Alasan Orang-Orang Nekat Tidak Cuci Tangan Usai Buang Air Kecil

“Saya tidak mau membuang-buang air dan listrik hanya karena habis pegang alat kelamin.”
15.5.18
Imagen via Flickr user YunHo LEE / CC0 1.0

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Spanyol

Centre for Disease Control and Prevention menganjurkan kita selalu cuci tangan setelah buang air kecil. Begitu juga dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang kerap mengadakan kampanye global untuk mengajak masyarakat mencuci tangan. Sedangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa setiap tahunnya rajin membuat ilustrasi kartun yang mencoba meyakinkan dunia bahwa penyakit bisa menyebar lewat alat kelamin dan air kencing.

Banyaknya peringatan ternyata tidak mampu meningkatkan kesadaran orang untuk mencuci tangannya. Masih ada saja yang malas melakukannya. Sebagai orang yang rajin cuci tangan, saya jadi penasaran dengan mereka yang terlalu santai. Kenapa mereka bisa begitu? Akhirnya, saya pun bertanya kepada beberapa orang untuk mengetahui alasan mereka.

Alba (30 Tahun)

“Untuk apa? Alat kelamin kita sudah bersih, kan? Perempuan juga tidak menyentuh vaginanya saat sedang kencing. Misalnya sedang di rumah, apa ada orang yang cuci tangan habis kencing? Saya rasa tidak ada. Mending juga cuci tangan setelah menyentuh benda di tempat umum yang pastinya penuh kotoran. Cuci tangan setelah kencing tuh tidak masuk akal.

Martín (28 Tahun)

“Saya biasanya cuci tangan sebelum kencing karena pekerjaan saya menyebabkan tangan kotor. Saya baru cuci tangan setelah kencing hanya kalau tangan kecipratan. Saya juga tidak lagi khawatir bakalan sakit setelah menyentuh alat kelamin.”

Cristina (22 Tahun)

“Mana ada sih orang yang cuci tangan setelah kencing kalau lagi di rumah? Aneh banget. Kulit alat kelamin kita tidak begitu terpapar dengan kuman, beda dari bagian tubuh kita lainnya. Makanya, saya yakin alat kelamin jauh lebih baik. Paling mereka cuci tangan karena sudah terpengaruh ajaran di sekolah dulu. Waktu paling tepat untuk cuci tangan itu sebelum makan dan tidur.”

Lucía (22 Tahun)

“Saya tidak sempat kalau harus cuci tangan setiap saat. Sadar tidak kalau kita terlalu sering membersihkan diri? Tidak baik bagi kulit kalau berlebihan. Orang mengira jadi steril itu baik, padahal sebenarnya tidak.”

Silvia (33 Tahun)

“Kencing itu beda dari BAB. Saya memang jarang sentuh pantat saat BAB, tapi saya cuci tangan setelahnya kalau sedang di luar. Saya baru tidak cuci tangan kalau sedang di rumah.”

Victor (27 Tahun)

“Saya agak jorok dan tidak cuci tangan setelah kencing. Sekarang masih jarang cuci tangan, tapi tidak separah dulu. Kadang saya juga cuci tangan kalau habis makan di restoran. Jujur saya tidak pernah mengguncangkan penis setelah kencing. Saya baru melakukannya kalau pacar saya marah kalau tidak melakukan.”

Antonio (23 Tahun)

“Saya sangat jarang cuci tangan. Saya baru melakukannya kalau sedang mabuk dan kencingnya berantakan. Tapi kalau sedang sadar, saya hanya menyentuh kulitnya. Jadi saya tidak cuci tangan karena masih bersih. Saya tidak mau membuang-buang air, sabun, tisu, dan listrik hanya karena habis pegang alat kelamin. Kuman lebih banyak tersebar saat berjabat tangan dengan orang lain. Saya memang tidak cuci tangan setelah kencing, tapi saya selalu melakukannya sebelum makan. Wajib hukumnya.”

Jordi (30 Tahun)

“Percaya atau tidak, orang rajin cuci tangan agar tidak dianggap aneh kalau tidak melakukannya. Pagi ini, saya habis buang air kecil di toilet umum dan rekan saya ada yang mencuci tangannya dengan perlahan setelah kencing. Saya ikut mencuci tangan dan mengeringkannya supaya dia tidak mengira saya jorok. Kita membuang-buang air, sabun dan tisu agar tidak dicap buruk.”

Sara (26 Tahun)

“Orang mencuci tangan karena sering melihatnya di film. Saya cuci tangan kalau orang lain melakukannya. Tujuannya untuk menghargai orang lain saja.”