Shit Indonesian Says

Sahabat Sejati Tidak Akan Pernah Berani Minta 'Harga Teman'

Kebiasaan orang Indonesia tak malu-malu minta harga lebih murah sama kenalan, punya dampak buruk (dan sedikit hal positif) bagi bisnis kecil yang baru dirintis.
30.8.17
Foto ilustrasi oleh Bambang Noer Ramadhan.

Selamat datang kembali di kolom Shit Indonesian Say. VICE berusaha menelisik kebiasaan verbal orang-orang di Indonesia yang tumbuh subur, diinternalisasi, dimaklumi, sampai dianggap wajar dalam pergaulan sehari-hari. Padahal kata atau istilah itu bermasalah banget. Kali ini yang terlintas di pikiran kami adalah ucapan berikut: "Kasih harga temen bisa kan?"


Desainer grafis sekaligus animator Ratu Annisa punya pengalaman tak mengenakkan gara-gara perlakuan temannya. Beberapa tahun lalu, dia pernah diminta memberi "harga teman" buat satu logo rancangannya, yang sedianya dipakai clothing line milik teman dekat. Ratu bilang hasil karyanya tidak dihargai oleh teman sendiri. Kejadian macam ini bukan cuma sekali. Beberapa temannya yang menawar harga murah untuk pembuatan logo, tidak begitu paham bagaimana rumitnya mengerjakan branding suatu produk.

"Gue udah kasih harga murah, even gue bandingin ke teman yang ngasih 'harga temen' juga, masih lebih murah harga gue, tapi temen gue ini insist buat dimurahin sampai harga yang gue kasih sudah terlecehkan banget karena dia bilang masih mahal," kata Ratu ketika dihubungi VICE. "Gue beberin aja alasan kenapa branding engga murah, terus mereka diam."

Iklan

Fenomena "harga teman" kadung menggejala di Indonesia. Ketika kamu punya seorang teman yang sedang membuka usaha baik barang ataupun jasa, sudah biasa kalau akan ada satu dua orang kenalan minta potongan harga atau barang dan jasa gratisan, hanya karena kalian BERTEMAN!

Coba ingat-ingat deh, berapa kali kalian pura-pura pakai logat ngaco bahasa daerah tertentu cuma biar dapat potongan harga besar saat beli baju bekas di Pasar Senen atau Tanah Abang?

Istilah ini terus populer sampai terkadang bikin orang kesal, sehingga menumpahkan uneg-unegnya di medsos. Akun Twitter @rianawb menyindir istilah "harga temen" yang dibandingkan dengan istilah "NKRI harga mati".

Akun lain, @suppisoup merasa semestinya harga teman lebih mahal daripada harga reguler, karena menurutnya seorang teman seharusnya lebih memahami perjuangan kawan mereka yang merintis usaha.

Desainer pakaian sekaligus pemilik clothing label Andandika Surasetja, 28 tahun, mengaku cukup beruntung punya teman yang tidak memaksanya menjual produk dengan harga lebih murah. Dika merambah bisnis fashion dalam lima tahun terakhir dengan modal nyaris nol. Dika selalu ingat hampir seluruh pencapaiannya di awal karir dalam industri fashion didukung semangat DIY bersama teman-temannya.

"Kalau memang benar-benar mereka [sahabat], mereka enggak segan-segan merekomendasikan dan memperkenalkan gue ke orang lain. Jadi memperluas networking," ujar Dika, saat aku singgung soal bisnisnya. "Mereka justru ga akan pernah minta harga temen."

Iklan

Uniknya, Dika beberapa mengaku pernah sengaja memberi "harga teman" ketika masih berprofesi sebagai penata busana untuk komersial dan pemotretan majalah. Menurutnya, istilah "harga teman" bisa diberikan pada sobat, tentunya dengan syarat dan kondisi tertentu. Misalnya ketika seorang teman sejak awal terbuka menjelaskan terbatasnya dana yang dia miliki.

"Fair kalau emang sahabat gue dan gue tau kapasitasnya, harga temen tuh justru harga fair karena saling respect," ujar Dika. "Sayangnya orang suka menyalahgunakan. Berubah jadi eksploitasi karena justru jadi seenaknya."

Satu-satunya nilai positif dari memberi harga teman, menurut Dika, adalah efek pemasaran getok tular. Dia berharap kawannya akan memperkenalkannya dengan koneksi baru yang akan memperluas jaringan sebagai gantinya.

Sosiolog Nia Elvina berpendapat fenomena harga teman terkait dengan pola kemasyarakatan di Indonesia yang masih menganut sistem kekeluargaan. Menurut Nia, fenomena ini muncul di setiap daerah di Indonesia, terutama di pasar tradisionalnya. Ada istilah 'tali kawan' yang menandaskan makna bahwa transaksi ekonomi yang dilakukan tidak murni aspek bisnis.

"Saya kira karena nilai teman dalam masyarakat kita memang tinggi. Sehingga bukan bisnis murni yang terjadi," kata Nia ketika aku hubungi. "Nilai kekeluargaan memang masih hidup dalam masyarakat kita, transaksi [harga temen] yang terjadi bukan merupakan suatu problem masyarakat, malah sebagai alat 'pelumas' dalam hubungan ekonomi yang terjadi dalam masyarakat,"

Tanpa disadari, sistem kekeluargaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari fenomena bisnis masyarakat Indonesia. Sekesal-kesalnya kita pada teman, toh Dika dan Ratu tidak pernah sepenuhnya menolak memberi harga teman.

"Gue sering sih kalau orang yang memang deket banget sama gue dan tahu banget susahnya gue, pasti langsung gue murahin [kalau minta bantuan]," kata Ratu.

Intinya, bagi mereka, harga teman adalah bentuk penghargaan bagi teman yang bukan minta enaknya saja. Teman yang sama-sama ikut duduk, jatuh, bangun, jumpalitan, dan berkontribusi dalam bentuk apapun itu. Bukan mau minta diskonannya aja. Jadi, lain kali sebelum minta "harga teman", ingat-ingat dulu deh, kamu sudah ngelakuin apa aja ke temanmu itu.