Melajang

Indeks BPS Tak Akan Bikin Jomblo Bahagia, Selama Anak Muda Terus Dipaksa Menikah

Survei BPS memang memberi sedikit 'amunisi' bagi lajang di Indonesia untuk mempertahankan statusnya. Masalahnya yang bikin jomblo tidak bahagia selama ini ya tekanan sosial.
22.8.17
Illustration by Diedra Cavina.

Sobatku Rintang, baru pulang kampung dari Pacitan. Dia lantas mengajakku ngobrol soal kawan-kawan di kampung halamannya yang mengalami sindrom 'resah jika belum nikah'. "Masa, temen sekolah gue banyak banget yang sengaja hamil biar dinikahkan," ujarnya keheranan. "Sampai-sampai ada yah yang pura-pura hamil supaya segera dinikahkan, nikah tuh kayak jadi standar kebahagiaan."

Itu cerita Rintang yang keki melihat sobat-sobatnya. Lain lagi dengan Syahrini. Pesohor Indonesia berusia 35 yang sukses dan kaya raya ini memilih tetap melajang. Dia sempat mengunggah foto dengan caption yang menyatakan kebahagiaannya menjadi seorang jomblo.

Unggahan tersebut mendapat lebih dari 160 ribu likes dan 4.000-an komentar. Ternyata, jenis manusia yang bikin Rintang keki muncul juga di kolom komentar Instagram Syahrini. Mereka melontarkan seruan agar si selebritis itu cepat menikah. Contohnya akun irvan_maullana yang berujar, "nikah woy". Ada pula akun rskagustina berkomentar, "Ndaaang nikaah tanteee @princessyahrini .. inget umuur."

Ukuran kebahagiaan di negara ini nisbi diterjemahkan secara simplistik dalam bentuk pernikahan. Setelah sekolah, bekerja, apalagi jika bukan menikah dan beranak? Urutan itu seakan-akan menjadi konsensus kebahagiaan masyarakat kita. Tidak lazim, menurut sebagian orang, jika urutan tersebut diubah, ditunda, atau dihilangkan. Jika kamu berkukuh tak segera menikah, siapkanlah telingamu dari omongan miring kanan-kiri. Padahal faktanya, berubah status menjadi 'suami' dan 'istri' tidak serta-merta bikin kita bahagia. Setidaknya itu kesimpulan lembaga pemerintah.

Iklan

Pekan lalu Badan Pusat Statistik mengumumkan Indeks Kebahagiaan di Indonesia. Laporan ini segera menjadi perbincangan ramai di media massa. Anak muda di media sosial, baik yang jomblo maupun sudah menikah, segera membagikan berita seputar indeks kebahagiaan para lajang yang lebih tinggi daripada status perkawinan lainnya. Beberapa jomblo menemukan pembenaran statistik atas pilihan mereka tetap melajang.

Dalam laporan tersebut angka kebahagiaan Indonesia tahun ini sebesar 70.69. Cara membacanya didasarkan skala 0-100. Untuk 0 artinya paling tidak berbahagia, sementara kebalikannya adalah 100. BPS menggunakan metode yakni penambahan dimensi penyusun indeks kebahagiaan. Pada jajak pendapat 2014, pengukuran hanya mencakup dimensi kepuasan hidup, sehingga angka yang dicapai 68.28. Sedangkan tahun ini masuk pula Dimensi Perasaan (Affect) dan Dimensi Makna Hidup (Eudamonia), menghasilkan angka kebahagiaan rata-rata sebesar 69.51. Dimensi Kepuasan Hidup dalam hitungan 2017 masih dibagi menjadi dua lagi, yakni Kepuasan Hidup Personal dan Kepuasan Hidup Sosial. Lalu, setelah ditapis semua kategori, warga negara yang statusnya lajang memiliki skor kebahagiaan tertinggi, sebesar 71.53. Jomblo jauh lebih bahagia daripada warga yang sudah menikah (71.09). Sementara janda/duda yang ditinggal mati (68.37) lebih berbahagia daripada mereka yang bercerai (67.83).

"Perbedaan antara yang single dan yang sudah menikah sebetulnya tidak tajam. Namun memang [indeks kebahagiaan] lebih tinggi bagi yang belum menikah," kata Deputi Statistik Sosial, Sairi Hasbullah saat dihubungi VICE Indonesia. "Karena itu dia [individu belum menikah] mempersepsikan lebih puas dalam bidang-bidang tertentu yang menjadi indikator tersebut,"

Iklan

Sairi mengatakan bahwa individu yang belum menikah, dalam konteks ini kita sepakati sebut sebagai 'lajang', mempersepsi hidupnya lebih puas jika ditinjau dari segi pendapatan, pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan.

Indeks kebahagiaan kini menjadi indikator keberhasilan negara, mendampingi hitungan Produk Domestik Bruto (PDB) yang semata berpatok pada sektor ekonomi suatu negara. Di satu sisi adanya indeks kebahagiaan disambut positif karena tidak hanya mengedepankan kondisi ekonomi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Di sisi lain, ukuran kebahagiaan pun masih dinilai sesuatu yang problematik. Pasalnya indikator BPS untuk menentukan tingkat kepuasan warga negara ini masih sebatas hal-hal materialistik seperti pendapatan, pendidikan, pekerjaan, dan fasilitas rumah. Dimensi perasaan dan makna hidup, yang kini dimasukkan, masih terasa abstrak.

Memilih menjadi lajang dan bahagia sepertinya bukan pilihan populer di Indonesia. Label 'perawan tua' (tapi bahagia) seringkali dianggap nista. Buktinya, banyak beredar candaan yang terkesan mempermalukan lajang. Sebagai contoh, candaan khas Ridwan Kamil yang kerap menyudutkan si 'jomblo' dan memberi gambaran pernikahan indah dan harmonis

Kang Emil, sapaan si walikota Bandung, seringkali melontarkan guyonan yang mengejek jomblo lewat medsos. "Di Jerman, ada sebuah tradisi yang mengharuskan seseorang yang jomblo menyapu tangga di balai kota saat berulang tahun." Postingan Kang Emil itu masih ditambahi caption, "Setuju gak wahai warga Bandung? Solusi untuk Adipura".

Iklan

Sialnya, candaan tersebut dianggap lucu oleh banyak warganet. Jomblo-jomblo pun dibuat gelisah tak tahan ingin menikah. Akun eliarhp merespon, "Udh jomblo disuruh jadi babu lagi @bungardiana". Akun lainnya, ghelestiar merespon, "SIAP BESOK AKU LAMARAN OKE!! @marlianandda"

Sosiolog Universitas Indonesia, Nia Elvira menjelaskan berkeluarga dianggap sebagai epitomi kehidupan bermasyarakat untuk negara kita. "Jadi jika seseorang yang sudah dewasa belum menikah; dinilai oleh masyarakat tadi, belum mencapai kehidupan yang ideal," kata Nia kepada VICE Indonesia.

Nia menyampaikan bahwa pencapaian dalam bidang profesi atau pekerjaan dianggap masih belum memenuhi nilai kehidupan yang ideal. Ditambah lagi, nilai kehidupan ideal juga didukung oleh norma-norma agama dalam masyarakat. Bagi perempuan, beban pernikahan dinilai lebih berat, sehingga setinggi apapun pencapaian hidup, baik pendidikan dan karir tidak akan dipandang masyarakat jika belum memenuhi standar ideal perempuan: menikah dan punya anak.

"Masyarakat kita memang masih menganut konsep pembagian pekerjaan (devision of labour) dalam istilah sosiologinya. Nilai ideal perempuan dalam ranah domestik dan laki-laki pada ranah publik," ujar Nia. "Sehingga perempuan yang punya pencapaian di bidang profesinya dianggap belum lengkap. Pencapaian atau prestasi perempuan dianggap pada ranah domestik, menjadi Ibu dan Istri yang baik yang bisa mendukung karier Suami, dan mendidik anak-anaknya dengan baik."

Iklan

Karena itu, dengan atau tanpa survei BPS, masyarakat Indonesia selalu punya strategi peer pressure tersendiri untuk membuat hidup para lajang tak pernah nyaman. Contohnya adalah keberadaan akun instagram Gerakan Nikah Muda yang menawarkan angan-angan kebahagiaan pernikahan bagi para jomblo. Dengan 189 ribu pengikut, akun ini menawarkan narasi "anti-pacaran" dan "anti-zina".

Koordinator Komunikasi dan Advokasi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Frenia Nababan, kepada Magdalene pernah menuturkan betapa kampanye nikah muda sebetulnya tekanan kelompok sebaya yang tidak bertanggung jawab, tanpa mempertimbangkan bila setiap orang memiliki kesiapan materi maupun mental berbeda-beda memasuki jenjang pernikahan.

"Tidak semua bisa disamakan, ada yang memang di umur segitu sudah siap secara fisik mental dan materi, kan setiap orang berbeda," kata Frenia.

Menikah muda tanpa persiapan memadai, setelah kita bedah statistiknya lebih lanjut, ternyata cuma mendatangkan masalah baru. Data Kementerian Agama (Kemenag) untuk kurun 2010-2014 menunjukkan angka perceraian meningkat 52 persen. Dari angka itu, 70 persen diantaranya diajukan oleh pihak istri. Kepala Pusat Penelitian dan Pengenmbangan (Puslitbang) Kemenag, Muharam Marzuki membeberkan ada kecenderungan usia awal menikah semakin muda di negara ini. Dalam penelitian Tren Cerai Gugat Kalangan Masyarakat Muslim Indonesia yang dilakukan Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung, menunjukkan selama kurun 2010-2014, dari sekitar 2 juta pasangan mencatatkan perkawinannya di periode tersebut, 15 persen di antaranya bercerai. Penelitian itu mengambil sampel pasangan suami-istri yang maksimal berusia 25 tahun dan telah menikah setidaknya lima tahun. "Penelitian menunjukkan pasangan muda tak mengerti bahwa menikah berarti tanggung jawab terhadap sesama dan juga keluarga suami atau istri," kata Muharam saat dihubungi media lokal.

Enggak heran deh, bila akhirnya hasil hitungan BPS—dengan segala kekurangannya—menambah amunisi bagi para lajang untuk menghantam balik teman dan keluarga yang selalu memaksakan pandangan bila pernikahan merupakan kunci kebahagiaan hakiki.

Betul, banyak yang beruntung berbahagia dalam menjalani pernikahan. Tapi memaksakan argumentasi bahwa menikah adalah tujuan dan sumber kebahagiaan hidup satu-satunya yang mutlak bagi setiap orang itu pantasnya disebut… kutukupret kali ya. Selama para kutukupret ini mengganggu pilihan personal anak muda yang melajang, survei BPS pun belum sepenuhnya membahagiakan. Omong-omong, apakah kalian saat ini bahagia?