Budaya

Situs Sukeban Mengubah Citra Geng Perempuan Berandalan Jepang

Erika Bowes dan Yuki Haze—duet pendiri platform online Sukeban—berambisi mengadopsi feminisme untuk semua etnis dan orientasi seksual lewat permainan visual memakai tema geng.
24.8.17
Semua foto dari arsip Sukeban

Artikel ini pertama kali tayang di i-D.

"Feminisme tak hanya milik perempuan. Feminisme tak cuma buat perempuan kulit putih. Fesyen juga harusnya menjadi feminis." begitulah bunyi manifesto Sukeban, sebuah platform online yang didedikasian untuk menampung hasil kreativitas para penulis, stylist, seniman, fotografer dan desainer yang berkolaborasi dengan bekerja sama dengan penekanan para perempuan non kaukasian.

Iklan

Terinspirasi warisan kebudayaan jepang, stylist Erika Bowes dan fotografer Yuki Haze memberi nama kolektif bentukan mereka menggunakan kata dalam bahasa Jepang yang berarti "gadis bengal," yang biasanya diberikan pada gang perempuan pemberontak di tahun 70an atau 80an yang tak bosan-bosannya mendobrak batasan menjadi perempuan di Jepang. Lantaran ingin menantang narasi feminisme yang melulu tentang perempuan kulit putih, kolektif ini membuka diri untuk siapapun, terlepas dari apapun warna kulit, orientasi seksual, gender dan kepercayaan mereka. Bowes dan Haze mendirikan kolektif ini baru Maret lalu guna menyebarkan intepretasi yang lebih universal tentang feminisme gelombang keempat.

Kami menemui keduanya—yang sedang sibuk menyipkan edisi kedua majalah buatan mereka—untuk ngobrol tentang percampuran ras, usaha menerobos industri kreatif serta mengapa feminisme tak harus jadi domain perempuan kulit putih doang.

Yuki Haze dan Erika Bowes

i-D: Ceritain dong, gimana cerita Sukeban didirikan dulu?
Erika Bowes: Yuki sama aku pertama ketemu di sebuah party di London. Tapi, kami baru bisa nongkrong bareng ketika sama-sama pulang ke Jepang untuk mengunjungi keluargakamu. Itu masa ketika kami enggak tahu harus ngapain dengan hidup kami. Aku sedang eneg dengan kuliah dan aku enggak tahu harus memilih karir kreatif macam apa. Setelah nongkrong dan ngobrol dengan Yuki di Tokyo, kami sadar posisi kami sama dan opini kami tentang dunia fesyen tak beda-beda amat—yang kami suka dan benci ternyata hampir sama. Lalu kami mulai ngobrol tentang ide untuk membentuk sebuah gerakan untuk kaum perempua, atau sbuah platform online untuk mendiskusikan serba-serbi menjadi perempuan muda kreatif yang berusaha menembus batasan industri kreatif. Tapi, ide mendirikan Sukeban baru benar-benar matang setelah kembali ke UK.

Kami mulai memberikan dukungan bagi talenta perempuan kreatif. Kami benar-benar ini memberikan mereka platform untuk menunjuukan karyanya dan bertemu perempuan-perempuan dengan berpikiran sama. Namun, menurut kami, penting sekali untuk memberi perempuan ini tempat untuk berkembang. Kami ingin membuat website yang menujukkan keragaman—baik dalam editorial dan materi tulisannya—daripada cuma ngobral janji doang.

Sejauh apa latar belakang etnis kalian mempengaruhi identitas masing-masing?
Warisan budaya ras campuran sangat penting bagi kami. Malah, sepertinya itu yang menyatukan kami berdua—kami sangat berbeda jauh tapi kami sangat tertarik tentang etnis kami dan bagaimana itu membentuk identitas kami.

Selama di Jepang, kami sering ngobrol tentang tentang bagaimana kami kerap merasa tersingkirkan saat tumbuh dewasa. Kami tak "putih-putih amat" dan lantaran kami anak ras campuran kami tak dianggap sebagai orang kulit berwarna, entah itu dulu pas masih kecil atau sampai kami dewasa sekarang. Identitas ras campuran bukanlah pengalaman atau masalah yang sering dibicarakan dalam skala besar—dan menjadi orang Asia ras campuran kadang adalah pengalaman aneh tersendiri. Aku bilang kadang karena pengalaman tiap orang berbeda. Bahkan pengalaman menyangkut etnis yang dialami kami bisa sangat berbeda dengan apa yang dialami saudara kami.

Iklan

Kami kerap dipuji-puji dan ditempatkan di posisi yang lebih tinggi di kawasan Asia—semua orang ingin punya tampang hafu. Caranya dengan mengecat rambut mereka dengan warna yang lebih menyala, menggunakan contact lense yang bukat atau malah sampai ada yang melakukan operasi kelopak mata. Di samping itu, kami juga dipaksakan masuk kategori "honorary white". Di saat yang sama, kami juga jadi bahan fetish. Ada kedunguan yang begitu kentara kalau mereka sudah ngomongin tentang "orang asia asli" dan "orang yang enggak asli asia."

Apakah gender bisa menentukan kualitas karya kreatif seseorang?
Gender adalah alat ukur yang sudah ketinggalan zaman untuk mengukur apapun. Lagi, kenapa gender harus membatasi seseorang dalam melakukan apapun yang dia mau? Atau membatasi kreativitas seseorang? Kami tak ini memarjinalisasi pengalaman kaum perempuan dengan berkata seperti—lagipula, majalah kami kan majalah feminis. Tapi, di dunia yang lebih ideal, kami harap gender tak lagi jadi penghalang. Perempaun harus punya kemampuan untuk melakukan banyak-banyak hal hebat tanpa harus dibatasi atau didefinisikan oleh gender mereka.

Apakah dunia fesyen kontemporer sudah cukup feminis menurut kalian?
Akan sangat menarik jika fesyen jadi sangat feminis. Tapi, kan kenyataannya memang tidak. Dalam skala yang besar, ketertarikan dunia fesyen hanya terpaku pada apa yang bisa laris dijual dan guna mencari apa yang bisa dijual, dunia fesyen terus mengeksploitasi kegalauan—terutama pada kaum perempuan. Makanya, kami sangat menghargai para pelaku fesyen yang tak cuma sangat berbakat namun juga tak lelah terus mendobrak batasan-batasan dalam fesyen serta memerangi kedungunan yang masih lazim ditemukan di media populer. Dan orang seperti mereka ini ada banyak di luar sana.

Feminisme kini jadi topik budaya yang banyak dibahas terbuka. Sebelumnya tak pernah seperti ini. Menurut kalian, apa penyebabnya?
Orang mulai menyadari pentingnya isu ini. Belum lagi, generasi kami sangat mudah mengakses informasi karena bantuan internet. Mereka juga bisa merangkul yang lainnya dengan mudah, sesuatu yang dulu tak bisa kami lakukan. Sebenarnya, kita punya tekad dan dorongan untuk mendesak media untuk menyajikan apa yang kami ingin lihat di sana. Tapi, selain kita, korporasi besar juga mulai mencium kesempatan untuk mendapatkan banyak uang jika bisa menunggangi tren ini. Jadi, bisa dibilang mereka adalah saingan kita.

Apa pendapat kalian tentang feminisme sebagai tran belaka yang jadi keren didiskusikan akhir-akhir ini?
Banyak orang berangapan bahwa feminisme hanyalah sebuah tren yang mulai berubah menjadi pemanis bibir semata, bentuk superfisial dari apa yang diperjuangkan gerakan ini. Kami sih sejujurnya senang feminisme jadi tren karena dengan demikian feminisme akan tersebar luas. Terimakasih banget buat Yang Mulia Beyoncé. Gara-gara dirinya, seorang perempuan bisa mengaku "Gue feminis!" tanpa diledek teman-temanya. Dulu, ketika kami masih SMA, hal macam itu tak bisa kami lakukan. Feminisme bukan semacam kumpulan yang membagikan undangan keanggotaan selepas jam sekolah. Feminisme tak ekslusif seperti itu.

Proyek terbaru kalian saat ini apa?
Edisi kedua majalah Sukeban. Kami juga sedang berusaha mendirikan Sukeban Girls—semacam kemitraan untuk bidang fotografi dan styling.