Sejarah Singkat Usaha Ideologi Fasisme Menginfiltrasi Punk dan Metal
Ilustrasi oleh Lia Kantrowitz.
Sejarah Singkat

Sejarah Singkat Usaha Ideologi Fasisme Menginfiltrasi Punk dan Metal

Sejak dekade 70'an, kaum fasis berusaha memaksakan ideologi mereka ke anak-anak punk dan metalhead, menutupinya dalam kedok “kebebasan berekspresi.”
22 Agustus 2017, 10:46am

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey Australia.

Penulis: Alexander Reid Ross

*Alexander Reid Ross adalah dosen di Portland State University, editor dari bunga rampai 'Grabbing Back: Essays Against the Global Land Grab,' sekaligus penulis buku 'Against the Fascist Creep' (AK Press). Bukunya menelusuri persebaran ideologi ekstremisme sayap kanan selama beberapa dekade terakhir, di seluruh dunia. Kajiannya menunjukkan bagaimana kelompok-kelompok neo-fasis ini secara sadar dan diam-diam menerapkan program menyusupi khalayak luas maupun pergerakan sosial kiri lewat musik.

Dampak protes kaum fasis di Unite the Right Rally Kota Charlottesville, AS dua pekan lalu membuat pergerakan anti-rasis dan anti-fasis semakin bersatu. Sekilas, kaum sayap kanan memang gagal total. Seorang neo-Nazi bernama James Alex Fields menabrakan mobilnya ke kerumunan demonstran anti-fasis, menewaskan satu aktivis, dan mencederai 19 lainnya.

Fields adalah bagian dari kelompok fasis Vanguard America, mengenakan seragam polo shirt putih, celana khaki, dan memasang emblem logo dua kapak bersilangan membentuk huruf X di bajunya. Kalau setiap fasis memakai seragam kayak gitu, pastilah kita akan mudah memahami fasisme dan siapa yang harus kita lawan. Masalahnya, persebaran dan aktivitas fasis biasanya tidak terang-terangan seperti ini. Usaha kaum fasis merekrut dan mempengaruhi orang lain biasanya terjadi di area abu-abu, khususnya dalam ruang-ruan subkultur anak muda. Misalnya di acara musik, pesta, atau forum online. Setelah kecaman publik AS akibat insiden Charlottesville, besar kemungkinan para aktivis fasisme bakal meninggalkan gerakan alt-right, atau tiarap masuk ke area-area budaya pop sejenak untuk mengumpulkan momentum.

Bagi mereka yang tinggal di Charlottesville, insiden 12 Agustus lalu membawa memori menyedihkan. Berita langsung menyebar tentang persekutuan kelompok kristen fundamentalis dengan gerakan alt-right. Lucunya, sebagian fasis tidak masuk dalam stereotipe tipikal pendukung supremasi kulit putih yang kita kenal selama ini. Pelaku penusukan bermotif rasial di Portland, contohnya, justru menyukai musik heavy metal, anarkisme, dan nihilisme.

Fields memberikan kita imej kaum fasis yang jelas. Dia sehari-hari tinggal di daerah pedesaan Midwest. Di Internet, dia siap membully siapapun yang dirasa lebih lemah, dan siap melakukan aksi kekerasan. Namun perlu diingat bahwa gerakan alt-right muncul atas usaha konsistem kaum fasis untuk memanipulasi berbagai kultur yang berbeda, mulai dari konservatif anti-intervensi hingga kaum kiri anti-imperialisme dan bahkan berbagai subkultur musik rock. Untuk bisa menghentikan kaum fasis berkembang, semua subkultur harus melawan bukan hanya mereka-mereka yang mengenakan polo shirt dan celana khaki, tapi juga mereka yang menggunakan ambiguitas sebagai pelindung dan menyusup ke dalam berbagai gerakan generasi muda.

Setelah kasus pembunuhan bermotif rasial 26 mei di Portland dan tragedi 12 Agustus di Charlottesville, kita semua kaum liberal demokratis harus memastikan punggawa alt-right tidak memiliki ruang aman untuk bersembunyi dan berorganisasi.

Metapolitics, Skinheads, dan Neofolk

Melihat foto-foto dan video dari aksi protes obor alt-light yang mengerikan di University of Virginia, terlihat bahwa berbagai macam estetika orang turut serta: mulai dari kumis dan potongan rambut ironis ala hipster, kaos band rock garis kanan hingga skinhead mengenakan merch Blood & Honour. Kaum alt-right berhasil menambahkan sektor-sektor baru ke dalam berbagai subkultur. Faktanya, subkultur metal dan punk justru sangat vital berperan terhadap perkembangan gerakan fasis modern.

Ketika kancah musik punk dan metal mulai muncul di 1970'an, mereka berhasil menangkap perasaan kaum pekerja yang dikhianati oleh sistem yang tidak mereka bisa kendalikan. Mengeksploitasi kondisi buruk ekonomi Inggris yang sedang dipimpin oleh Partai Buruh sayap-kiri saat itu, kaum fasis mulai membentuk partai politik yang dinamakan National Front, namun mereka menghadapi tantangan dari kaum kiri. Segerombolan anggota National Front setuju menggunakan pendekatan "metapolitik", menyusupi subkultur macam punk dan metal dan mengubahnya menjadi ladang pembiakkan fasisme. Pendekatan ini, diambil dari ideologi fasis yang disebut European New Right, nantinya akan menjadi fondasi bagi ideologi alt-right.

Mengambil inspirasi dari jaringan sel teroris "revolusioner nasional" yang distruktur seperti organisasi sayap kiri dan terinspirasi oleh jaringan fasis tersembunyi, Julius Evola, kelompok ini mendirikan Official National Front dan mulai merekrut skinhead fasis sebagai "tentara politik." Sosok pengantara mereka adalah Ian Stuart Donaldson, vokalis band Skrewdriver, yang muncul dari kancah punk Oi! Di 1976.

Ketika aktivis kiri mengorganisir konser tahunan Rock Against Racism untuk menciptakan gerakan akar rumput melawan National Front dan skinhead fasis, Donaldson menggelar acara tandingan bernama Rock Against Communism dan sebuah jaringan distribusi bernama Blood & Honour, yang masih aktif hingga hari ini.

Gerakan "Avant-Garde" Nasional-Bolshevik

Awal 1980'an, dua anggota dari band sayap kiri yang pernah bermain di Rock Against Racism pindah ke Jerman dan mulai meninggalkan ideologi kiri, dan bergabung dengan fasisme "posisi ketiga" (bukan kapitalisme atau juga komunisme, tapi sosialisme nasional). Mereka menciptakan semacam estetika fasisme avant-garde yang menarik orang-orang yang tidak menyukai kehadiran skinhead yang riuh.

Mengambil ide baik dari kiri dan kanan sambil mengadopsi ideologi "di luar" milik Evola, band baru mereka, Death In June, memproduksi sound monoton yang kelam dengan lirik suram bercerita tentang kehancuran peradaban manusia dan gairah untuk bangkit seperti burung phoenix. Tidak lama kemudian, Death In June dan rekan-rekan mengembangkan sebuah jaringan yang akrab menggunakan genre, "neofolk," yang secara tidak langsung terhubung dengan National Front, dan juga kelompok fasis seperti Islands of the North Atlantic (IONA) dan Transeuropa.

Apabila jaringan distribusi Blood & Honor milik Donaldson membantu menyebarkan ideologi Nazi dan National Front lewat gig skinhead dan pesta di seluruh dunia, band-band neofolk dan musisi eksperimental seperti Boyd Rice dan Michael Moynihan justru semakin mengeksplor aspek counter-cultural dari metapolitik dan masuk ke wilayah Satanisme, paganisme dan fasisme. Banyak musisi dunia yang yakin bahwa tidak ada ranah musik, kecuali "hate rock", yang bisa diambil alih secara ekslusif oleh kaum fasis, tapi nyatanya pertarungan ini berlangsung sengit dan kadang diwarnai kekerasan.

Di San Franciso, kancah skinhead fasis dan avant-garde bergabung dengan American Front, semakin menguatkan hubungan politik ke berbagai kelompok di luar AS, mulai dari Australia, Belgia, Kanada, hingga Spanyol, Perancis dan Inggris. Jaringan ini disebut sebagai "European Liberation Front." Banyak dari kelompok ini mengadopsi ide "nasional-Bolshevik". Intinya, mereka percaya dunia harusnya dikelola seperti Uni Soviet, tapi dalam bentuk federasi ultranasionalis. Ini merupakan bibit awal dari sindikasi fasis internasional yang nantinya akan dipengaruhi oleh sosok fasis Rusia, Alexander Dugin dengan filosofi "Eurasianist"nya. Keduanya diasosiasikan dengan gerakan alt-right.

Panitia European Liberation Front seperti Troy Southgate, mantan anggota Official National Front, berusaha mengeksploitasi ideologi anarkis yang dekat dengan ranah subkultur punk dan metal, termasuk kelompok-kelompok radikal otonom lainnya. Menamakan ideologi gabungan mereka "anarkisme-nasional," kaum fasis ini menerapkan strategi Trotskyist yang dikenal sebagai "entriisme," operasi memasuki subkultur yang bertujuan menghalau anggotanya berbalik melawan ideologi mereka sendiri, atau menghancurkan subkultur dari dalam. Nantinya, kaum fasis alt-right akan menerapkan ide-ide kekirian guna melawan kaum kiri sambil melindungi diri sementara mereka mengikis kecenderungan egalitarian dan anarkis dalam subkultur yang anarkis secara dangkal. Apabila kita menolak kaum fasis masuk ke subkultur, kita dapat memotong titik besar dari operasi mereka.

Black Metal Nazi

Lewat label musik seperti Resistance Records, Elegy Records, dan Unholy Records, perusahaan distribusi seperti Rouge et Noir, dan majalah seperti Requiem Gothique dan Napalm Rock, kaum fasis menggabungkan haterock dan neofolk dengan anarkisme dan nihilisme guna membawa ide dan tema mereka secara meyakinkan lewat counterculture yang ambigu secara politik. Tema yang dinyanyikan mencakup okultisme spiritual dan nihilisme (yaitu semuanya harus dihancurkan agar kehidupan nasionalis bisa memulai lembaran baru), termasuk asosiasi dengan ekologi lokal menggunakan semangat nasionalisme negara menggunakan elemen folk musik setempat.

Kaum fasis menjunjung mitos Aryan dan paganisme karena dianggap lebih dekat dengan akar Eropa—kecenderungan yang menjadi sangat jelas lewat dukungan mereka terhadap black metal Skandinavia. Dimulai sebagai reaksi terhadap hair metal yang glamor dan death metal yang berantakan selama dekade 1980'an, era awal black metal Skandinavia mengejar elemen brutalitas dalam musik, menekankan estetika darah, kekerasan dan ritual pengorbanan.

Seiring black metal menyebar ke AS dan beberapa kelompok berafiliasi dengan Blood & Honour, beberapa band menjadi semakin terbuka soal ideologi nasionalisme kulit putih mereka. Setelah pentolan Burzum, Varg Vikernes membunuh seorang anggota band rival, Michael Moynihan membantu menulis buku Lords of Chaos, membahas black metal dan satanisme, nantinya menjadi narasi utama kancah black metal. Banyak generasi muda yang tertarik dengan sifat black metal yang brutal dan mengerikan menemukan jalan masuk lewat sosok seorang "kafir anarko-fasis," menurut sarjana Mattias Gardell, semakin memperbesar jaringan internasional band-band dan penggemar National Socialist Black Metal (NSBM).

Tragedi Portland Adalah Peringatan Keras

Konsekuensi dari campuran antara paham fasisme dan anarkisme di subkultur bisa berakibat fatal. Di Mei 2010, kaum antifasis yang tengah berkampanye melawan jaringan skinhead fasis, Voksfront, kaget ketika seorang aktivis antifasis bernama Luke V. Querner ditembak oleh seorang fasis, dan jatuh cacat. Setelah penembakan tersebut, Rose City Antifa merilis sebuah pernyataan seputar dua band NSBM, Immortal Pride dan Fanisk dan memperingatkan, "ekosistem subkultur sedang diuji ideologinya, sebuah realita yang kita tidak bisa abaikan begitu saja."

Menurut komentar-komentar di portal berita indymedia, Immortal Pride yang memang terhubung dengan organisasi Volksfront justru dengan bangga mengakui paham fasisme mereka. Fanisk juga berargumen bahwa karya seni "transenden" mereka telah disalahpahami oleh kaum antifasis yang hanya mencari-cari kambing hitam. Usaha Fanisk untuk membelokkan tuduhan ini konsisten dengan usaha kaum fasis untuk menyelipkan ide mereka ke dalam tema-tema yang lebih umum seperti "hak untuk menjadi berbeda," yang tidak lebih dari bahasa lain untuk negara rasial ala aparteid, atau "secara bersamaan mendukung kekuatan semua ras, termasuk kulit putih."

Di tengah kontroversi dan kekacauan yang muncul akibat penembakan dan informasi yang beredar, seorang penggemar Immortal Pride bernama Tom Christensen secara diam-diam mengabarkan di Stormfront bahwa dia telah mengeksploitasi kancah musik punk dan black metal guna mengumpulkan informasi tentang kaum antifasis:

"Dulu saya bagian dari kancah musik punk dan ada beberapa orang yang memiliki paham antifasis dalam komunitas yang sama. Saya berteman dengan beberapa dari mereka...tapi saya menyimpan paham saya sendiri dan selalu melawan argumen yang mencoba menjatuhkan saya. Sangat berguna mengenal orang-orang ini. Sekarang saya tahu siapa tokoh-tokoh utama dari gerakan antifasis dan SHARP (Skinhead Against Racial Prejudice)."

Belakangan dia bertanya di message board Stormfront, apakah sebaiknya menyebutkan nama-nama rekannya yang anti-fasis. Identitas Christensen diungkap oleh Rose City Antifa dan dibuka lewat tulisan alert Mei 2013, setelah serangkaian anarkis dituntut oleh pengadilan daerah setempat. Ada spekulasi bahwa polisi mendapat bocoran informasi dari Christensen. Christensen juga mengaku sebagai "Trigger" Tom, menyiratkan bahwa mungkin dialah yang menembak Querner di 2010. Entah spekulasi-spekulasi di atas akurat atau tidak, posisi Christensen dalam subkultur radikal menyadarkan antifasis bahwa posisi mereka rentan. Pada tanggal 8 Agustus tahun ini, Christensen dibekuk polisi setelah menusuk seseorang di gig Rancid/Dropkick Murphys di Chicago.

Apakah Fasis Masih Punya Ruang Gerak?

Hingga hari ini, kelompok fasis menemukan rumah dengan cara berpindah-pindah dari satu grup fasis dan subkultur dengan paham politik ambigu ke yang lainnya. Paul Waggener, pemimpin kelompok fasis-bioregionalis garis keras, the Wolves of Vinland, yang memiliki wakil di berbagai daerah AS, berusaha menyebarkan paham etno-separatisnya lewat proyek neofolk dan black metal. Biarpun pemimpin WoV-cabang Portland, Jack Donovan menyebut dirinya sebagai "fasis-anarko" dan pernah menjadi pembicara di konferensi alt-right, usaha dari Rose City Antifa untuk menyingkap kelompok ini dan jaringan mereka justru mendapat perlawanan dari pendukung nihilisme.

Jeremy Christian mengungkap idenya untuk menciptakan tanah air khusus warga kulit putih di Pacific Northwest dan disebut "Vinland" istilah yang tidak hanya digunakan oleh WoV tapi juga grup fasis NSBM AS yang kini sudah tidak aktif, Heathen Front. Heathen Front dikepalai oleh sosok Nazi terkenal, James Mason yang karyanya diterbitkan oleh seorang "fasis-anarko" Michael Moynihan.

Campuran paham bioregionalisme, rasisme dan musik metal besutal Christian juga dipegang oleh pemimpin grup Nazi Northwest Front bernama Harold Covington, yang ikut merencanakan Pembantaian Greensboro 1979 dan menciptakan Combat 18, kelompok skinhead fasis Inggris berafiliasi dengan Blood & Honour. Saat ini berusaha memasuki gerakan bioregional Cascadia dan mengubahnya menjadi fasisme, Covington mengaku, "memang sepertinya Jeremy Christian adalah salah satu bagian dari kami." Beberapa kelompok nasionalis kulit putih yang serupa juga bisa ditemukan di sekitar pergerakan neo-Confederate di Selatan AS.

Kancah musik metal, punk, bioregionalisme dan banyak subkultur lainnya terus menjadi 'rumah' bagi mereka yang membutuhkan, tapi kerap menjadi picik dan defensif ketika dikritik pihak luar. Kepicikan ini menjadi jalan masuk bagi para kaum fasis yang mencoba masuk. Biarpun begitu, dari dalam subkultur kini semakin banyak perlawanan seiring banyak orang semakin menyadari bahaya dari fasisme yang mengancam.

Beberapa tahun terakhir, makin banyak protes penyelenggara konser, di luar venue yang membiarkan band-band metal dan neofolk fasis tampil. Contohnya protes anggota kancah punk terhadap terhadap Death in June bermunculan mulai dari Portland hingga South Florida. Segerombolan orang memprotes Graveland di Montreal. Satanic Warmaster harus memainkan konser rahasia di Glasgow. Sementara gig Blood and Sun dibatalkan di Midwest. Show Marduk juga dibatalkan di Oakland dan diprotes di Austin.

Dalam waktu bersamaan, band-band black metal antifasis seperti Ancst dan Dawn Ray'd semakin meningkat popularitasnya. Band-band ini menolak tegas seksisme dan rasisme, sama seperti semua manusia beradab di muka bumi.

Follow Alexander Reid Ross di Twitter.