Merayakan Natal di Jakarta ditemani salju
Aku akhirnya menemukan salju di Jakarta. Semua foto oleh M. Ishommudin.
Merayakan Natal

Aku Berusaha Merayakan Natal Kayak Film-Film Barat, Sampai Cari Salju Segala di Jakarta

Bagiku, dedikasi merayakan Natal tak boleh setengah-setengah. Sebisa mungkin mirip bule di lagu 'The 12 Days of Christmas'. Lho kan, Indonesia negara tropis? Ga masalah. Pasti ada jalan...
24.12.18

Pernah dengar lirik lagu ini?

On the first day of Christmas my true love gave to me,
A partridge in a pear tree.
On the second day of Christmas my true love gave to me,
Two turtle doves and a partridge in a pear tree.
On the fourth day of Christ
On the third day of Christmas my true love gave to me, five golden rings
Four calling birds, three french hens,
Two turtle doves and a partridge in a pear tree

Kidung natal ini nadanya cukup “ngeselin” buat dinyanyikan di dalam mobil keluarga di tengah-tengah kemacetan. Sekalipun agak gengges, kita harus mengakui si penyanyi bahagia banget kedengarannya, serasa dapat hadiah terus menerus selama 12 hari berturut-turut dari cinta sejatinya. Duh… jadi baper.

Sesuai tradisi eklestikal mayoritas penganut Kristen di negara Barat—termasuk gereja anglikan atau lutheran— Natal tidak sekadar dirayakan pada 25 Desember saja. Tanggal 25 Desember, atau peringatan momen kelahiran Yesus Kristen di Bethlehem, baru hari pertama. Perayaan umat Kristiani akan berlanjut sampai 6 Januari. Tradisi ini tentu saja ditafsirkan beda-beda. Tapi intinya, di momen 12 hari merayakan Natal, semua yang serba menyangkan terjadi. Pesta, makan bersama keluarga atau yang terkasih, tukar kado, dan lain sebagainya.

Aku tentu ingin merasakan atmosfer yang sama kayak bule di Eropa atau Amerika itu. Masalahnya cuma satu: perayaan 12 hari macam ini seru asalkan suasananya persis negara-negara subtropis sana. Ada cemara, salju, sampai cerobong asap sinterklas.

1545650225906-DSC04235-copy

Aku tidak boleh cuma meratapi nasib.

Selama ini kultur natal macam itu cuma bisa dinikmati lewat seri Home Alone yang diputar TV swasta kita tiap tahun. Sebagai orang Indonesia yang tidak terbiasa melihat salju, aku pun mulai berkhayal… andai saja Indonesia punya salju dan kultur natal yang terlihat menyenangkan seperti di film-film. Karena aku enggak punya cinta sejati, plus harus menerima nasib tinggal di negara tropis, aku tidak mau bersedih saat Natal tahun ini. Aku memutuskan bikin rangkaian natalku sendiri yang tak kalah serusnya seperti di negara-negara Barat sana.

Baru-baru ini aku bertanya pada kawanku, Annika Lehmus-Sun yang tumbuh besar di Lapland, Finlandia. Konon, dari kampung Annika itulah muncul kisah Sinterklas yang hidup di Kutub Utara sana. Ia mengirim foto-foto liburan natal yang seru dengan salju tebal, Sosok Sinterklas berkeliaran di sekitar rumah, rusa kutub dan anjing jenis huski berkeliaran di mana saja dan sering dipakai berseluncur. Wah, ini semua harus kutemukan padanannya di Indonesia.

"Tiap 12 hari menjelang 25 Desember, di negaraku pasti sudah penuh salju. Ke manapun mata memandang, semua serba putih. Jadi suasana muram salju justru Natal banget," tulis Annika dalam surelnya padaku. "Biasanya aku bersama keluarga akan ke hutan pakai kereta luncur yang ditarik anjing. Kami bikin api unggun, menikmati secangkir coklat panas, lalu menikmati sesloki anggur lokal (kami menyebutnya "glögi"), atau bisa juga kopi ditemani kue jahe."

Oke deh. Unsur-unsur pentingnya sudah terkumpul. Salju, aktivitas olahraga musim dingin, dan sajian khas natal dan musim dingin. Semua mesti aku coba cari sampai dapat. Belum lagi Sinterklas dan rusanya. Walau berat, aku yakin tradisi merayakan Natal 12 hari penuh bisa kureplikasi di Jakarta—walau urutannya dibalik, semua perayaan pribadiku ini berakhir tepat sebelum 25 Desember.

Iklan

Baiklah kita lihat apa yang 12 hari ini bisa kulakukan. Berikut catatannya:

HARI KE-1:
MENJIWAI SEMANGAT NATAL

Natal tak pernah terasa biasa buatku lantaran, 1) aku tinggal di negara yang nyaris 90 persen penduduknya enggak merayakan natal; 2) Indonesia itu ada di garis khatulistiwa. Gagasan yang ingin kureplikasi sering disebut white Christmas. Alias tradisi Natalnya bule. Semua itu, kalau cuma diidamkan bisa terjadi di sini sama saja mimpi pas siang bolong. Tapi sebelum sampai ke meniru suasana, aku harus memperdalam lagi pengetahuanku soal atmosfer Natal di negara Barat. Film-film natal Hollywood rasanya gambaran paling ideal soal bagaimana natal semestinya dirayakan.

Makanya, di hari pertama ini kerjaanku nonton film dan nyusun daftar film wajib doang. Jangan keburu protes, nonton film gini bisa membuatku menjiwai peran agar semangat hingga 12 hari lho.

Ada beberapa film yang aku pilih untuk menemaniku selama 12 hari ke depan. Home Alone 1 dan 2, drama serta komedi romantis yang ngegemesin macam Love Actually dan Serendipity pun sudah masuk di daftar. Ok, jadi film mana yang paling sempurna? Home Alone tentu saja. Film ini selalu diputar tiap Natal tiba. Walau demikian, favoritku tetap Home Alone 2! Kenapa? Kapan lagi seorang anak bebas ngeluyur di kota lain sendirian dan bisa ngerjain penjahat?

1545632619760-dkny

Lumayan lucu nih sweater. Kayaknya sih palsu, tapi bodo amat. Yang penting suasananya. Foto oleh Muhammad Ishomuddin

Ada banyak film yang udah masuk daftarku, cuma sayangnya enggak berhasil aku tonton semua. Kebanyakan karena emang nggak sempat, atau ketiduran di tengah-tengah film dan lupa udah nonton bagian mana. Ok, ini daftar film yang sempat aku bikin untuk ditonton tahun ini: Bad Santa; Christmas Carol; Grinch-nya Jim Carey; Nightmare before Christmas; Home alone 1, 2, 3; Die Hard 2; Love Actually; Are we there yet?; Elf; Polar Express; Cool Runnings; serta Frozen Christmas.

Di hari pertama ini pula, agak sorean gitu, aku mulai cari Christmas Sweater yang pola desainnya rame. Di Jakarta lumayan susah nyari sweater gini, soalnya natal di Jakarta panas enggak ada salju. Kalau enggak hujan, Desember bisa jadi panas dan gerah banget. Kebanyakan yang jual kayak gitu adalah Factory Outlet yang isinya barang-barang impor reject. Aku nemu satu jaket berbulu dengan merk DKNY. Yang jelas itu jaket cuma aku beli dengan harga Rp200 ribu. Jadi DKNY asli apa palsu nih? Bodo amat! Hal yang jelas, akan ada sweater, atasan, dan pakaian bernuansa merah hijau yang akan aku pakai berulang kali nih selama 12 hari ke depan.

1545633611567-DSC04083-copy

Aku sudah siap beraksi dengan sweater merayakan Natal 12 hari berturut-turut

HARI KE-2:
LAGUNYA BAND ROHANI RELIENT K TERNYATA ASIK JUGA

Pas pertama kali nonton Love Actually beberapa tahun lalu, aku suka banget lagu "All I Want for Christmas" yang dinyanyiin Olivia Olson versi soundtrack-nya. Lagu ini jadi lagu wajib harian yang aku dengerin via Youtube .

Eits, tapi setelah coba mulai bikin playlist sendiri yang sebenernya biasa aja sih, lagu natal yang tiap tahun diputar di mall-mall yang rutin bikin diskonan. Sebelum akhirnya aku nemuin band punk rock yang nyanyiin lagu-lagu rohani Kristiani dari band Relient K. Lumayan enak sih ngingetin aku sama era American Idiot-nya Green Day. Jangan lupa follow Arzia’s Christmas Songs playlist di Spotify ya.

Di hari kedua, aku sekalian pergi ke mal lagi buat beli seperangkat outfit natal. Mulai dari beannie, dan kaos kaki. aku dapat di outlet Forever 21 di sebuah mall di Jakarta Barat. Dapat beannie rajutan bergambar Sinterklas dan kaos kaki Rusa yang sebenernya Enggak bakal aku pakai sehari-hari, tapi mau gimana lagi, natal tahun ini rasanya jauh lebih semarak dibanding biasanya karena eksperimen 12 hari yang kulakukan.

1545633719556-DSC04109-copy

Hmm, aku nyaris setengah hari memburu berbagai pernak-pernik Natal.

1545633739237-DSC04105-copy

Semua outfit-ku sebisa mungkin Natal banget deh

HARI KE-3:
GAGAL ICE SKATING

Satu hal yang menurut aku “white Christmas” banget tuh budaya seluncur di atas permukaan es. Cuma ada satu masalah nih…hehe, aku enggak becus main ice skating! Bicara ice skate, aku jadi ingat traged tahun lalu, pas aku ngabisin liburan musim dingin di Moskow, Rusia.

Karena tekanan sosial, aku sok ikut teman-teman main ice skating di VDNKh rink yang ternyata paling besar se-Eropa. Saat itu, aku jadi satu-satunya manusia yang enggak bisa skating di sana. Niat belajar pun tumbuh mendadak, aku harus bisa. Iya, aku bisa sedikit-sedikit dan berhasil mengitari satu rink dengan puluhan kali jatuh dan lumayan fatal. Pantat, tulang ekor, punggung, dan kepala kena berulang kali. Ujung-ujungnya harus mampir fisioterapis di Jakarta.

Iklan

Dalam eksperimenku di hari ketiga, untuk kali pertama aku akan main ice skating lagi setelah insiden di Rusia tahun lalu. Mal Taman Anggrek di Jakarta Barat, yang punya skating ring paling tua di Indonesia, tentu wajib kusambangi. Aku sempat mikir "ah ice skating ring di Mal Taman Anggrek kan enggak gede-gede amat, pasti bisa!"

1545633855225-DSC04135-copy

Awalnya semangat, tapi setelah sama aja enggak becus kayak di Moskow, aku langsung patah semangat.

Ternyata… KAGAK COY! Kakiku kayak kram, otakku cuma mikir: "mampus, kejengkang nih gue!!!"

Antiklimaks deh. Ujung-ujungnya aku cuma ngerepotin fotografer VICE yang terpaksa aku tarik-tarik jaketnya, karena aku ketakutan banget. Malu sih, apalagi di sebelahku ada dedek yang kayaknya baru masuk SD tapi udah jago banget ice skating sampai muter-muter. Makin jiper.

Oiya, lagu wajib yang aku putar sepanjang ice skating memalukan itu. Apalagi kalau bukan "Let It Go" dari Demi Lovato?!

1545633924256-DSC04205-copy

Njir, bisa berdiri doang udah bangga gue.

HARI KE-4:
FOTO SAMA SINTERKLAS

Hari keempat aku udah mulai kehabisan ide apalagi hal yang harus aku lakukan untuk merayakan kelahiran Yesus selama 12 hari. Sebentar, cek to-do-list dulu. Oh iya, kan masih ada salju… hadiah… rusa… dan SINTERKLAS! Yang terakhir kayaknya lebih gampang dan murah. Di mana ya nyari sosok Sinterklas di Jakarta?

Sinterklas datang dari tempat-tempat dingin, dan tempat dingin di Jakarta itu cuma ada di mall. Sayang emang, karena Pak Santa tak pernah mampir ke Pasar Santa yang cuma sepelemparan batu dari kantor VICE Indonesia. Jadi, aku pun memburu Sinterklas yang ada di mal-mal seputaran Ibu Kota. Sip, berkat informasi kawan, aku ketemu satu di Jakarta Barat.

1545645770538-DSC04285-copy

Pak sinterklas mah kalem banget euy. Gemes…

Tapi, hmm, kok pak Santa versi Indonesia ini agak “melawan kodrat”? Maksudku, harusnya yang ngasih hadiah itu Sinterklas kan, lah ini Si Om Santa yang ngasih tarif biar kita bayar Rp125 ribu biar kita bisa berfoto sama mereka.

Ya sabar deh, namanya juga semua sudah takluk pada kapitalisme. Hohohoho…

1545634054299-DSC04290-copy

Si aa' profesional banget mengarahkanku berpose sama Sinterklas

1545634126416-DSC04294-copy

Mayan lah. Harga yang harus kubayar adalah ongkos photoshop sama mamangnya.

HARI KE-5:
MENJAJAL MAIN SALJU DI JAKARTA

Aku gagal mengalahkan rasa takut di arena ice skating. Aku tidak mau menyerah. Skating mungkin boleh gagal. Tapi rasanya aku tidak bisa sah meniru white Christmas yang indah, kalau belum menikmati salju. Di Jakarta yang suhu hariannya di bulan Desember ini bisa sampai 35 derajat Celcius ini mana ada salju??? Tiap hari aku pakai sweater natal dan beannie yang itu-itu saja, tersiksanya minta ampun. Agar petualangan white Christmas ini tak percuma, teman sekantorku memberi informasi berharga: ada wahana salju di Pondok Indah Mall lho. Siapapun bisa main salju di sana.

Aku kepikiran akan ada sebuah arena besar yang suhunya dingin, dengan salju yang turun dari langit. Dari brosurnya pun disebut akan ada kereta es seluncur. Wah white Christmas banget nih aku pikir.

Iklan

Pas datang langsung ke sana, ternyata kondisi arenanya lumayan menyedihkan.

1545647140733-DSC04499-copy

Surem bener

1545634263284-DSC04547-copy

Gue sendirian yang udah kepala dua di arena ini. Yang lain SD aja belon.

Kenapa? Karena enggak ada satupun orang dewasa yang masuk ke arena, semua diisi anak-anak kecil yang masuk ke dalam kotak sebesar kos-kosan 6x6 meter yang diisi oleh es serut. Es serut itu datang langsung dari sebuah pancuran mirip shower yang mengeluarkan es. Aku coba tidur di hamparan es itu sambil mencoba gaya snow angel yang hampir mustahil berhasil.

Iyalah, saking kecil wahananya, dan penuh banget sama anak kecil, aku harus melipat kakiku dan dikerubuti anak-anak yang sedang sibuk rebutan menadah salju dari pancuran di atas. Mau bagaimanapun ini kan upaya meniru white Christmas?! Nikmati saja sambil mendengarkan lagu-lagu natal di playlist Spotify-ku.

Hari itu juga aku sekalian mencoba kereta luncurnya. Enggak terlalu tinggi sih paling cuma dua meter dengan lintasan sepanjang belasan meter. Lagi-lagi aku main sama anak-anak, dan sialnya mereka jauh lebih pemberani daripada aku. Aku mencoba tiga kali meluncur dan tiga luncuran itu cukup bikin aku kaget. Ya kaget doang sih, nggak seru-seru amat. Cuma ya ini kan natal ya? Lagi-lagi, mantranya adalah: nikmati saja!

HARI KE-6:
MENYUSURI JALANAN JAKARTA-BANDUNG

Hari ini Sabtu, aku mesti ke Bandung dan tahukah kamu betapa macetnya Jakarta-Bandung di akhir pekan? Aku menghabiskan energi suasana natalku di kendaraan dalam kondisi tertidur. Jakarta-Bandung ditempuh selama hampir 8 jam satu arah membuatku hilang semangat sampai ke akar-akarnya.

Aku cuma meramaikan perjalanku dengan lagu-lagu sendu natal di Playlist macam Happy Xmas yang dinyanyikan John Lennon dan The Christmas Song-nya Nat King Cole, atau salah satu lagu rohani favoritku adalah Ave Maria yang dicover oleh Katie Boeck, lagu itu muncul di TV seri favoritku dulu, The Newsroom season 3 saat Will McAvoy menikah dengan Mackenzie McHale.

Sori kawan-kawan. Tidak banyak yang terjadi di hari ke-6 ini.

HARI KE-7:
MAINAN DEKORASI NATAL

Hari ini aku kembali jalan-jalan ke mal dengan harapan menemukan diskon-diskon natal seabrek. Kali ini aku pergi ke Gandaria City dengan penuh harapan, tapi ah nyatanya nggak ngaruh. Tulisan SALE di depan beberapa toko retail dan fast fashion itu sudah ada sejak pertama kali aku datang ke mall itu. Iya beberapa tahun lalu kali. Strategi mereka gitu-gitu aja, nggak baru juga. Aku pikir aku bakal terjebak di midnight sale kacau macam Black Friday nyatanya enggak…

Hari itu aku putuskan belanja perlengkapan dekorasi natal untuk meja kerjaku. Aku dapat pohon natal kecil untuk aku taruh di meja, beberapa hiasan pohon natal, dan lampu lilit 10 meter yang aku dapatkan dengan harga yang cukup wajar untuk ukuran mall. Not bad.

1545635936434-DSC04398-copy

Aku belanja pernak-pernik ke pasar dekat kantor.

1545634728908-DSC04636-copy

Hmm, harusnya sih ini Natal banget.

1545634769185-DSC04646-copy

Lucu ya, sekilas kayak di Moskow gitu. Eciyee, malah muji diri sendiri wkwkwk

HARI KE-8:
BIKIN KARTU NATAL

Yes, hari ini aku kembali berbelanja perlengkapan natal di Pasar Santa! Setelah aku pasang beberapa dekorasi natal di meja kerja ternyata masih kurang heboh juga. Ini adalah dekorasi natal pertamaku seumur hidup. Aku langsung bergegas menuju pasar Santa untuk memborong beberapa hiasan dekorasi yang dibutuhkan. Ternyata harganya nggak beda jauh dengan dekorasi Gandaria City.

Enggak cuma belanja lagi, aku sempat berpikir untuk membuat kartu natal yang kini udah nggak popular lagi. Aku coba mencari kartu natal di beberapa tempat tapi semuanya biasa aja. Apa aku harus bikin sendiri? Kayak gimana ya kartu natal yang jelas aku belum pernah membuatnya. Editorku yang biasa natalan di Amrik memberi saran bahwa biasanya kartu natal itu diisi dengan foto keluarga dan quote super bijak tentang natal.

Iklan

Oke, aku belum punya keluarga, kenapa aku enggak bikin keluargaku sendiri buat kartu natal? Aku tahu harus pergi ke mana, sobatku Ilyas, desainer grafis andalan kantor, pasti mau bantu.

1545634871986-DSC04715-copy

Kartu udah dicetak. Keren juga nih Ilyas walaupun ga dibayar. Mantab sob!

1545634927968-DSC04746-copy

Semua orang, termasuk bos, harus kuberi ucapan natal berbeda-beda

HARI KE-9:
NENGOKIN RUSA

Setelah semua bahan dan alat dekorasi natal siap, aku siap menghias. Nggak susah ternyata ya dan menyenangkan. Dekorasiku masih biasa banget sih, cuma ya nggak jelek-jelek amat lah buat pemula. Cuma sebagian barang yang aku beli sendiri, selebihnya aku pakai ulang dari bekas hadiah-hadiah dan hiasan lama. Nggak jelek-jelek amat ternyata.

Cuma, rasanya masih kurang deh kalau cuma bikin dekorasi natal. Ketemu Sinterklas sudah, tapi nggak ada rusanya… RUSA! Aku harus mencari rusa. Aku pikir suasana natal bakal kerasa banget kalau aku bertemu dengan rusa. Hari itu setelah bikin dekorasi natal aku pergi mencari rusa ke Kebun Binatang Ragunan.

1545635084097-DSC04476-copy

Rusanya tidak menarik kereta seluncur. Tapi mungkin mereka tahu rute ke Kutub Selatan, alih-alih Kutub Utara

Cuy, hari itu aku pergi dengan sweater musim dingin super tebal, dan suhu udara hari itu mencapai 33 Celcius. Belum lagi macet luar biasa dan belum makan. Ini bikin proses pertemuanku dengan rusa jauh lebih kerasa perjuangannya. Di Kebun Binatang Ragunan akhirnya aku bertemu juga sama binatang pembantu Sinterklas ini. Ada Rusa Jawa dan Rusa Tutul semuanya kecil-kecil dan menggemaskan, sayangnya aja mereka enggak bisa membawaku ke Kutub Utara buat melihat Santa asli yang demen memberi hadiah, bukannya minta bayaran buat foto sama dia. HHHH.

Oh iya, sebagian tatapan mata pengunjung bonbin ada yang mulai bertanya-tanya. Mereka mungkin tahu yang kulakukan ini delusional.

1545635261295-DSC04435-copy

Halo Rus, gimana kabarnya Pak Sinterklas asli sebelum kamu tinggal jadi buruh migran di Ragunan?

HARI KE-10:
BAGI-BAGI KARTU NATAL

Akhirnya kartu natalku yang dihiasi oleh fotoku sekeluarga jadi juga. Foto keluarga? Iya, itu fotoku sekeluarga. Satu keluarga tapi muka gue semua! Aku berniat memberikan itu ke semua teman-teman kantorku. Desain kartu ini sederhana banget warnanya dominan merah dengan quote bijak “Christmas isn’t a season. It’s a feeling”. Sebagai latar, foto keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan dua anak dan semuanya wajahku. Ini saatnya aku berkeliling ke teman-teman, untuk carolling atau menyanyikan lagu ke beberapa teman dan memberi mereka kartu natal.

1545648434723-DSC04673-copy

Ternyata banyak yang ngerasa serem amat kartu ini

Teman-teman sekantor punya bermacam respons aneh soal desain kartu natal ini. Aku hanya akan bilang, kartu natal ini adalah cerminan selflove buatku. I love myslef, so I married myself and reproduced more of myself. Hihihi….

Saatnya membagi kartu natalku untuk teman-teman. Ternyata banyak reaksi tak terduga seketika aku memberi mereka kartu natal dengan pesan personalized untuk masing-masing orang. Ada sih yang merasa terganggu dengan kehadiranku karena emang sih berisik, hehehe. Toh lebih banyak reaksi menyenangkan yang enggak pernah aku duga sebelumnya.

1545648495015-DSC04789-copy

Uwuwuwuwuwuw.

Ada yang tiba-tiba tertawa terbahak melihat kartu natalku yang lucu dan menggemaskan ini dan bilang “gue lagi sedih banget dan nyari cara gimana biar ketawa, dan baru ketawa sekarang”; ada juga beberapa orang yang enggak terlalu dekat denganku dan untuk pertama kalinya meminta "thank you, would you give me a hug?”, kujawab: "hell sure!"

1545649045967-DSC04808-copy

Cowok yang rapuh ini minta dipeluk. Pasti kukabulkan dong

Sebagian kawanku tiba-tiba menangis terharu, karena mengira aku akan segera pergi setelah liburan tahun baru nanti. Akhirnya ada juga orang yang sedih ya kalau aku pergi HEHEHE. Intinya, aku baru sadar ternyata kartu bergambar keluarga konyolku ini cukup berarti buat banyak orang.

Ini jelas bikin aku ingat akan adegan penutup yang cheesy tapi menyenangkan di film Love Actually.

But for now let me say
Without hope or agenda
Just because it’s Christmas
(And at Christmas you tell the truth)

HARI KE-11:
MENGHIAS KUE NATAL

Hari ini adalah dua hari jelang liburan kantor sampai awal Januari nanti. Waktunya menghias kue! Aku minta diajari langsung caranya membuat soft cookie dari kawanku Pun dan Almira yang saat ini punya bisnis soft cookie, Doux Cookie.

Konsep soft cookie di Indonesia masih belum banyak yang terbiasa sih, secara kita masih menganggap semua cookie di Indonesia adalah kue kering. Nah cookie yang soft merujuk ke referensi Ben’s Cookie di Inggris misalnya masih dikit banget. Inilah kenapa aku belajar langsung dari Pun dan Almira.

1545649191492-DSC04862-copy

Gini-gini, kalau menghias doang mah bisa gue.

Ternyata mereka membuat chocomint cookie spesial untuk perayaan natal. Aku emang enggak dapat kesempatan buat bikin cookienya, cuma aku sempat diajarin sedikit buat bikin icing kue natal rasa mint. Awalnya, aku mencoba bikin pohon natal yang malah berakhir jadi mirip bintang laut yang meleleh. Kebayang kan gimana jeleknya?

Malam harinya, aku diundang kawanku untuk datang ke rehearsal pertunjukan natal di GBI Keluarga Allah di Gedung Soho Capital, Jakarta Barat. Itu pertama kalinya aki melihat pertunjukan rehearsal malam natal dan ternyata buatku yang tidak paham konteks lagu dan tariannya, hari itu benar- benar mendamaikan serta menularkan kebahagiaannya buat semua orang.

HARI KE-12:
LIBURAN TELAH TIBA

Saat menuliskan paragraf ini adalah hari terakhir ngantor, hari terakhir aku melihat mejaku yang dihias berbagai pernak-pernik, sambil menyeruput segelas coklat dingin (minuman natal yang semestinya panas) karena Jakarta panasnya nggak ketulungan.

Malam ini aku akan ikut arus mudik menuju Bandung kemudian langsung hajar menuju Solo, kota yang tak pernah aku singgahi sama sekali.

1545649756208-DSC04850-copy

Persiapan sebelum ngebolang.

Semoga arus mudik menuju Bandung baik hati, dan enggak terjebak delapan jam lagi. Begitulah hasil eksperimenku. Kebanyakan sih gagal total, tapi namanya kebahagiaan pasti diukur dari hati. Jadi, aku sih merasa gembira bisa menjajal 12 hari ala-ala White Christmas (walau penuh kompromi di sana-sini) merayakan Natal yang penuh kasih. Semoga kalian semua juga berbahagia ya. Natal benar-benar menyenangkan kok, enggak cuma di lirik doang.

SELAMAT LIBURAN!