keenan Pearce ini.

Kemarin pas bercermin,.. eh kunafe saya jadi mancung dan ganteng gini. Ternyata cerminnya belum disusut kanebo. Bak pinang gak jadi dibelah dua. *Terima kasih kang @keenanpearce untuk semangat2nya. God bless u.”

Iklan

Ternyata Sandiaga Uno yang banyak disebut orang memenuhi kriteria “tampan”, juga sudah ikutan bikin gaya candaan semacam ini nih. Unggahannya ketika bersalaman dengan aktor Vino G. Bastian pun punya tone candaan serupa.

“Setelah berpuluh-puluh tahun berpisah, sang kakak bertemu dengan adiknya lagi.
@vinogbastian__ keren banget acting menjadi Almarhum Chrisye. Netijen kudu nonton film ‘Chrisye’. Belajarlah dari kisah perjalanan Chrisye yang selalu totalitas dalam meraih cita-cita dan mimpinya.”

Unggahan seperti ini, biasanya minim kontroversi. Komentar dari warganet pun bisa diprediksi: 1) Warganet yang iri karena bisa berfoto bersama selebriti 2) Warganet yang malah memuji balik bahwa sebetulnya sang kepala daerah tak kalah ganteng dari selebriti 3) Komentar lain yang tidak ada hubungannya dengan unggahan sama sekali. Intinya, minim kontroversi. Metode candaan ini sudah teruji ampuh.

KEMESRAAN INI… JANGANLAH CEPAT BERLALU

Pasangan dalam panggung politik dinilai penting. Ingat betapa marak perundungan masyarakat yang dilayangkan pada Prabowo Subianto yang seorang duda saat dirinya mencalonkan diri menjadi presiden?

Hal ini bukan tanpa penyebab. Dari zaman Orde Baru, organisasi perempuan seperti PKK dan Dharma Wanita menetapkan perempuan sebagai: pendamping setia suami, pencetak generasi penerus, pendidik, dan pembimbing anak, pengatur rumah tangga, dan anggota masyarakat yang berguna. Maka bagi seorang kepala pemerintahan (terutama yang laki-laki), faktor pendamping sangatlah esensial, meskipun perannya terkesan problematik.

Iklan

Meskipun hal tersebut ditetapkan pada zaman Orde Baru, tapi sepertinya tidak jauh beda sampai sekarang. Contohnya candaan di sosial media tentang pasangan-pasangan mereka. Ridwan Kamil jadi salah satu yang paling sering mengunggah candaan soal istrinya, Atalia yang Ia sebut “Si Cinta”. Bahkan salah satu unggahan Ridwan Kamil soal istri-istri kepala daerah jadi kontroversi karena dinilai punya bias seksisme, menerapkan stereotip gender role yang konservatif.[ ](https://www.instagram.com/p/BbgkSxyjhZq/?taken-by=ridwankamil)
Jangan sedih! Toh Ridwan Kamil tidak kehilangan penggemarnya. Lebih banyak pihak yang ternyata merasa candaan Ridwan Kamil “baik-baik” saja. Iya, yang sensi dan menganggap candaan Ridwan Kamil tidak lucu kan antek pemikiran barat aja, berbahaya. -termasuk saya sih wkwkwk-

Jadi, langkah pamer kemesraan ini mungkin bisa juga dilakukan juga oleh pemimpin daerah lainnya, terutama yang baru. Namun tolong plis, boleh bercanda sama pasangan, tapi tolong… yang lucu! Soalnya candaan seksis mah enggak lucu sebenernya.

Dalam hal ini saya terkadang lebih suka Sandiaga Uno, meskipun tidak sambil bercanda, dan sebenernya kurang sweet. Setidaknya cukup santai… dan tidak problematis lah.

SINGLE SHAMING

Hidup dalam masyarakat yang menganggap bahwa menjadi lajang adalah hal yang memalukan dan patut ditertawakan, membuat candaan single shaming menjadi sangat ampuh untuk menarik simpati publik. Metode ini umum dilakukan oleh Ridwan Kamil dan yang terbaru Sandiaga Uno. Cara membedakan unggahan yang single shaming sih gampang. Cukup tersirat makna seakan-akan jadi lajang itu ngenes, dan hidup yang punya pasangan lebih baik dan #relationshipgoals banget, ya itu single shaming.

Ini jenis unggahan paling gampang dapat reaksi dari orang. Sekaligus jadi jenis unggahan yang menyebalkan. Karena seakan-akan tidak sensitif atas pilihan hidup atau situasi dan kondisi orang lain yang memilih menjadi lajang. Namun jenis-jenis unggahan macam ini memang menjebak cuy, bagi yang belum waspada, memang terkesan lucu di awal. Kayak begini nih. Sementara itu, usaha Sandiaga Uno untuk menerapkan candaan ala Ridwan Kamil. Sepertinya Sandi sudah mencoba jalur candaan yang kemungkinan besar disukai orang, seperti ‘single shaming’. Cuma, sayangnya, Sandi malah kena blundernya di kalimat berbau reliji.

Iklan

CANDID ANTI JAIM

Nah sepertinya kalau soal candaan ala foto candid, para calon kepala daerah mesti belajar pada Bima Arya. Ia tidak segan-segan memberikan caption candaan dengan foto candid yang bikin dirinya terlihat lucu dan santai.

Tidak cuma Bima Arya yang menerapkan strategi candid. Hampir semua kepala daerah menerapkan ini. Terlebih jika konten yang ditampilkan disertai caption yang juga santai. Nah ini Abdullah Azwar Anas sedang senam.

Bagi para kepala daerah yang ingin mulai lebih rileks bersosial media, tidak jaim kalau terlihat tidak elok dipandang adalah kunci dasar menarik perhatian.

TETAP RELIJIUS

Bukan rahasia lagi jika salah satu kunci menjadi kepala daerah adalah menjadi sosok yang… relijius. Sehingga, bukan rahasia jika persoalan agama bisa menjatuhkan seorang kepala negara sekalipun dari singgasana kepemimpinannya seperti yang terjadi pada kasus Gubernur DKI Jakarta.

Ini berarti candaan-candaan relijius bisa jadi strategi bersosial media santai! Misalnya, candaan Abdullah Azwar Anas yang minta salat jumat cukup sekali saja seminggu (lah emang iya Pak). Candaan ini buat saya sih biasa saja dan kurang lucu, tapi aman! Setidaknya percik-percik kebencian bisa terjaga.

Sebaliknya, kasus candaan berbau istilah agama yang dilontarkan Sandiaga malah mendapat respon negatif. Duh, sepertinya kalau mau rileks Sandiaga harus belajar audiensnya. Kalau supporter dan penggemar banyak dari kalangan relijius konservatif, ya perlu siap lahir batin sebelum nge-twit ehm… “ayat-ayat kursi”.